Sad Saturday? It’s a Simple

Posted: Agustus 9, 2010 in Awewe, Cangkruan, cinta, filsafat, Motivasi, pemikiran, Renungan, tasawuf
Tag:, , ,

Malam minggu gak punya pacar dan gak punya uang serta gak ada teman buat diajak keluar lalu bikin malam minggu bouring. Setidaknya, begitlah laporan deteksi Jawapos (31/07/2010) hari ini. Saya berpikir kenapa harus bersedih jika hanya tak punya pacar, gak punya uang dan gak ada teman buat keluar. Saya adalah orang yang seringkali mengalami gak punya pacar, gak punya uang dan gak ada teman buat diajak keluar pada malam minggu, tapi saya tidak mengalami sad Saturday atau bersedih hati atas hal itu. Mungkin saya termasuk anak rumahan dalam arti saya lebih sering berada di rumah saat malam minggu tiba. Yah, paling tidak itu berlaku saat kuliah dulu, saat menjadi aktifis mahasiswa. Karena sejak senin-jumat saya sering berada di luar rumah bahkan tak jarang menginap di kos teman atau di sekretariat BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Sehingga untuk menebusnya saya memilih akhir pecan untuk berada di rumah di saat adik-adik saya biasanya keluar dengan teman-temannya. It’s ok for me.

Kondisi tidak punya uang atau bahkan sengaja tidak membawa uang sering terjadi pada saya, tapi saat kaki ingin melangkah maka tak ada yang bisa menghentikan. Yah, memang harus saya akui, saya terkadang berjalan sendiri, bukan dalam makna majasi tapi dalam arti harfiah yaitu berjalan dengan kaki ke manapun hati menginginkan. Sebuah misal, saya suka berjalan kaki ke Ampel dari rumah saya yang jaraknya sekitar 4-5 km, dan seringkali pula dalam perjalanan, saya masih mampir ke Tunjungan Plaza melihat geliat anak muda menikmati malam minggu, kemudian melanjutkan melihat pemandangan di sekitar kalimas yang membelah Surabaya dan dipertemukan dengan Jembatan Merah. Di sana, sampai tulisan ini dibuat masih banyak gubuk-gubuk yang bahkan untuk dibuat berdiripun sulit, di kaki-kaki jembatan tak jarang para gelandangan melabuhkan mimpi-mimpinya. Hal ini pulalah yang kemudian hari mengasah kepekaan saya terhadap isu-isu kemiskinan kota. Baru setelah itu, kemudian melanjutkan ke makam Sunan Ampel, mencoba merenung di dalam masjid atau di area makam. Suasana yang terbangun seringkali seperti perjamuan malam dengan Sang Sunan. Entahlah, sampai saat ini saya masih suka berkontemplasi di area Ampel. Mungkin karena daya tarik resonansi spiritualnya atau karena memang sewaktu kecil saya hidup di perkampungan area Ampel atau malah mungkin kedua-duanya.

Karena saya sadar, bahwa hampir rata-rata orang di lingkungan saya dan bahkan lingkungan lain yang terbiasa dengan alat transportasi tak akan mampu mengikuti gaya saya bermalam mingguan, maka saya sering melakukan perjalanan sendiri. Agak mirip dengan malam-malam sendirian Jalaluddin Rumi saat merasakan isyq pada Allah. Cuma saya memilih berpikir tentang manusia dan kemanusiaan dibanding Rumi yang berkhalwat dengan Tuhan, walau terkadang saya menikmati betul melihat langit malam di jalanan Jl. Pahlawan.

Seringkali secara sengaja saya tidak membawa uang atau membawa uang tapi hanya seribu rupiah yang bahkan untuk naik angkutan kota pun tak cukup karena saat tulisan ini ditulis untuk naik angkot setidaknya harus menyediakan uang Rp. 2500.00. uang seribu rupiah saya bawa hanya untuk mendispensasi keinginan diri akan seteguk air saat dahaga menerjang. Makanya itu pula, saya hampir tak pernah mengajak teman untuk menemani gaya malam mingguan saya karena ia pasti akan kelelahan dan tak kuat melakukan perjalanan malam yang bagi saya adalah kenikmatan. Tercatat, saya melakukan perjalanan malam berjalan kaki dalam rute-rute panjang dengan teman-teman hanya dua kali dalam hidup saya. Pertama adalah saat mengelilingi kota Malang dan yang kedua adalah saat berkeliling di Surabaya pusat.

Tapi saya bersyukur. Karena hal-hal demikian lah, ketergantungan saya terhadao uang bisa saya minimalisir. Saya bisa bertahan berhari-hari hidup tanpa uang di kota besar nan modern tanpa harus mengurangi aktifitas saya (kecuali aktifitas belanja). Bahkan seringkali bernekad ria dalam melakukan petualangan. Semisal, saat ke Jakarta dengan memilih pesawat sebagai transportasinya, saya hanya membawa uang 500 ribu yang hanya cukup buat ongkos berangkat tanpa saya tahu setelah saya sampai di Jakarta nanti saya makan apa dan bagaimana cara saya kembali ke Surabaya. Tapi sejarah membuktikan saat saya pasrah seperti itu, pulang dari Jakarta saya malah membawa uang tidak kurang dari satu juta setengah. Anda tak akan bisa mencernanya dengan akal karena untuk urusan rejeki saya memang tak memakai hitung-hitungan akal. Saya selalu percaya, “wa ma min dabbatin fi ardhi illa ‘ala Allah rizquha- dan tidak ada satupun hewan melata di muka bumi ini kecuali atas Allah-lah rizkinya-” karena itu saya tidak pernah khawatir tentang urusan rizki, kepercayaan saya ini bukan berarti lantas saya tidak berusaha sama sekali, saya tetap berusaha tapi tidak menggantungkan rizki saya atas usaha saya. Usaha saya hanya sebatas melaksanakan perintah Allah, “Fantashiru fil ardhi wabtaghu min fadhlilllah– maka berpencarlah di permukaan bumi dan carilah keutamaan Allah-.“ yang penting saya sudah berusaha semampu dan sebaik yang bisa saya lakukan, hasilnya saya serahkan pada Allah, Tuhan pemilik dan pemelihara semesta alam.

Kemudian yang ketiga adalah teman. Ehm, saya suka berteman. Paling tidak di kampung saya, saya mungkin adalah pemuda dengan teman paling banyak. Semua pemuda kampung, baik yang selalu memegang tasbih ataupun yang memegang minuman keras semuanya adalah teman-teman saya. Tapi saya juga tidak bergantung pada mereka. Artinya, saya bisa berjalan dengan dan atau tanpa mereka. It’s still a simple thing for me. So, just enjoy it.

Jadi, sad Saturday dalam kamus saya hampir tidak ada. Yah, paling-paling, terkadang saya juga pengen saat malam minggu melihat para anak muda yang berboncengan mesra atau berjalan mesra di jalan-jalan Surabaya. Tapi kemudian saya merenung, dan ternyata kenikmatan saya jauh lebih tinggi secara kualitas dibanding mereka. Jika kenikmatan mereka adalah kenikmatan indrawi maka kenikmatan yang bisa saya rasakan adalah kenikmatan up-indrawi atau di atas indrawi. Hingga kemudian saya berpikir, sebenarnya kenikmatan dan kebahagiaan kita bukan lah terletak di luar sana tapi di dalam hati kita masing-masing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s