Monogami vs Poligami

Posted: Desember 13, 2010 in Awewe, Cangkruan, cinta, filsafat, Fiqih, pemikiran, Sosial Kemasyarakatan, Tafsir
Tag:, , ,

“Perintah Al-Qur’an itu awal kalinya adalah menikah dua!” begitu kata saya di main office Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) yang dipenuhi para ustadhah-ustadhah. Kontan saja ruangan menjadi riuh, para ustadhah-ustadhah tidak setuju bahkan ada yang bilang, “Saya benci Ustadz Ihsan!” begitu kata salah seorang ustadhah kepada saya. Tapi tidak demikian dengan para ustadz-ustadz, mereka menanggapi dengan senyum-senyum bahkan beberapa di antaranya bilang “betul-betul”. Saya kemukakan alasan saya secara syar’ie kenapa poligami itu halal dan diperbolehkan dalam Islam.

Di saat lain ketika saya berada di pesantren Madura, saat saya bertemu dengan para santri dan para kiai, saat para kiai dengan santainya bicara poligami, saya mewacanakan monogami dalam Islam. Saya katakan pada mereka dalil-dalil kenapa monogami harus dilakukan dalam Islam selayaknya dalil-dalil mereka yang menentang poligami. Saya katakan mulai dari kenyataan bahwa selama menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad tidak berpoligami, terus juga Ali bin Abi Thalib selama menikah dengan Fatimah juga tidak berpoligami hingga dalil bahwa tak mungkin seorang suami itu akan adil pada istri-istrinya padahal itu adalah syarat utama poligami. Maka dari itu, di pesantren saya dikenal sebagai seorang feminis dan cenderung pemberontak. Saya masih ingat ketika saya menulis “Lora Bodoh dan Santri Pintar” di Radar Madura. Tulisan yang gagasannya saya dapat dari seorang lora, putra kiai saya di Pamekasan, Madura itu membuat saya dipanggil oleh seorang kiai Bangkalan untuk mempertanggung jawabkan tulisan saya itu. Bahasa para kiai saat itu adalah “Kok begitu?Mungkin terlalu kasar!”. Tapi tak masalah, media sukanya judul-judul yang menohok. Banyak hal lain yang saya sebut sebagai “menembus batas tradisi” (sedikit meniru judul buku Nur Cholis Madjid) tapi itulah saya. Saat saya berada di kaum yang poligami itu adalah barang yang menjijikkan dan dianggap dosa saya tampil dengan ide poligami begitu pula sebaliknya saat orang sangat mengagungkan poligami dan cenderung menjadikan wanita sebagai kelas dua saya tampil dengan ide monogami. Tujuannya adalah menetralisir. Menetralisir kebencian kaum monogami yang cenderung menganggap poligami adalah barang menjijikkan dan begitu pula agar kaum poligami memahami ada kelompok yang tidak setuju terhadap tindakan mereka dan ada hati yang terluka serta agar lebih berhati-hati saat memutuskan untuk berpoligami.

Perdebatan Imajinatif

Berikut saya sertakan perdebatan imajinatif ide saya dengan ide lain yang juga ada pada diri saya sendiri. Untuk mempermudah, saya akan menyebut Helbeh bagi pendukung poligami dan Wahid bagi pendukung monogami.

“Poligami itu dianjurkan. Buktinya pilihan pertama dalam ayat fankihu ma thaba lakum minan nisa’i adalah mastna, dan bukan wahidah.” Begitu kata Helbeh.

“Oh tidak bisa seperti itu. Hal itu diungkapkan karena saat itu dalam budaya patriarkhi masyarakat Arab. Para lelaki-nya rata-rata mempunyai istri banyak. Bahkan diceritakan ada yang sampai 40 istri. Maka jika langsung kata satu yang disebut akan terjadi shock culture yang berbuntut merugikan Islam dan keengganan memeluk Islam.” Begitu sangkal Wahid.

al-awla afdal-yang disebut pertama kali itu lebih utama-. Mastna, tsulatsa, ruba’ disebut pertama kali dibanding kata wahidah karena menunjukkan keutamaannya.” Helbeh menyambung lagi, “ lagi pula kata wahidah itu di-qayyid-i di depannya dengan kata faillam ta’diluw-jika kalian tak bisa adil-. Maka sebenarnya mereka yang beristri satu itu adalah para penakut bin pengecut. Karena terjemah bebasnya adalah jika kamu takut untuk tidak bisa berbuat adil maka tidak masalah kamu menikah satu. Dan itupun, Wahid, menikah satu itu masih dikumpulkan lafal-nya dengan aw ma malakat aymanukum-atau budak perempuan yang kamu punya-. Gak gentle banget!” kata Helbeh provokatif.

“Oh, Anda tidak bisa berkata seperti itu. Perlu diketahui bahwa qayyid fa’illam ta’diluw itu adalah syarat bagi mereka yang ingin menikah lebih dari satu. Jadi syarat poligami adalah adil. Akan tetapi masalahnya, di tempat lain disebutkan, wa lan ta’dilu fi nisa’ikum-kalian gak akan pernah bisa adil atas para istri-istri kalian-. Maka dari itu karena syarat itu tidak bisa dipenuhi maka secara otomatis poligami batal demi hukum.” Begitu hujjah Wahid.

“Oh gak bisa. Hadis Nabi tersebut menandakan bahwa kita para laki-laki tak akan pernah bisa adil dalam membagi hati alias cinta. Sedangkan syarat adil yang dimaui dalam Islam adalah adil dalam bermalam, adil dalam memperlakukan dan adil dalam nafkah yang diberikan.” Begitu kata Helbeh sebagai sanggahan atas pendapat Wahid.

“Ingat tidak nasehat Nabi pada Ali bin Abi Thalib?” begitu tanya Wahid.

“Yang mana?” Helbeh coba mengira-ngira sambil mengambil rokok yang sedari tadi tak disentuhnya. Tak lama ia pun menyulut rokok filter yang tinggal tiga itu.

“Itu yang artinya adalah barang siapa yang menyakiti Fatimah maka sungguh ia telah menyakitiku. Dan itulah yang menjadi salah satu alasan Ali bin Abi Thalib kenapa ia tak mau berpoligami.” Wahid adalah seorang pria yang tidak merokok. Ia adalah pria yang sangat menjaga kesehatannya.

“Ehm, tapi itu tak bisa dipakai sebagai bahasa hukum.” Kata Helbeh mengguman.

“Kenapa tidak? Itu pertanda bahwa Nabi pun tak rela jika anak perempuannya disakiti hatinya bahkan oleh Ali yang selama ini disanjung kesalehan dan ketinggian ilmunya.” Wahid menolak pandangan Helbeh.

“Okelah, begini saja, Hid. Al-Qur’an jelas memperbolehkan poligami. Jadi jangan kau mengharamkan suatu hal yang diharamkan Nabi.” Secara tidak sadar Helbeh menurunkan kriteria poligaminya. Jika di awal pembicaraan dia mengatakan bahwa poligami dianjurkan maka sekarang sudah turun pada derajat boleh.

“Iya saya tahu itu. Tapi yang perlu Helbeh tahu bahwa al-Qur;an itu turun berdasar keadaan masyarakat pada waktu itu. Dan sekarang zaman kita sudah tidak sama dengan zaman dulu.” Begitu kata Wahid.

“Oh, wanita tetap saja wanita. Tak peduli kapan dan di mana.” Begitu menurut pandangan Helbeh.

“Oh tidak bisa begitu Helbeh. Sekarang wanita tidak bisa dikatakan kanca ing wingking alias teman di belakang tapi sudah menjadi sparing pathner laki-laki. Hunna libasul lakum wa antum libasul lahun

“Emang kamu penganut kesetaraan gender ya?” tanya Helbeh dengan dahi mengkerut.

“Iya, saya adalah penganut kesetaraan gender.” Jawab Wahid tegas.

“Wah, apa kamu tidak tahu bahwa arrijalu qawwamuna alan nisa’?” tanya Helbeh.

“lanjutkan lagi ayat itu. Di ayat itu disebutkan bima faddalallahu dan wa bima anfaqu.. jadi kalau tidak anfaqu ya gak qawwam lagi dong!”

“Ya terserah ente lah Hid. Kulluna ra’in wa kulluna mas’ulun ‘an ra’iyatina.” Helbeh pun langsung melepas senjata pemungkas saat Wahid selalu punya dalil untuk menentangnya. Sebenarnya bisa saja Helbeh meneruskannya dengan dalil-dalil yang lain tapi Helbeh juga yakin bahwa Wahid juga pasti punya dalil-dalil lain untuk mementahkan pendapatnya.

*
Dari perdebatan imajiner ini, saya tak akan menjustifikasi siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi jikapun terjebak pada pilihan poligami, maka selayaknyalah para pria mengindahkan kaidah-kaidah poiligami dalam Islam. Tapi jika ia merasa kasihan pada si istri dan bisa bertahan untuk melakukan monogami, saya kira itu adalah hal yan paling disukai oleh kebanyakan istri. Saya hanya menyajikan, Andalah yang memilih. Wallahu ‘a’lam.

Iklan
Komentar
  1. ngobrolislami berkata:

    KAWIN MUDA, POLIGAMI, DAN BANYAK ANAK
    Masyarakat di pedesaan banyak yang menikahkan anak perempuannya pada usia belasan tahun. Pada usia itu pula si cewek desa ini harus siap untuk menjadi ibu dengan anak yang tidak sedikit. Pembantu keluarga saya, menceritakan bahwa di desanya dahulu penduduknya tidak padat, namun sekarang penduduknya padat karena masyarakatnya memiliki banyak anak. Ada yang pake KB ada pula yang tidak pake. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang tidak jelek, mempunyai anak itu hukumnya sunah. So, kenapa jumlah penduduk harus di kurangi, kenapa kawin muda dilarang, kenapa pula poligami dipersulit. Justeru dengan kawin muda, poligami, dan banyak anak, akan menyebabkan pertumbuhan populasi umat Islam. Sekarang saja, diperkirakan jumlah umat Islam mencapai 26% dari keseluruhan populasi manusia. Artinya, setiap empat penduduk bumi, salah satunya adalah umat Islam.

    Poligami adalah sesuatu yang di syari’atkan.

    “maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. “ [TQS An Nisaa’ 4 : 3]

    Jika kita lihat di Indonesia, perbandingan jumlah pria dengan wanita kira kira 1 : 5. jadi jangan sampai ada wanita Muslimah yang jadi perawan tua. Solusinya ya poligami.

    Umat Islam banyak yang mati karena perang dan bencana alam. Umat Islam butuh regenerasi. Dalam keadaan perang baik itu perang saudara maupun perang melawan orang Ahlul Harbi, akan ada banyak laki laki Islam yang terbunuh, dengan demikian akan semakin banyak wanita yang menjadi janda, akan semakin mencolok perbandingan pria dengan wanita. Disinilah pentingnya poligami, agar dapat melahirkan generasi Islam dengan jumlah yang besar serta agar ada yang menanggung hidup para janda.

    3700 bayi telah terlahir antara 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009. Ketika Israel melakukan penyerangan yang menyebabkan meninggalnya 1412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak anak.

    Bulan Januari saja, terdaftar angka kelahiran tertinggi, dibanding bulan bulan sebelumnya. ”setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza, dan dalam satu bulan tercatat 3000 hingga 4000 kelahiran. Akan tetapi dimasa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1300 kelahiran. Yakni pada bulan Januari, terjadi peningkatan kelahiran hingga 1000 kasus.”

    Islam adalah agama yang pertumbuhan penduduknya paling tinggi. Berikut ini data statisticnya;

    ISLAM MERUPAKAN AGAMA DENGAN PERTUMBUHAN TERCEPAT DAN URUTAN KEDUA AGAMA TERBESAR DI DUNIA

    Muslim di Asia (1996)____________________1,022,692,000 (30%)
    Muslim di Afrika (1996)__________________ 426,282,000 (59%)
    Total Muslim di dunia (1996)______________ 1,482,596,925
    Total manusia di dunia (1996)______________5,771,939,007

    Persentase Muslim (1996)_________________26%
    Peningkatan Islam dalam persen (1994-1995)__6.40 %
    Peningkatan Christian dalam persen(1994-1995) 1.46%
    Total Muslim di dunia (1998)_______________ 1,678,442,000
    Prediksi jumlah Muslim di tahun (2000)______ 1,902,095,000

    PETA PENYEBARAN PERTUMBUHAN ISLAM

    Amerika Utara (1989-1998)_________________ 25%
    Afrika__________________________________ 2.15%
    Asia___________________________________ 12.57%
    Eropa__________________________________ 142.35%
    Amerika Latin____________________________ -4,73%
    Australia________________________________ 257.01%

    Dari empat orang di dunia ini, salah satunya adalah Muslim. Jumlah orang Islam telah meningkat 235% pada masa 50 tahun hingga mendekati 1.6 miliar.

    Perbandingan dengan agama lainnya;

    Islam meningkat_________235%
    Hindu__________________117%
    Buddha________________ 63%
    Kristen_________________47%

    Islam menduduki ranking ke dua agama terbesar di Perancis, Inggeris dan USA. (Muslim di USA 10juta dan Yahudi 6 juta)

    (Data diambil dari : The CIA World’s Facts Book)

  2. Pol I berkata:

    Hello there.. I am quite new to wordpress and I been doing some research to get some ideas. Your wordpress blog definitely has help me. Thank you for that!.. and not to mention I’vebookmarked your %BLOGTITLE% .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s