Cino juga Orang Indonesia

Posted: November 8, 2010 in Cangkruan, cinta, filsafat, pemikiran, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , ,

Pagi ini, saya mencuci motorku di depan rumah. Saat itu ada seorang anak SD keturunan Tionghoa sedang menjemput temannya yang anak Madura. Tiba-tiba ada seorang anak Jawa yang lewat dan mengolok-olok anak keturunan Tionghoa itu dengan perkataan “Cino!” dengan nada penghinaan. Saya naik pitam gara-gara itu. Langsung saja saya bentak anak Jawa itu dengan berkata, “Heehh. Gak oleh ngomong koyok ngono iku!- tidak boleh ngomong seperti itu!-“ saya betul-betul langsung kehilangan selera mencuci motor gara-gara perkataan rasial itu. Bagi saya siapapun Anda, baik Anda Cina, Jawa, Madura, Bugis, Betawi, Melayu ataupun negro semuanya sama. Tak ada yang boleh memperlakukan berbeda apalagi menghina golongan lain hanya gara-gara dia berbeda dengan kita. Dan itu harga mati bagi saya. Beberapa waktu saya mencoba menguasai diri. Mencoba untuk tak memarahi lanjut anak yang mengolok-olk tadi sambil mencoba memahami kenapa anak tadi mengolok-olok si anak keturunan Tionghoa.

Pelan-pelan saya jadi teringat ketika masa SD dulu. Ketika SD, sebenarnya saya adalah anak baik-baik. Tapi suatu ketika saya diajak teman-teman ke Tunjungan Plaza (TP). Kami pergi ke mall terbesar di Surabaya itu bukan hendak berbelanja atau berjalan-jalan layaknya anak muda sekarang. Tapi kami ke sana untuk “mencari uang saku”. Loh, kok bisa? Iya saat itu kerjaan teman-temanku adalah ngompas (semacam meminta dengan paksa) anak-anak orang kaya yang berbelanja di TP. Saat itu saya mengemukakan syarat kepada teman-teman agar saya mau ikut. Saat itu saya bilang, “saya mau ikut ngompas jika yang menjadi sasaran adalah orang cina”. Jujur saya saat itu tidak mengerti mengapa saya berkata begitu. Yang saya tahu saat itu adalah orang cina itu bukan orang Indonesia, mereka terkenal kaya tapi di sisi lain mereka enggan bergaul dengan kebanyakan pribumi. Gara-gara itulah kemudian seorang Ihsan muda terwarisi perasaan dendam pada orang keturunan Tionghoa. Untungnya sejarah ngompas pertama kalinya itu ketahuan orang Jawa yang menjadi jongos (satpam) TP. Sehingga kami lari terbirit-birit hingga dikejar Polisi segala hingga akhirnya kami bisa lolos setelah melompat ke mobil pick up yang sedang lewat.

Alhamdulillah, pengalaman ngompas yang gagal itu membuatku berhenti, tak pernah ngompas lagi . ternyata yang memiliki sakit social itu bukan hanya saya, tapi juga kebanyakan orang pribumi. Terbukti bahwa pada tahun 1997 saat reformasi terjadi. Hamper semua toko milik orang Cina dijarah, mobil-mobil dirusak. Kontan, peristiwa ini membuat orang-orang menuliskan kata “pribumi” di toko dan mobil mereka. Tujuannya tidak ada lain selain agar harta mereka selamat. Saya juga masih ingat, bagaimana teman-teman menjarah Toko Gramedia di Jl. Kaliasin (sekarang berganti nama menjadi Jl. Basuki Rahmat). Walau kami tak tahu apakah Gramedia milik orang Cina atau tidak, tetap saja kami jarah. Pokoknya yang ada dalam pikiran kami saat itu adalah semua pemilik toko adalah orang Cina (anggapan ini hampir mencapai kebenaran jika melihat bahwa etnis Tionghoa yang hanya tak lebih dari 5% penduduk Indonesia itu menguasai lebih dari 70% ekonomi bangsa Indonesia). Masalah pemilik toko adalah orang pribumi, ya tinggal bilang saja, “Ups.. salah jarah.” Ekonomi Surabaya benar-benar lumpuh pada 1997.

Hal rasial lain dalam hidup saya yang sangat berpengaruh adalah saat saya menjadi sales Koran Jawapos. Saat itu saya sedang menawarkan Koran ke daerah perumahan elit di Darmo Satelit. Saat pelanggan belum dapat-dapat, tiba-tiba hujan deras turun, saat itu, saya, teman saya Mat Salwi, dan anjing pemilik rumah berteduh di depan gerbang rumah yang masih tersisa sedikit atap sehingga bisa berteduh walau itu masih berarti kaki kami harus basah terkena cipratan air hujan. Di tengah hujan yang deras itu kemudian pemilik rumah muncul dari dalam gerbang. Saya dan Mat Salwi langsung saja berharap si tuan rumah berbaik hati mempersilahkan kami masuk ke teras rumah untuk sekedar berteduh. Tapi harapan kami hilang saat ia bilang pada anjingnya untuk masuk dan setelah itu menutup pintu gerbang lagi. Saat itu teman saya, Mat Salwi berkata, “dan kita pun ternyata dianggap lebih hina daripada anjing!.” Kenyataan inilah yang kemudian membuat saya menjadi aktifis penentang kapitalisme, menolak neo-kolonialisme, dan menjadi seorang sosialis komunis. Saya tidak hanya saja bergabung dengan PMII yang akrab dengan tema-tema komunisme, tapi juga bergabung dalam gerakan bawah tanah “Lentera Merah” serta bergaul dengan berbagai kalangan serikat buruh di Surabaya.

Kondisi tersebut bertahan hingga saya sadar, bahwa hati saya tidak bahagia dan kemudian memilih menjalani jalan-jalan sunyi di tengah malam Surabaya. Marxisme tak lagi menarik bagi saya, saya lebih tertarik dengan filsafat taswuf al-Bistami dan al-Hallaj. Mendengarkan orang bicara terkadang seperti melihat televisi dengan volume nol. Hampa dan hambar. “Yang adalah tiada dan yang tiada itu ada”. Kemudian dibangunkan kembali oleh Jalaluddin Rumi dan Junaid al-Bagdadi. Tokoh inilah yang sangat berpengaruh pada konsep hidup dan egalitarian yang saya anut saat sekarang ini.

Jadi, setelah mengingat hal itu, saya pun reda. Saya tak lagi ingin memarahi anak tadi. Mungkin lebih baik ia disadarkan daripada dimarahi. Tidak semua orang Cina itu eksklusif, tidak semua orang Cina itu sombong. Saya pernah punya bos, dia seorang keturunan Tionghoa dan dia adalah salah satu bos terbaik yang pernah saya punya. Saya juga punya teman keturunan Tionghoa, ia juga orang yang sangat baik dan suka membantu. Cino juga orang Indonesia. Tak ada yang salah dengan menjadi seorang keturunan etnis Tionghoa. Walau orang Jawa juga banyak yang kejam, terutama mereka yang berada di pemerintahan dengan cara meminta upeti dan punya prilaku koruptif. Orang tidak akan menjadi mulia di mata Tuhan hanya karena dia etnis tertentu atau anak orang tertentu. Orang yang mulia adalah mereka yang bertakwa. Orang yang bertakwa itu adalah orang yang suka membantu sesama, mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan yang berbuat baik pada umat manusia dan alam semesta. Karena semua adalah satu dan satu adalah semua.

Iklan
Komentar
  1. franky berkata:

    bagus sekali artikel ini. semua manusia sama di mata Allah, kita semua tidak berbeda, orang jawa, batak, tionghoa, papua, india, dll asalkan mereka telah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia sambil menghormat pada sang merah putih, mereka adalah saudara kita

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Sepakat…….. Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s