Catatan dari Jember (Kongres III Imaba)

Posted: November 5, 2010 in Cangkruan, Pitakonan, Renungan
Tag:,

Ketika digelar Seminar Nasional dan Munas Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (Imaba) se-Indonesia di Yogyakarta. Saya sangat senang walau ternyata yang tampak lebih menonjol ketika acara adalah HMJ Syari’ah-nya dibanding Imaba-nya. Entah saya harus bilang apa, Imaba Yogya yang bisa memanfaatkan nama HMJ dan Fakultas Syari’ah&Hukum UIN Yogya sehingga bisa memakai fasilitas kampus dan memakai jalur koneksitas kampus atau Imaba Yogya yang dimanfaatkan dan “dikudeta” oleh HMJ dan pihak fakultas sehingga yang terasa pada waktu acara adalah kedua institusi tersebut. Padahal saya sangat tahu bahwa yang bekerja adalah teman-teman Imaba Yogya. It’s oke!
Hal kedua yang menjadi agak menggelikan ternyata terjadi di Musyawarah Nasional-nya. Saya terkaget-kaget saat teman-teman Imaba Yogya dan Imaba Pusat saling melempar desain acara seperti dua orang yang saling melempar satu granat ke arah yang lainnya layaknya terjadi dalam fim-film konyol di televisi. It’s Ok. Paling tidak ada yang didapat dari pertemuan itu berupa 3 (tiga) rekomendasi bagi Imaba Pusat dan 6 (enam) pandangan Imaba wilayah-wilayah. Walaupun saat itu Zainul Fahmi, sang ketua umum Imaba yang tak bisa hadir ke acara berkata pada saya, “Jadi teman-teman jauh-jauh ke Yogyakarta hanya menghasilkan tiga rekomendasi itu?” yang saat itu saya jawab, “Untung bisa dapat dapat tiga rekomendasi daripada tidak sama sekali?! Yang paling penting dari pertemuan Imaba di Yogya selain 3 (tiga) rekomendasi adalah pandangan-pandangan wilayah itu.” Barulah kemudian Fahmi (demikian saya memanggilnya) manggut-manggut.

Tanggal 25 Oktober 2010, saya sms Fahmi, “Mi, ente berangkat ke Jember kapan?aku lagi mafi fulus nih….” Dari seberang ada jawaban, “Besok subuh, Bro.. bareng sama aku saja.” Kemudian aku balas, “Ok”. Malamnya saya bertemu dengan Bahauddin, anggota Imaba Surabaya, dia Tanya, “Pean di-sms Fahmi?”

“iya”, begitu jawabku.

“dia bilang kapan Kang?” Baha’ tanya lagi,

“katanya sih subuh.”

“dia juga bilang begitu ma aku, Kang.”

“tapi, Ha’. Subuhnya Fahmi itu kapan dan jam berapa?” Kataku kepada Baha’ setengah bercanda dan mencoba membongkar persepsi waktu subuh menurut Fahmi.

“hahahaha…”

“aktifis itu kan jam kantornya seringkali bermula jam 10. Lah kalau jam 10 dianggap subuh ya berarti kita jangan nunggu sejak ayam berkokok di saat fajar menyingsing.”

“hahaha, iya iya kang. Bisa alubuluh” Begitu jawab Baha’ terkekeh dengan tangan kiri memegang hp.

Sesekali kulihat hp Baha’ berbunyi tanda ada sms masuk, hingga ku goda dia,

“(dari) mahasiswi atau mahasiwi? hahaha”

“Hahaha, enggak kang. Dari teman” begitu jawab Baha’.

Wajar jika Baha’ menjadi perhatian para mahasiswinya karena ia memang masih muda dan terhitung cakep. Karena di pondok pun dia juga masuk golongan kaum amrod. Tapi saya tidak tahu apakah ia termasuk orang yang menjadi sasaran “tembak/muyah” para teman-teman santri yang libido-nya meluber. J
Pagi jam 6 tanggal 27 Oktober 2010, Fahmi menelpon saya, “Ayo San, berangkat.” Dalam keadaan setengah sadar karena masih tertidur setelah shalat, saya pun menjawab, “Oke, Mi. ketemu di mana?” dia jawab, “di IAIN (Supel Surabaya)”.

Saya pun bangun, dan sedikit tersenyum melihat Fahmi menelpon pagi-pagi. Ternyata saya salah tentang Fahmi, saya kira dia tak bisa bangun pagi, tapi ternyata sudah insaf dia, hehehe.
Bangsalsari Jember

Perjalanan ke Jember kami tempuh sekitar lima jam dengan perjalanan darat, menggunakan mobil Xenia milik Ervan, adik dari P. Mansur anggota dewan Kota Surabaya. Dan ternyata acara kongres tidak berada di UMJ (Universitas Muhammadiyah Jember) sebagaimana undangan yang saya dapat tetapi diletakkan di pesantren seorang teman alumni Bata-bata yang kami kenal Kiai Bro. hingga sekarang pun saya tak tahu nama aslinya siapa. Ya, begitulah di PP. Bata-bata, seringkali nama laqab jauh lebih dikenal dibanding nama asli. Sebut saja nama Mat Debo yang terkenal di kalangan santri pondok gedung Bata-bata, atau sareng Ra Tohir yang bernama “Bebek” atau seorang kebuleh yang sekarang berada di salah satu kementerian di Jakarta yang bernama Mat Petel. Saya tidak tahu nama aslinya. Termasuk saya sendiri di kelas misalnya dikenal dengan nama dokter hewan dan professor. Saya tidak tahu kenapa saya dipanggil demikian, bisa karena saya dianggap pintar tapi sangat berkemungkinan saya dipanggil begitu karena saya menggunakan kacamata min besar, jadi mirip professor atau dokter hewan. Jadi Ihsan jaman dulu mungkin lebih terlihat sebagai orang culun kutu buku (atau mungkin kutu kupret) dengan rambut disisir kepang (tapi tidak ngepang-Sebuah istilah yang diciptakan oleh sahabat saya Hamzah di PMII Tarbiyah untuk menyebut para playboy-). Kadang kalau melihat foto jaman MTs pun saya juga tertawa-tertawa sendiri. Baiklah kita kembali ke Mak Keh Bro yang kita sebut tadi, melihatnya tak menampakkan sama sekali bahwa ia adalah seorang kiai, lebih mirip orang yang bukan siapa-siapa. Ini juga menjadi pembelajaran bahwa kita tak boleh melihat dan menilai seseorang dari fisiknya saja. Adakalanya orang yang kita anggap rendah ternyata adalah orang yang mulia. Sering memang saya terkecoh dengan penampilan. Contoh misal, pernah suatu ketika di Bank BCA Cabang Darmo Surabaya, ada seorang berpenampilan dekil dengan sarung dan sandal yang jauh dari kata layak, dia membawa tas besar layaknya orang mau mengungsi. Saat itu saya terkaget-kaget karena ternyata isi tas-nya adalah uang dengan lembaran 50 dan 100 ribuan. Wow, saat itu diri saya langsung malu pada diri sendiri yang berpenampilan necis berjalan dengan angkuh hanya gara-gara membawa uang 10 jutaan dan itupun milik orang. Mak Keh Bro menyiratkan wajah kesederhanaan, kejujuran dan ketulusan apa adanya. Dan saya suka itu.

Back to story, begitulah kira-kira saya menyebutnya. Kami berasal dari pesantren dan sekarang kembali ke pesantren. Jadi seharusnya tak ada masalah. Belien (kembalian pondok), begitu celetuk salah seorang teman Imaba pada saya. Tapi terkadang memang mahasiswa itu sukanya mengadakan acara di gedung, di hall hotel atau hall kampus. Kata temanku, Dahlan, Ganding Sumenep “Lebih gaya”. Kalau ditaruh di pesantren kesannya malah gak seru. Begitu kritiknya. Tapi bagi saya tak jadi masalah karena di pesantrenlah kekuatan basis kami.

Sesampai di sana, sebenarnya bukan tempat yang membuat saya terkejut tapi keberadaan teman-teman Imaba Jember yang seakan-akan acuh tak acuh pada acara kongres dan masih harus dijemput oleh tuan rumah. Saya mencoba mafhum walau saya sebenarnya kecewa karena merasa datang jauh-jauh dari Surabaya ke Jember hanya untuk menghadiri kongres Imaba malah yang dari Jember sendiri akelarkaran. Saya saat itu mencoba diam, dan saat teman-teman Imaba Jember datang dan setelah kami acara pembukaan selesai. Seorang anggota Imaba Jember dengan entengnya berkata pada saya, “Nanti ada konser Iwan Fals, Kak. Jadi ada kemungkinan banyak anggota Imaba Jember yang tak bisa kembali pada malam harinya.”mendengar perkataan itu, jujur saja saya sebenarnya naik pitam, dan menanggapinya dengan berkata, “Jek ajek-gejek, Lek. Saya dari Surabaya ke sini bukan untuk melihat kalian nonton konser. Masak acara sekelas kongres Imaba kalian tinggalkan hanya demi sebuah konser musik.” Alasan yang tak masuk akal bagi saya yang datang dari 100-an km jauhnya untuk acara ini dan mereka yang berada di radius 1-2 km-an malah meninggalkan hanya demi acara konser. Unbelievable! Kalau mereka event organiser konser bersangkutan mungkin bisa saya pahami, tapi statusnya mereka di sana itu kan cuma penonton yang tak ada konstribusi pemikiran dan tenaga tidak dibutuhkan sedangkan mereka di sini diajak untuk sharing pikiran demi kemajuan organisasi. It’s so crazy!. Kemudian terdapat lagi seorang anggota Imaba Jember yang berkata, Duh, nanti saya punya kewajiban di Masjid. Jadi saya tidak bisa ikut sampai selesai.” Langsung saja saya semprot, “Sampean itu kewajiban ke masjid, saya membatalkan acara dan meninggalkan anak asuh saya di Surabaya hanya untuk kalian, bahkan hingga saya membatalkan semua jadwal acara saya yang di dalamnya saya dikontrak, hanya untuk datang ke kota kalian.”

Dan yang sangat miris, adalah saat kongres dipaksakan hingga malam hari karena mencoba mempersingkat waktu, para peserta sidangnya banyak “berguguran” hingga kadang tak sampai separuh dari seluruh peserta kongres yang ada dalam ruangan sidang. Jujur saya sedih. Tak beres! (begitu istilah teman-teman pesantren).Tapi tentu Imaba Jember dan Imaba Pusat, punya alasannya tersendiri atas hal ini. Seingat saya, dulu saat kongres II yang dihelat di Surabaya masih bisa dikatakan layak.

Tentu ini menjadi keprihatinan kita bersama, Imaba ternyata masih nothing!. Ada banyak kritik tentu yang akan muncul, mulai dari panitia pusat dan wilayah yang tidak siap, protokoler acara yang kacau dan seterusnya. Keinginan saya untuk sharing tentang falasafah gerakan dan rencana strategis Imaba ke depan tak kesampaian karena saya harus terjun jauh memikirkan jalannya kongres. Tapi ini adalah organisasi kita bersama, rasa khidmah terhadap pesantren menjadi salah satu alasan kita untuk bergabung di organisasi ini. Ada berkah di dalamnya yang tak ada di organisasi lain. Tapi saya percaya, kelak organisasi ini akan menjadi distributor gagasan dan sekaligus menjadi distributor kader yang akan mengisi banyak ruang. Nama Bata-bata terlalu besar jika hanya untuk dipermalukan oleh Imaba. Jika Imam Syafi’I besar karena para santrinya, saya berharap nama Bata-bata menjadi lebih digdaya karena peran serta kita. Wallahu a’lam!.

Iklan
Komentar
  1. Muhammad Haqiqi berkata:

    San, kapan sempat ke Banyuwangi ? Kamu bisa tulis tentang Watudodol, Pantai Bedul, Tukik di Grajagan, Pulau Merah, Pelabuhan Ketapang. Kamu bisa eksplorasi di Bumi Blambangan dengan tulisan-tulisanmu yang cukup apik.

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Insyaallah Ustad. Tapi kalau undangan dari jenengan untuk ngisi apa gitu tambah enak ustad. Jadi kesannya tidak sekedar jalan-jalan. hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s