Perek itu Perez (Bag. II)

Posted: Desember 3, 2010 in Cangkruan, cinta, Fiqih, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , ,

Tadi malam (01 Desember 2010) saat jam menunjukkan pukul 10 malam, saya cangkruk dengan dua orang sahabat. Sebut saja namanya adalah Ram dan Ridho. Pertamakali, saya cangkruk bersama Ram dan saat itu Ridho belum datang. Ram curhat kepadaku tentang dua pacarnya yang sama-sama hamil. Yang pertama lambat menstruasi satu minggu dan yang kedua sudah hamil satu bulan. Dia pusing karena tak tahu harus berbuat apa. Disamping karena kedua pacarnya masih dalam masa pendidikan, ia juga tidak bisa berpikir dan tak pernah membayangkan bagaimana harus menikahi kedua-duanya. Beberapa saat kemudian, datanglah sms dari pacar pertamanya yang mengatakan bahwa ia baru saja minum Sprite empat kaleng yang dicampur dengan garam dan kontan langsung menstruasi, tapi menurut pengakuan si pacar, sakitnya melebihi menstruasi biasanya. “Kok bisa ya, San?” langsung ku jawab, “Sakit orang yang menggugurkan kandungan konon jauh lebih sakit dibanding melahirkan secara normal. Atau paling tidak pacar pertamamu itu merasakan sakit seperti sakitnya orang keguguran.” Begitu jelasku pada Ram. Tentu saja sepengetahuanku.
Kemudian Ram bercerita lebih lanjut, “Lalu bagaimana dengan pacar keduaku?”
“Emang kenapa dengan pacar keduamu?” tanyaku balik.
“Pacarku yang kedua sudah hamil satu bulan.”
“Terus, apa masalahnya?”
“Ya bagaimana dong ini?”
“Ya berani berbuat harus berani bertanggung jawab.” Lalu kulanjutkan, “Lalu bagaimana dengan pacar keduamu sendiri, apa ia siap menikah?”
“iya, dia siap. Dia malah tidak mau menggugurkan kandungannya.” Jelasa Ram sambil menerawang langit malam.
“Apa orang tuanya sudah tahu?” tanyaku setelah sesaat mengambil sebatang rook Marlboro Black Mentol milik Ram yang disodorkannya padaku.
“Belum, dia masih bingung bagaimana cara memberitahu ortunya karena ia takut diusir dari rumah.” Jelas Ram padaku.
“Ya harus dikasih tahu. Apapun resikonya! Semakin cepat semakin baik.”
Ram diam mencoba mencerna kata-kataku. Pada saat begitu temanku yang lain yang bernama Ridho datang. Kami adalah teman-teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Ridho sendiri adalah anak direktur cabang sebuah perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Beberapa kali bahkan saya harus mengontak mamanya agar proposalku bisa lolos di perusahaan yang dipimpin oleh papanya Ridho. Ram juga menceritakan apa yang dialaminya pada Ridho. Berbeda denganku, Ridho malah menyarankan gugurkan saja. Kalau perlu racuni saja pacar si Ram. “Kasih racun saja, Mas. Mas kan masih muda, yang hamil juga baru dua, kan belum 20 cewek yang hamil.” Begitu provokasi Ridho pada Ram.
“berarti masih kurang 18 cewek lagi ya?! Hehe” sahut Ram sambil tertawa lepas.
“Wah gila ni Ridho! Ram, anggap saja sekarang di depanmu ini ada pembisik dari malaikat dan satunya dari iblis. Saya malaikatnya, Ridho iblisnya, hehe.” Jelasku pada Ram dengan bergurau. Dengan harapan agar Ram tidak terpengaruh dengan perkataan si Ridho.
“Gugurkan saja Mas!” kata Ridho sambil melihat-lihat BB yang dipegangnya.
“Jangan, masak masih mau menambah dosa lagi!” begitu nasehatku pada Ram.
Ram jadi cengar-cengir sendiri, “Wes, bagaimana kalian berdua ini. Kok malah jadi ribut sendiri…”
“Kamu sendiri sekarang kerja apa, Ridho?”tanya Ram pada Ridho.
“Menjual teman alias jadi joki” jawab Ridho enteng. Yang dimaksud Ridho adalah menjual teman-teman perempuannya yang memang terkenal cantik-cantik dan dikenal sebagai cewek bispak (bisa dipakai). Julukan untuk orang yang jadi calo para perempuan itu biasa disebut sebagai Joki.
“Berapa tarifnya?” Tanya Ram.
“Antara empat sampai enam”
“Empat ratus sampai enam ratus ribu?” Ram mencoba memperjelas
Gak yo…. Empat juta sampai enam juta rupiah.” Jelas Ridho.
“Hah… mahal sekali Ridho.” Kata kami berdua hampir bersamaan.
“Ya iyalah..”
Saya langsung teringat kos teman yang hampir semua penghuninya adalah para purel atau yang biasa juga disebut bispak atau disebut Perex (perempuan exclusif). Di sana, satu kali main, kisaran harganya berkisar antara 500 hingga 1.5 juta. Lah, ini punya si Ridho malah lebih parah lagi alias lebih mahal.
“Itu untuk long time?” aku coba bertanya lebih lanjut.
“Di kita gak ada hitungan long time atau short time. Yang ku maksud tadi itu untuk hitungan antara empat hingga enam jam pakai.” Jelas Ridho lagi.
“Kalo misalnya kita panggil dan gak jadi?” tanyaku pada Ridho.
“Ya entar pean kena uang taxi 200 ribu. Buka pintu hotel langsung kena cas 50 ribu.” Terang Ridho lebih lengkap.
“Berapa komisi yang kamu dapat?” Tanya Ram.
“Antara 20%, Mas.” Jawab Ridho.
“Itu berapa?” Tanya Ram lagi.
“Ya tergantung.”
“Ya kalau 10 juta, berarti masuk ke si Ridho dua juta, Ram.” Jawabku memberi hitung-hitungan kongkrit.
“Wah kalau di hotelku itu terlalu mahal. Wong kadang, lima ratus ribu saja masih ditawar kok.” Terang Ram yang memang seorang supervisor hotel bintang tiga di Surabaya.
“Hahaha.” Saya dan Ridho tertawa melihat keterangan Ram. Memang bagi kami harga 500 ribu termasuk kelas bawah. Kisaran teman-temanku yang bispak saja berkisar di antara 700 ribu. Jadi dalam pandangan kami, pelacuran Dolly itu adalah pelacuran kelas bawah, kelas sopir truck dan orang ecek-ecek. Kalau cewek kota gak mungkin mau menghuni Dolly karena mereka tahu jalur pelacuran di Surabaya yang bisa bikin mereka idup mewah. Tarif satu jamnya di Dolly hanya 85-100 ribu itu sudah termasuk kamar eksekusi “belah duren”. Dipotong makelar 20 ribu dipotong pemilik wisma antara 30-40% sehingga para pelacur di sana menerima antara 30-40 ribu per jamnya atau dalam arti lain para pelacur di Dolly hampir mustahil bisa menjadi kaya kecuali jika mereka buka wisma sendiri.
Level teman-teman kami memang mereka para pelacur kelas elit, yang biasa diboking para bos-bos, baik bos-bos pengusaha maupun penguasa.
“Kamu mau pesan ta Mas?” Tanya Ridho menggoda Ram.
Gak ah, ku dah punya pacar. Kalau ada yang gratisan buat apa bayar/” jawab Ram diplomatis.
Aku tidak ditawari karena Ridho tahu bahwa saya penganut paham no sex before merried. Walau kadang sebagian teman curiga jangan-jangan saya adalah seorang gay, karena pertama tak mau berhubungan seksual dengan wanita (bahkan teman-teman pernah mengunciku dengan tiga perempuan bispak tapi bukannya “bermain” eh ternyata di dalam kamar aku malah berkhutbah tentang konsep mahkota duri dalam diri Kristus dan teologi kesederhanaan dalam Islam. Tema ini kupilih karena ketiga wanita tadi adalah penganut Kristen dan Islam. Hal itu ku lakukan karena aku yakin jika aku tidak menggunakan otakku maka mereka akan dengan mudah menggiring birahiku tapi jika ku setting untuk ku ajak berpikir maka mereka akan berpikir dan lupa dengan tujuan semula yaitu menjadikanku sebagai “mainan” mereka. Sekali lagi saat itu aku merasakan bahwa ilmu kembali menyelamatkanku) dan kedua mereka curiga aku seorang gay karena belum juga menikah. Padahal bukannya tak ingin menikah tapi belum ada yang cocok saja (biasa alasan klise para jomblower).
“Teman-temanmu juga punya “suami” dalam tanda kutip?” tanyaku pada Ridho.
“Iya, Mas. Tapi gitu anak-anak. Biasanya “suami” mereka gak cuma satu. Tapi tentu antara “suami” mereka tidak saling tahu bahwa mereka selingkuh atau punya suami-suami-an lain”
“Oh gitu ya?” komentarku singkat.
“Iya, lah wong uang itu banyak mengalirnya dari sana. Kalau gak gitu lalu untuk sewa apartemen dari siapa? Terus untuk biaya bensin mobil dari siapa? Terus untuk biaya shoping dari siapa?Ya dari “suami” mereka lah.”
“Kalau begitu. Ya gak bisa diakad nikah sirri orang-orang seperti mereka ini. Karena pernikahannya akan fasad atau rusak karena ada satu dan lain hal yang membuat fasad” gumanku dalam hati.
“Tapi alangkah lebih baiknya kamu juga memikirkan pekerjaan lain Ridho..” kataku pada Ridho.
“Kenapa? Ini lho aku menyenangkan orang. Temanku senang, pelanggannya juga senang.”
“Iya aku tahu itu, tapi para purel atau bispak atau apapun namanya, tidak akan pernah bisa kaya dengan jalan begitu. Kecuali mereka beralih menjadi “mami” bagi purel lainnya.”
“Iya mas, aku saja dikasih uang mamaku saja walau sedikit tapi aku merasa beda, sek iso rupo atau bertahan lama, tapi kalau uang dari begituan, kadang gak tahu mengalirnya kemana.”
“Lah itulah yang disebut sebagai keberkahan. Uang begituan itu tidak berkah.” Kataku lagi mencoba memprovokasi Ridho agar mencoba mencari alternatif penghasilan lain karena bagaimanapun Ridho masihlah temanku. Sehingga aku berkepentingan untuk menunjukkan masih ada jalan baik secara moral di dunia saat sekarang ini.
“Iya, mas. Kadang anak-anak tidak hanya kutawari begituan, tapi kadang juga kalau ada job nari juga ku ajak.”
“Nari apa?” Tanya Ram.
“Ya tari striptis, di nightclub-nightclub begitu.”
Pikirku menari jaipongan, eh malah tari striptis, ya hampir sama saja keharamannya. Tapi masih mendinglah dibanding langsung “begituan”. Bukankah dalam kaidah ada yang berbunyi idha ijtamatil haram, fa khud akhaffuhuma.- Jika ada dua hal yang buruk maka pilih yang lebih ringan-.”
“Baguslah, aku tidak akan melarangmu melakukan kegiatanmu itu. Tapi saranku, jangan jadikan pekerjaan “joki” yang kau jalani sebagai gantungan penghasilanmu. Carilah penghasilan lain yang lebih baik.”
“Iya Mas.. saya akan usahakan cari usaha yang lebih baik.”
“Ya sudah sana kamu makan dulu!” suruhku pada Ridho sambil menepuk pundaknya. Karena sedari tadi sebenarnya si Ridho membawa mangkok untuk membeli lontong mie yang terkenal enak di daerahku.
“Yo wes San aku tak mbalik disek. Aku males dijak arek ngombe.” Kata Ram sesaat setelah Ridho berangkat membeli lontong mie. Sedari tadi ia memang diajak minum minuman keras oleh teman-temannya yang lain. Tapi Ram beralasan masih ada urusan denganku. Kalau sudah bawa namaku maka anak-anak biasanya gak akan berani mengajak lebih jauh lagi.
Dunia, dunia…., semoga saja bisa lebih baik!. Mereka hanya korban. Korban lingkungan, korban keadaan dan korban budaya global berbasis empiris materialis.

Iklan
Komentar
  1. Ajiez berkata:

    Bang… kayaknya bakat Moeammar Emka (Jakarta Under Cover) dan Sofa Ihsan (In The Name of Sex: santri, dunia kelamin, dan kitab kuning) ada dalam diri kamu juga Bang. Kedua penulis itu juga jebolan podok pesantren dan juga hidup di dunia metropolitan, sama hal kayak bang Ihsan.
    Kembangkan…. 🙂

  2. Ihsan Maulana berkata:

    hehe thank you Jiez…. Ini cuma unek-unek saja. klo gak ditulis takutnya malah jadi kepikiran

  3. Ajiez berkata:

    Sippp dah kalo gitu…

  4. mochamad arief berkata:

    apa berhasil dengan minum sprire bisa menggugurkan bang?? Q juga lagi pusing sekali ini.

  5. ovysoemardi berkata:

    speechless, say no to drug n free sex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s