Perempuan Tua di Senja Hari

Posted: Maret 2, 2011 in Cangkruan, filsafat, Pitakonan, Renungan

Saat itu, saya sedang ngopi di warung kopi yang hanya berjarak sekitar 100 m kea rah barat dari rumah. Sebuah warung kopi yang hanya diterangi lampu neon 10 watt pada malam hari dan dipayungi oleh pohon sejenis beringin yang berdiri pas di depan warung membuat warung menjadi rindang saat siang hari dan menjadi sejuk saat malam hari. Acara ngopi di senja hari ini sebagai qodho’an (pengganti) atas kenyataan tadi pagi yang belum ngopi akibat ada acara di kampus.

Dalam senja malam yang mulai total petang, dari kejauhan terlihat seorang perempuan berkerudung berjalan perlahan mendekati warung kopi dan segeralah tampak wajah sepuhnya dalam bilasan lampu warung kopi. Sesaat ia berhenti di depan warung kopi, wajah rentanya menampakkan keadaannya yang letih karena kehidupan panjang yang telah dilaluinya. Dalam katupan bibirnya terlihat sebuah tekad. Ia bertanya pada seseorang yang duduk di atas becak.
“Kaji dimana?” Tanya perempuan tua itu.

Sesaat pria muda yang ditanyanya tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh sang nenek. “Kaji?!” ulang si pemuda yang masih dalam posisi duduknya di atas becak mengernyitkan dahi. Saya yang ikut mendengarkan secara lamat-lamat juga ikut mengerutkan dahi. “Oh pengajian?! Kalau pengajian, itu nek di sana.” Si pemuda yang segera sadar dengan apa yang dimaksud si nenek langsung menunjuk sebuah terop dan sound system yang mengeluarkan suara nyanyian “reliji”.
Dengan sedikit terbungkuk karena menahan tubuh rentanya si nenek meneruskan langkah ke tempat yang ditunjuk. Sesaat saya terenyuh, seorang nenek renta rela menempuh perjalanan lebih dari 100 meter untuk hanya sekedar menghadiri pengajian. Bukan hanya terenyuh tapi juga sangat memprihatinkan karena saya sendiri yang dianggap tokoh muda agama malah memilih ngopi. Saya memang selama ini memilih berdiam diri di rumah jika tak diundang oleh oleh panitia pengajian. Mungkin ini terhitung salah dalam budaya desa yang agrarian dan lebih komunal. Tapi di masyarakat kota, kami terpisah, bukan saja dalam batas kelurahan tapi juga hingga ke batas RT. Saya sebenarnya menjadi tokoh bumper di tingkat RT. Disebut bumper karena jika Pak RT ada halangan pasti saya yang diminta datang, jika ada orang dewan atau pemerintahan maka saya yang biasanya diminta menemui.

Saya menjadi miris karena saya yang sering berada di podium pengajian malah hampir tidak pernah hadir dalam pengajian yang dihelat dalam teritorial RW. Ternyata secara tidak sadar saya telah menjadi egois atas agama. Saat nenek-nenek renta rela datang untuk mengambil pahala yang dijanjikan setiap menghadiri pengajian yang sering saya ceramahkan sendiri, saya malah memilih untuk cangkruk di warung kopi menikmati secangkir kopi susu ditemani Koran. Astagfirullah! Apa yang telah saya lakukan. Jangan-jangan selama ini saya berbicara tentang agama hanya untuk mencari penghidupan saja, jangan-jangan saya memakai serban di pundak dan peci di kepala hanya untuk kepentingan pasar (market)saja. Buktinya saat keluar dari podium dan berada dalam posisi sehari-hari saya malah kadang hanya memakai kaos lengan pendek dan bahkan celana selutut. Ya Allah, jika memang itu yang terjadi pada saya sungguh betapa berdosanya saya.
Tapi Tuhan pasti tahu kenapa saya memilih berpakaian ala kadarnya seperti ini. Memilih kaos atau baju lengan pendek setiap hari dan kadang lebih memilih memakai celana selutut saat sedang santai. Pertama, karena saya ingin tampil apa adanya layaknya masyarakat di lingkunganku. Rasanya senang bisa sama dengan orang-orang. Yang penting tidak melanggar syariah Islam. Perkara muru’ah dalam literasi orang-orang salaf yang banyak berbicara tentang pakaian saya kira harus dibicarakan ulang. Kedua, kondisi Surabaya yang panas membuat pakaian simple menjadi pilihan gaya berpakaian. Ketiga, saya berpendapat bahwa Islam tidak terletak di pakaian. Islam terletak di dalam hati. Islam yang ada di pakaian itu hanya kulit saja sedang Islam yang sejati ada di dalam hati. Saya percaya bahwa inilah Islam sesungguhnya. Bukannya saya penganut paham batiniyah. Sekali lagi tidak dan bukan. Saya tetap orang syariat yang memadukannya dengan tasawuf. Batasan dalam diri saya jelas dalam bersikap dan berpakaian, yang penting tidak haram. Ukuran haram itu mudah, sebuah perkara yang merugikan manusia dan atau melanggar hak-hak Tuhan itulah haram.

Lalu bagaimana saya menjelaskan kenapa saya selalu memakai serban dan peci di kepala saat naik podium dalam halaqah agama. Sekali lagi semoga ini bukan karena kepentingan pasar atau mempertontonkan wajah kemunafikan tapi karena ingin menghormati asas kepatutan berpakain sebagai seorang orator reliji saja dan pula sekalian diniati berserban dan berpeci karena meniru cara berpakaian Nabi yang memakai serban dan penutup kepala. Yah, walau tidak sama persis paling tidak ada niat ke sana lah. Jika tidak pakai, maka semoga asas ketaatan kepada Allah tetap terjaga. Sebagaimana kata Ahmad Zahro, seorang guru besar fiqih di IAIN Sunan Ampel Surabaya, “yang penting dalam akal sehat dan hati taat” atau dalam bahasa almarhum Prof. Syaikhul Hadi, “ billah, lillah, fillah”.

Tapi ada satu hal yang kadang sulit saya hilangkan yaitu kesombongan intelektual agama. Sering kali saya merasa bahwa apa yang dilontarkan di pengajian tersebut saya sudah tahu karena saya yang belajar agama sejak kecil dan hafal akan tema-tema dan cara muballig menjelaskannya. Paling tidak di Hari Besar Umat Islam (HBUI) setidaknya akan berkisar tentang tahun baru hijriyah, idul adha, idul fitri, Ramadhan, isra’ mi’raj, mauled Nabi, dst. Ayat dan hadisnya sudah jelas pasti yang itu-itu juga dan tafsirnya juga pasti yang itu-itu juga jadi kadang ada perasaan malas untuk menghadiri pengajian dan menganggap lebih menarik membaca Koran atau membaca al-Qur’an. Sebuah kesombongan intelektual agama yang semoga tidak berakhir dalam murka Allah dan kesombongan intelektual yang semoga dihilangkan dengan indah dan mudah oleh Allah. Dan saya berlindung kepada Allah atas segala kejahatan diri sendiri dan kejahatan setan yang membisiki.

Iklan
Komentar
  1. rony berkata:

    mmg, masalah ktinggia hati krn ktinggian intelektual susah dihindari. banyak dari kita yang tanpa sadar melakukannya, bahkan menganggap hal itu sudah wajar.
    namun, itu juga yang mnjerumuskan seorang ahli agama (wlw aq mnganggap ente belum sedemikan ahli di bidang agama) trperosok dalam “tempurung dunia ke-intelektual-annya sendiri”. seakan kita-lah yang paling tau akan hal-hal yang sudah sering kita dengar, kita omongkan, gembor-gemborkan tentang agama.
    menurutku, yang terpenting saat ini (saat kita merasa bahwa yang diomongkan itu-itu aja, dalil-dalilnya itu-itu aja) adalah bagaimana jika kita menjadi pembicara reliji mampu menciptakan pembahasan yang lebih fresh dan menarik minat para audiens dalam menangkap ide atau wacana yang sedang kita sampaikan, namun tetap sesuai dengan tema yang sedang di”peringati”…
    semoga hal ini mmbawa kbaikan bagi kita semua…. Amiiin.

  2. Ihsan Maulana berkata:

    Subhanallah, sepertinya saya harus terus belajar pada Mas Roni. Terima kasih atas pangaweruhnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s