Franky dan Kesadaran Diri

Posted: April 24, 2011 in Cangkruan, cinta, Motivasi, pemikiran, Sosial Kemasyarakatan, Tokoh
Tag:, ,

Dulu saya mengenalnya hanya sebagai penyanyi balada, dulu bagi saya ia tak lebih hanya sebagai seorang penyanyi layaknya penyanyi lain yang saya sukai, saat “perahu retak” diperdengarkan, saya baru saja masuk bangku kuliah. Saat itu saya mulai terlibat akan isu-isu sosial dan kegiatan-kegiatan populis. Layaknya para mahasiswa aktifis, saya pun juga menggelar demo, mulai dari demo yang main segel-segelan hingga demo tahlilan dalam rangka mendesak pemerintah untuk mengusut kematian Munir yang saat itu masih diberitakan meninggal karena mengidap penyakit jantung.

Tahun 2006, sebagaimana layaknya cara para aktifis Jatim lain cari makan, saya pun ikut bekerja dalam proyek pemberdayaan masyarakat milik Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Dulu sih inginnya menjadi idealis memberdayakan rakyat dan seterusnya, tapi rupanya saya hanya “berhasil” mempertahankan diri agar tidak asin di tengah-tengah air laut. Ternyata sistem yang korup belum bisa sama sekali saya lawan.

Saat saya mulai menjadi kaum yang sok elitis lokal, saya terkejut saat membaca berita bahwa Franky berada di Hongkong menjadi dirigen demo menentang pasar bebas yang diprakarsai negara-negara maju, ia juga menyanyikan lagu-lagu perlawanan di sana. Saat itu saya mulai malu pada Franky, saat di sini saya tidak berani turun ke jalan menentang ketidakadilan maka ia masih kekeh menentangnya. Diam-diam, rasa kagum lebih dari sekedar seorang penyanyi mulai tumbuh pada diri saya. Rasa kagum itu pula yang mengilhami saya untuk bertemu Franky di Masjid al-Akbar Surabaya di bulan Ramadhan. Bukan pertemuannya yang membekas, tapi pada bagaimana ia bersikap dengan sangat rendah hati dan berbaur dengan orang-orang pinggiran yang selama ini ada di lagunya. Ia tak rikuh untuk duduk di antara orang-orang biasa. Lesehan tanpa alas di halaman masjid yang jika tidak ada dia saya hampir tak pernah duduk di sana.

Berita-berita tentang Franky timbul tenggelam di media, tapi ada satu konsistensi yaitu pada pembelaannya pada masyarakat kecil dan penentangannya akan ketidakadilan. Inilah yang membuat saya malu jika hidup harus berjalan dengan hanya mencari uang, membeli barang, menikah, punya anak dan kemudian mati tanpa ada nilai yang diperjuangkan. Jika itu terjadi, mungkin itu adalah kegagalan hidup saya. Kegagalan untuk memberi makna pada hidup, kegagalan untuk membuat hidup yang memberi makna. Jika itu terjadi maka saya telah gagal menjadi manusia!

Selamat Jalan Franky! Terima kasih atas pelajaran dan semangatnya. Semoga dunia ini bisa menjadi lebih baik!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s