TKW Madura, Istri Harun al-Rashid dan Masjid

Posted: September 30, 2010 in Awewe, pemikiran, Pitakonan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , ,

Tersebutlah dahulu istri Harun al-Rashid, penguasa dinasti Abbasiyah sedang bertengkar dengan suaminya, pada puncak pertengkaran Harun berkata, “Keluarlah kamu dari kerajaanku dalam waktu sehari semalam”. Lah, masalahnya saat itu kekuasaan dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Harun al-Rashid membentang luas dari ufuk barat sampai ufuk timur, dari Maroko di sebelah barat hingga anak benua India di sebelah timur. dari Yaman di sebelah selatan hingga Mesopotamia di sebelah utara. Jadi bagaimanalah mungkin sang istri bisa pergi dari kerajaan Harun al-Rashid dalam waktu hanya sehari semalam.

Saat sore tiba, istri Harun al-Rashid hilang. Dan istanapun langsung geger. Pencarianpun langsung dilakukan mulai sekitar istana, hingga kota dan sekitarnya. Tapi ternyata tidak ketemu. Hingga sekelompok prajurit menemukannya berada di dalam sebuah masjid masih di kota Bagdad. Saat akan ditangkap oleh petugas tadi, istri Harun al-Rashid berkata, “Aku tidak berada di kerajaan Harun, suamiku. Tapi aku ada di kerajaan Allah, masjid”. Mendengar perkataan demikian, para tentara pun tak berani menangkap sang ratu dan memilih untuk melaporkannya pada Harun. Harun pun langsung paham dan memilih untuk menjemput sendiri istrinya.
Nah, para TKW Madura ilegal di Arab Saudi sepertinya juga mengerti akan hal ini. Jadi agar mereka tidak ditangkap dan dideportasi oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi yang dalam hal ini dilakukan oleh surthah (sejenis polisi atau Satpol PP) saat melakukan razia mereka akan lari menuju ke masjid. Jika sudah ada di dalam masjid, para surthah tadi dijamin tidak akan berani menangkap karena sudah diluar kewenangan kerajaan (karena sudah memasuki rumah Allah). Hal ini masih efektif dilakukan oleh para TKW kita di Arab Saudi hingga saat ini.

Hal berbeda kita dapati pada masjid-masjid kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta dan Surabaya. Saat shalat isya’ selesai, para ta’mir masjid akan menutup pintu masjid sehingga hamba Allah tidak dapat melakukan sujud, tahmid, tahlil dan sebagainya di dalam masjid secara nyaman. Yang disediakan hanyalah teras masjid yang biasanya tak layak karena tempat yang terlalu sempit, terlalu terbuka dari dunia luar dan terkadang terlalu bising sehingga membuat mereka yang ingin i’tikaf harus pulang dengan rasa kecewa. Mereka yang ingin sujud di dalamnya akhirnya harus menundukkan kepala dan membuang nafas berat.

Yang lebih menyedihkan adalah tulisan di masjid-masjid yang berbunyi “dilarang tidur di dalam masjid” sejenak saya termenung kemudian tersinggung, sejak kapan para takmir masjid itu punya wewenang untuk mengusir hamba Tuhan yang ingin tidur di dalam masjid “pengen kelonan sama Tuhan”, sejak kapan mandat itu diberikan. Wel geduel, pasti gak bisa menunjukkan. Padahal Tuhan dalam al-Qur’an surat al-baqarah ayat 114 yang artinya “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”apa mereka tidak takut terhadap ancaman Allah yang mereka akui sebagai Tuhan itu. Sudahlah, mereka hanya penjaga masjid bukan penguasa masjid. Seharusnya mereka melayani tamu Allah 24 jam, paling tidak jangan larang orang untuk bertafakur di dalam. Padahal tidur di dalam masjid lebih baik daripada tidur di dalam hotel. Atau jangan-jangan mereka sudah kong-kalikong dengan para pengusaha hotel agar setiap orang yang berpergian menginapnya di hotel dan bukannya di masjid. Padahal jika kita mau jujur, masjid pada zaman Rasul juga digunakan untuk tidur bagi para santri Nabi macam Abu Hurairah. Jika kepada Tuhan dilarang menghadap kemana lagi umat ini harus mengadu. Wallahu a’lam.

Iklan
Komentar
  1. MOYO berkata:

    Maaf untuk saat ini Masjid haram tidak efektif lg untuk dijadikan tempat menghindar dari Mobahis,jawazat, surthah karena mereka skrg dilingkungan masjid tetap menangkap para pendatang haram (ilegal).

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Oh iya tah. Wah wah mereka ternyata sudah belajar pada Polisi Indonesia, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s