Islam Apa Adanya dalam Novel Pemuja Oksigen

Posted: Agustus 7, 2010 in Kitabe Cak, pemikiran
Tag:

Sudah membaca novel ini? Ceritanya tentang seorang pemuda 22 tahun bernama Rimba Bonaventur yang secara tak sengaja masuk dalam pusaran masalah. Awalnya, motor butut Rimba yang knalpotnya naudzubillah min dzalik itu “dikerjai” oleh sekelompok ekstrimis pecinta lingkungan. Rimba membalas. Tapi balasan itu kebablasan. Hingga menyebabkannya terseret ke persoalan-persoalan yang lebih rumit.

Rimba lalu menyadari bahwa ini pasti lebih dari sekedar isu tentang bumi, lingkungan, atau pencemaran udara. Rimba curiga, kelompok pecinta lingkungan itu hanyalah pion. Ada the big bos di balik itu semua. Demikianlah, intrik demi intrik bergulir. Novel ini penuh dengan “jebakan” dan teka-teki yang ditebar pengarangnya. Mungkin ini adalah novel thriller.

Tapi, kenapa saya menghubungkannya dengan nilai-nilai religius? Novel ini memang tidak secara rigid dikategorikan sebagai novel religius. Lihat saja, nama-nama tokohnya kebanyakan nama-nama Jawa. Tentu sangat berbeda dengan gaya cerita-cerita novel Kang Abik dengan gaya Islam kearab-araban (atau malah kemesir-mesiran) terkadang tokoh dalam novel ini mereka berpikir jorok layaknya para pemuda lain di Surabaya (sebuah kota yang terkenal dengan bahasa Jawa kasarnya-ngoko), sementara tokoh wanitanya diceritakan tak satu pun yang mengenakan jilbab. Mereka adalah pemuda-pemuda biasa di puncak masa kematangan seksual dan baru menemukan jati diri mereka.

Saya tidak salah memberikan judul buat tulisan ini. Memang, Pemuja Oksigen adalah novel realis yang tokoh-tokohnya tampil manusiawi, bukan manusia sempurna, bukan manusia yang akhlaknya tanpa cela, bukan superman Islam. Tapi mereka berusaha untuk tetap di jalan nolao-nolai religiusitas, dalam hal ini Islam. Kita bisa melihat jejak-jejak religiusitas itu dalam pola pikir tokoh-tokoh di dalamnya.

Pemuja Oksigen kerap menonjolkan aspek kesalehan-ritual muslim, seperti taat waktu shalat, ucapan “assalamu’alaikum”, penolakan untuk berkhalwat, pembahasan tentang frasa “insya Allah”, dan lain sebagainya. Perhatikan juga percakapan ilmiah-qurani tentang eksistensi dabbah (makhluk melata) di luar bumi di bab 17.

“Lihat surat Asy-Syuura: 29, Nur,” ujar Rimba, seakan ingin membuktikan sesuatu.

Nur membuka halaman yang dimaksud.

Rimba langsung membacanya. “Bismillah. Bunyinya begini, ‘Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk melata yang Dia sebarkan pada keduanya.’ Perhatikan, sobat, makhluk melata itu terjemahan dari kata ‘dabbah’. Berdasarkan ayat itu, dabbah disebar Tuhan di bumi, juga di langit. Nah! Pertanyaan buat Rino, siapakah dabbah yang di langit itu?”

“Burung,” sambar Rino, “Atau meteor, matahari, bulan. Makhluk kan tidak harus hidup. Ada juga makhluk mati.”

Nur tergelak mendengar kengototan Rino.

“Tahu nggak, Rin,” sambung Rimba, “ternyata ayat-ayat lain menyebutkan apa yang disebar di langit dan di bumi ini dengan kata ‘man’ atau siapa, bukannya ‘ma’ atau apa. Ngerti to bedanya ‘siapa’ dan ‘apa’? Az-Zumar: 68, salah satu contoh ayatnya! Tolong Az-Zumar, Nur.”

“Ayat 68?” konfirm Nur. “Ini? Yang tertekuk halamannya ini? ‘Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah SIAPA-SIAPA yang ada di langit dan di bumi selain yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu.’”

Menarik, bukan? Eksistensi alam semesta diulas oleh pemuda-pemuda itu dengan berlandaskan Al-qur’an, kitabu laa rayba fiih. Kurang islami apa?

Yah, tapi sekalo lagi, jangan dibandingkan dengan Ayat-ayat Cinta atau sastra-sastra FLP (Forum Lingkar Pena) yang sejak awal dikonsep menjadi novel “islami”. Tentu aroma islami Pemuja Oksigen tidak sewarna itu. Jauh!

Saya hanya melihat posisi Pemuja Oksigen sebagai jembatan antara idealisme gaya hidup Islam dengan fakta sosial bagaimana remaja metropolis tumbuh dan bergaul saat ini. Jembatan antara alam utopis dengan alam realis.

Bagaimanapun, Pemuja Oksigen adalah produk hiburan yang dituntun oleh alur teka-teki yang dialami para tokohnya, bukan dituntun oleh alur dakwah. Tidak ada tendensi untuk berkhutbah melalui mulut tokoh-tokohnya.

Novel ini lebih tepat menceritakan perjalanan seorang pemuda beragama Islam dengan kompleksitas kota Surabaya ditambah dengan istilah manusia fusi yang akan membuat kita mengernyitkan dahi dan setelah itu bilang, “Oh…… i see.”

Bagi saya, pemuda oksigen lebih mencerminkan berislam apa adanya. Berislam bukanlah dengan berbaju muslim dan segala aksesoris yang katanya Islami. Islam dalam novel Pemuja Oksigen lebih berupa Islam yang berdialektika dengan zamannya. atau setidaknya dalam bahasa Dahlan Iskan, “Menjalankan syaroat Islam dengan ketat untuk drinya sendiri ta[i tidak pernah mencela orang lain yang tidak sama. Sholat tapi tetap bergaul biasa dengan orang-orang yang memakai rok mini.”
(Sumber gambar diambil dari sini)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s