Mahar Cinta Buat Tuhan

Posted: November 26, 2010 in Cangkruan, cinta, pemikiran
Tag:, ,

Sarah Obama, nenek Obama tahun ini diundang oleh Raja Arab Saudi berhaji di tanah suci. Hati saya langsung teringat kembali akan keinginan untuk berhaji. Kemudian di Koran Jawapos hari ini (26/11/2010) diceritakan bahwa keinginan si nenek bermula dari para gurunya yang pulang haji dan bercerita tentang Mekkah Madinah (mungkin mirip dengan para alumnus haji kita yang setiba dari tanah suci selalu bercerita tentang Mekkah dan Madinah serta semua hal yang dilakukan selama di sana) sehingga membuat ia sangat memimpikan bisa sampai dua kota suci itu. Sama dengan nenek Obama, aku juga sangat ingin pergi haji ke baitullah dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, berbeda dengan nenek Obama, aku ingin berhaji karena aku sangat merindukanNya dan merindukan NabiNya. Semacam ada rasa dalam hati yang menarik ragaku untuk segara ke sana. Ya, pergi haji memenuhi panggilanNya, ingin segera aku bisa berucap, “Sendiko dawuh, Gusti Pangeran. Saya datang memenuhi panggilanMu, wahai Tuhan The Only OneLabbaika Allahumma laka labbaik, la syarikala laka labbaik-“

Di sisi lain saya mendapati kenyataan tentang berhaji di Indonesia, negeri bermasyarakat muslim terbesar se dunia. Di negeri ini, jika kita mendaftar tahun 2010 maka kita baru bisa melaksanakan ibadah haji pada tahun 2018. Wow, lama sekali! Butuh delapan tahun kesabaran dan keikhlasan untuk menanti. Uang untuk biaya berhaji di negeri ini juga relatif tinggi untuk ukuran mayoritas masyarakat negeri yaitu sekitar Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah). Padahal uang di dompet kadang tak sampai Rp. 10.000 (sepuluh ribu) dan penghasilan kotor dalam sebulan saat tulisan ini dibuat baru berkisar Rp.1.500.000-Rp.2.000.000 yang untuk kondisi kota Surabaya kadang hanya cukup untuk buat makan dan hidup biasa-biasa saja. Jika kusisihkan per-bulannya 500 ribu maka setidaknya saya butuh sekitar 40 tahun lagi untuk bisa memenuhi rasa rindu ini dan mungkin saja saat itu aku sudah mati karena saat ini pun aku sudah berusia 27 tahun karena itu berarti aku baru bisa berangkat ke Rumah Allah dan tanah Nabi baru pada saat berumur 67 tahun. Mungkin aku bukan orang yang sesabar itu menyimpan kerinduan ini. Setiap tahun saat menyaksikan pelaksanaan ibadah haji dari media elektronik dan cetak, aku selalu menangis menahan kerinduan. Setiap kali orang bercerita tentang baitullah dan Nabi Muhammad SAW aku langsung teringat padanya. Hingga kadang hati ini berkata,” Tuhan, jika mereka (hambaMu yang lain) engkau ijinkan merengkuh dan bersimpuh di hadapanMu dan memeluk NabiMu, lalu bagaimana bisa engkau tak memanggilku ke rumahMu. Engkau tahu benar tentang kerinduanku padaMu, Engkau tahu benar tentang kerinduaku pada NabiMu. Lalu bagaimana mungkin Engkau tak memanggilku dan memperkenankanku untuk bersimpuh, menangis di hadapanMu dan berputar dalam putaran gasing dalam senandung tawaf di rumahMu” Perasaan ini sering datang setiap kali mengingat haji, seperti pagi ini saat Jawapos memberitakan nenek Obama yang pergi haji atas undangan Raja Arab Saudi.
Aku mungkin tak sesabar itu untuk menunggu, dan mungkin aku tak se kaya mereka untuk membayar haji pada tahun ini juga. Maka sungguh aku berpasrah padaMu. Bagaimanapun dan lewat apapun caranya, aku ingi pergi haji bersimpuh memelukMu, mencium satu-satunya tanda mata dari Mu di bumi ini dan tentu saja bertamu ke rumah NabiMu.

Andai pergi haji ke Mekkah tak harus mengurus visa dan ijin bepergian, mungkin aku akan menempuhnya lewat jalur darat, walaupun itu harus memakan beberapa bulan dalam perjalanannya. Tapi untuk kondisi sekarang, rasanya itu tidak akan pernah efektif karena skat-skat keduniaan yang dibuat oleh umat manusia. Aku tak menyalahkan karena itu juga demi kebaikan. Maka paling tidak aku harus mencari jalan lain yang mungkin bagi seorang Ihsan. Apakah lewat menjadi tenaga kerja musiman seperti yang diwartakan oleh Ra Faisol atau menjadi petugas haji seperti yang dikemukakan oleh seorang kolega. Yang pasti, Engkau tahu, wahai Tuhanku, bahwa aku benar-benar ingin pergi ke rumahMu.

Allah, persaksikanlah, hari ini aku akan membayar mahar untuk bisa memelukMu dan memeluk NabiMu. Membayar mahar dengan menyisihkan sebagian harta yang ku miliki sebagai tabungan haji. Dan persaksikanlah bahwa ini adalah tanda cinta dariku untukMu dan untuk NabiMu.

Iklan
Komentar
  1. rony berkata:

    berarti wes nabung gawe haji ta,cak?!

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Insyaallah, mohon doanya saja, Bos!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s