Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Posted: Oktober 24, 2010 in Cangkruan, cinta, filsafat, Motivasi, pemikiran, Renungan
Tag:, , , ,

Ihsan MaulanaSeringkali gagal akan sesuatu hal membuat kita menyalahkan orang lain. Saat kita tak bisa menerima kegagalan kita, kita selalu saja menyalahkan orang lain sebagai pihak yang bertindak curang. Sedikit dari kita yang coba mau introspeksi diri ke dalam. Kira-kira apa yang kurang dari diri kita. Seringkali kita lakukan itu, siapapun kita. Manusia memang adalah makhluk yang penuh dengan alasan-alasan. Hal inilah yang kemudian oleh Edmund Husserl disebut sebagai motif atau oleh seniornya,Weber disebut sebagai the meaningfull construction. Ya, kita adalah makhluk yang penuh dengan alasan dan seringkali alasan inilah yang menjadi awal dan tujuan tindakan kita. Tindakan kita bukanlah tindakan nir makna, tindakan kita selalu berkelindan dengan alasan-alasan yang ada di dalam dan sekitar kita.

Manusia, ya manusia, masterpiece Tuhan ini memang penuh dengan keunikan, keindahan, rasa ingin tahu dan keegosian serta tak mau disalahkan disisi lain. Itulah manusia yang tak pernah bisa diungkap dengan sempurna oleh para ahli. Penyelidikan terhadap manusia membuat berbagai disiplin ilmu hadir. Tapi tak satupun yang bisa menjawab secara holistik apa dan bagaimana manusia.

Pernah seorang teman yang tersingkir dari pekerjaannya bercerita pada saya, bahwa ia menjadi korban kesewenang-wenangan bos-nya di kantor, tak sedikit pula yang bercerita bagaimana teman-teman sekerja yang membenci. ia selalu mengeluh dengan suasana yang ada dan intrik yang terjadi. Keresahannya terkadang melibihi mereka yang menganggur sekalipun. Jika mereka sudah mengeluh dan saya sarankan keluar dri pekerjaannya jika memang sudah tak nyaman lagi, mereka enggan karena mereka menganggap bahwa gaji mereka adalah rizki mereka, jika tak ada gaji maka tak ada rizki. Padahal seringkali juga saya tandaskan kepada orang-orang bahwa rizki mereka tidak sama dengan gaji mereka. Gaji adalah urusan bos mereka sedang rizki adalah urusan Tuhan. Seringkali pula saya suruh hitung berapa gaji mereka dan berapa pengeluaran mereka setiap bulan. Ternyata rata-rata mendapati bahwa pengeluarannya kadang tak masuk akal jika dibandingkan dengan gaji yang didapatnya. Nah, ini berarti bahwa gaji mereka tidak sama dengan rizki mereka. Gaji mungkin saja bagian dari rizki tapi tak bisa langsung disama dengankan. Mereka berdua adalah entitas yang berbeda. Akan tetapi saat mereka saya minta bertahan dan mengerjakan sebaik mungkin apa kewajiban mereka, mereka akan segera menjawab dengan “tapi”. Hingga terkadang harus saya skak dengan “tak ada tapi jika kau mau bertahan”.

Dunia tempat kita hidup bukanlah dunia yang semuanya harus berhasil. Sekali lagi tidak. Orang yang kita anggap berhasil dalam hidupnya sebenarnya mengalami banyak kegagalan dalam hidupnya sama dengan yang lainnya. Cuma bedanya mereka yang berhasil dan mereka yang pecundang adalah mereka tidak mau menyerah dengan hanya satu, dua, tiga, empat, lima dan kegagalan selanjutnya. Mereka menjadikan itu semua sebagai pelajaran untuk kemudian memodifikasi dan mengingat apa-apa saja yang gagal. Sedang para pecundang langsung menyerah saat mereka gagal.

Saya juga pernah menyalahkan sistem saat saya gagal mendapatkan beasiswa atau menyalahkan senior-senior yang selalu menjegal saya saat saya mendapatkan proyek, terutama dahulu saya sangat menyalahkan para senior yang menyerobot proyek P2SEM yang ada di depan mata. Tapi Tuhan pasti punya cerita dan punya alasannya sendiri. saat teman-teman yang mendapatkan P2SEM banyak meringkuk di penjara, saya langsung bersyukur. Bukan karena teman-teman meringkuk di penjara, tapi karena saya terselamatkan. Begitupun dengan beasiswa, jika tak berhasil sekarang tentulah Tuhan akan menunjukkan caranya kepada saya suatu saat jika waktunya tiba. Saya yakin hal itu dengan keyakinan haqqul yaqin. Jadi tidak sepantasnya saya menyalahkan orang lain akan kegagalan saya sebagaimana daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin atas kejatuhannya. Biarlah angin menjadi angin dan biarlah daun akan tetap jadi daun jika ia tak bisa memberi manfaat pada pohon lewat sintesa makanan maka biarkan sang daun yang jatuh akan menjadi pupuk lewat tanah dimana akar pohon menjadi tonggak. Tak usah kita menyalahkan orang lain karena biarlah kita menjadi diri kita sendiri dan mereka menjadi diri mereka. Takdir Tuhan tak akan pernah tertukar, kewajiban kita hanya berusaha sebaik mungkin, tapi kita tak wajib berhasil. Walllahu a’lam!.

Iklan
Komentar
  1. ijul akp berkata:

    camim??aja nglamun bae??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s