Gambar dan Koptasi Ideologi Pendidikan Kita

Posted: Februari 19, 2011 in Cangkruan, filsafat, pemikiran, pendidikan, Renungan
Tag:, ,

Beberapa saat yang lalu saya menjadi narasumber diklat epistemologi di sebuah perguruan tinggi negeri di Jember Jawa Timur. Iseng-iseng saya ingin melihat kira-kira file apa yang akan “dicetak” peserta diklat jika saya meminta mereka untuk menggambar. Ternyata dari 46 mahasiswa yang saya minta untuk menggambar pemandangan, 32 (69.5%) di antaranya menggambar gunung, 22 (48%) di antaranya yang 32 tadi menggambar dua gunung dalam gambarnya, sembilan (19%) lainnya menggambar gambar berunsur air terutama air laut, dan sisanya yaitu lima (10%) orang menggambar gambar lain.
Hal ini setidaknya menunjukkan satu hal bahwa mayoritas gambar yang mereka gambar ternyata tidak berdasarkan kenyataan yang ada yaitu dua gunung. Karena hampir tidak pernah ditemukan dua buah gunung yang berdiri sejajar di muka bumi ini paling tidak yang saya temui di Indonesia. Kebanyakan gunung berdiri tunggal atau berjajar dari beberapa banyak gunung atau bukit. Dari mana mereka mendapatkan file gambar tersebut. Jawaban pastinya setelah saya tanya adalah sekolah. Ya, sekolah menjadi penanam ide bahwa gambar pemandangan itu berarti menggambar dua buah gunung. Penanaman ide ini menurut pengakuan mereka terutama terjadi pada saat TK (Kindegarden) dan SD (elementary school) tingkat awal. Dalam kata lain, ternyata sekolah mewariskan penanaman ideologi pada anak didiknya berupa gambar dua gunung baik disadari atau tidak oleh si guru. Yang sangat mengenaskan adalah dari 46 mahasiswa tersebut saat saya minta menggambar rumah ternyata 45 (97.8%) orang di antaranya menggambar rumah persegi panjang dengan model atap segitiga memanjang. Sangat tampak sekali bahwa gambaran itu tidak berdasarkan kenyataan yang ada. Idea mereka diwariskan oleh guru yang dulu mengajari mereka bahwa menggambar rumah itu seperti itu.

Sekolah ternyata selain sebagai transfer of knowledge juga berfungsi sebagai transfer of ideology. Sebuah ideologi tentang tata ruang dan bangunan. Jangan-jangan pula, bahwa rumah-rumah sekarang yang seperti gambaran di atas didapat dari ide yang ditanamkan oleh para guru mereka. Karena rumah tradisional di Indonesa sebenarnya lebih ber-varian dan tidak hanya sekedar kotak panjang dengan dengan atap segitiga memanjang. Di Jawa Timur sendiri bentuk rumah tradisional misalnya banyak yang didominasi dengan atap tinggi dengan hiasan yang dipercaya sebagai penangkal petir di atasnya. Bentuk bangunannya pun biasanya juga masih dihiasi dengan tiang-tiang baik kotak maupun bulat, baik terbuat dari kayu ataupun adukan semen, batu dan pasir. Hal ini masih belum terhitung dengan rumah-rumah tradisional di banyak tempat di seluruh Indonesia yang sangat kaya dengan keanekaragaman. Lalu yang salah apa? Yang salah adalah pendidikan kita, pendidikan tak lagi menjadi media yang membebaskan orang untuk berkreasi malah memperbudak orang dalam idea-idea sempit dan terbatas. Murid dicetak berdasar apa yang diinginkan oleh guru.

Para mahasiswa yang seharusnya menjadi agent of change pun ternyata tidak bisa melepaskan belenggu itu bahkan dari diri mereka sendiri. Saya tidak bisa membayangkan jika suatu saat para mahasiswa tersebut kelak menjadi guru mereka juga akan mengajarkan hal itu. Tapi paling tidak dengan kesadaran lebih awal, saya berharap adanya sebuah kualitas pendidikan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s