Atellasan (Berhari Raya): Madura View

Posted: September 8, 2010 in Cangkruan, filsafat, pemikiran, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

Semua agama memiliki hari-hari yang dirayakan, termasuk Idul Fitri bagi komunitas muslim Madura. Selebrasi religius yang biasa disebut Tellasan ini memiliki segi-segi yang menarik untuk dikaji terutama dalam relasinya dengan periskop kultural yang meliputinya. Minimal terdapat dua hal menarik yang dapat disimak dari perayaan Idul Fitri di Madura. Pertama, Idul Fitri bagi sebagian komunitas Madura merupakan hari raya besar atau biasa disebut Tellasan. Kedua, budaya mudik yang terus menjaga budaya dan etnisitas Madura perantauan.

Penisbahan Idul Fitri sebagai hari raya merupakan sebuah jawaban terhadap tudingan bahwa Islam Indonesia adalah Islam periferal yang non-otentik. Selama ini terdapat teori, bahwa Islam Indonesia yang dicerminkan oleh popular religion (agama rakyat) dari setiap etnisnya merupakan entitas yang jauh dari nilai kesahihan akibat intervensi sinkretisme. Anehnya, pendapat ini merupakan pendapat sama dari dua kutub yang selama ini saling bermusuhan yaitu Islam puritan dan sekaligus juga lawan wacananya yaitu para orientalis. Bagi kaum puritan, Islam Indonesia adalah Islam yang heterodoks, non kanonik serta labil karena faktor sinkretis. Bid’ah dan superstitious (takhayul) sering ditudingkan komunitas ini terhadap normativitas muslim Indonesia termasuk Madura. Sementara para orientalis seperti Geertz,Van Leur,Winstead dan juga London juga memberikan tudingan yang sama. Bagi mereka, semakin jauh domisili Islam dari sentral-sentral otoritasnya di Timur Tengah, semakin memberi peluang subordinannya Islam otentik. Islam Indonesia menurut Van Leur adalah Islam yang tereduksi karena merupakan lapisan tipis kultur lokal. Islam tidak membawa progresifitas apapun bagi Indonesia baik secara sosial maupun kultural karena faktor simbiosisnya dengan tradisi Hindu Budha (Nikki Keddie:1987). Sementara bagi Geertz, Islam Indonesia adalah Islam yang tercerai dari pusat ortodoksi di Mekkah dan Kairo. Bagi Geertz, banyak tradisi Islam Indonesia yang unislamic, Hinduistik dan nominal (Azyumardi Azra:1999). Geertz menolak asumsi bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang otentik. Ia tak lebih dari kontinuum religiositas Hinduisme,Budhisme dan animisme.

Pendapat para orientalis ini sebenarnya telah dimentahkan oleh perayaan kultural Tellasan Petra di Madura. Identifikasi bahwa kultur Islam Madura adalah Islam yang tidak terputus dari pusat otoritasnya di tanah Arab dapat terlacak dari persamaan perspesi orang Arab dengan sebagian orang Madura tentang Idul Fitri sebagai hasanah untuk kembali kepada keadaan fitri (bersih atau petra).

Tellasan sendiri merupakan manifestasi Islam kreatif Madura. Slametan maupun ter-ater sejatinya merupakan reformulasi apa yang disebut Richard Martin(1988) sebagai Islam esensialis atau apa yang disebut B.Malinoswki (1995) sebagai fungsionalisasi supernaturalisme. Islam esensial menurut Martin adalah Islam yang tidak dimandatkan secara tegas oleh Quran dan sunnah, namun secara luas diamalkan karena dijustifikasi secara substantif oleh Quran dan sunnah sendiri. Substansialisme slametan sendiri terdapat pada indigenisasi sedekah dalam persemaian domestik. Pada tataran ini fungsi sedekah untuk menolak bala sebagaimana universalitas teks hadits nabi diformalkan dalam domestikasi slametan. Dengan slametan diharapkan terjalin relasi horizontal antara Tuhan yang supranatural dengan manusia melalui ritual sedekah. Tuhan diharapkan ikut intervensi untuk menjaga keselamatan keluarga yang naik haji. Secara sosiologis, ritual slametan ini juga bertujuan demi survivenya kekerabatan antar berbagai keluarga. Ter-ater yang biasa dilakukan mengiringi slametan memiliki fungsi mirip dengan apa yang dikatakan Durkheim tentang “manifestasi penguatan solidaritas sosial antar partisipan melalui performa dan pengabdian”. Bagi orang Madura sendiri performa vertikal merupakan ikatan mutualistik yang tak terpisahkan.

Slametan dan ter-ater melakonkan apa yang disebut oleh Arnold Van Gennep sebagai rite de passage, sebuah koordinasi tradisi untuk menandai lahirnya sebuah status baru dalam hirarki masyarakat.

Dengan demikian periferalitas tellasan dan slametan yang berkutat di sekitar Idul Firi merupakan wujud kreatif Islam Madura yang tidak boleh dinilai sebagai perlawanan terhadap Islam otentik. Dia merupakan manifesto kreatif yang mengajarkan bahwa Islam Madura bukanlah tradisi pinggiran yang predestinatif. Islam Madura adalah Islam yang kreatif dalam menangkap teks Islam sebagai low tradition yang ramah lingkungan. Boleh dikata, Tradisi Islam Madura telah menghilangkan kebingungan besar (highly misleading) tentang bagaimana menginterpretasikan Islam kontemporer seperti yang melanda sejumlah kalangan akhir-akhir ini. Selamat Ber-tellasan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s