La Ilaha Illa Ana (Ekspresi Manunggaling Kawula Gusti)

Posted: Mei 14, 2011 in filsafat, pemikiran, tasawuf, Tokoh
Tag:, , , , ,

Aku tak sudi di perintah. Syahadat, sholat, zakat, puasa, aku tak sudi mengerjakanya. Sejak mentari memancarkan cahaya terangnya aku sudah berdiri di atas gumpalan padang ini. Biarkan aku kembali pada Tuhan-ku bersatu dengan zat-Nya.

Dalam kajian dengan tema tentang insiden hulul atau peleburan Tuhan pada diri Syekh Siti Jenar.
Syekh siti jenar, juga banyak dikenal dalam banyak nama lain antara lain Lemah abang, Sitibrit, Suluk Abdul Jalil dan lain sebagainya. Tokoh ini hidup pada zaman wali songo, dan termasuk kategori pendakwah yang menyebarkan agama islam dengan konsepsi sufi. Di masyarakat pada umumya terdapat banyak sekali varian cerita mengenai asal usul Syekh Siti Jenar ini.

Sebagian umat Islam, menjustifikasi ajaran Syekh Jenar ini sesat, dengan indikasi bahwa beliau telah keluar dalam kategori islam. Ajaran Syekh Siti Jenar ini sangat kontroversi dalam khalayak publik. Konsepsi manunggaling kawula gusti inipun pernah juga dikumandangkan oleh ulama besar Al-Hallaj, tokoh sufi islam yang di hukum mati pada masa sekitar abad ke-922 Masehi.

Dalam Beberapa pemikiran syekh siti jenar, pada forum ini dispesifikan pada pemahaman Hulul (Peleburan Tuhan Pada Manusia), dan ittihad (Persatuan Tuhan Pada Manusia). Kiranya untuk berijtihad masalah ini ada baiknya kita fles back kepada pendirinya yaitu Al-Hallaj dan para sufi yang terinspirasi pada beliau di antaranya; Ibnu Arabi, Rumi, Busthami.

Jenis tasawuf yang digandrungi oleh para sufi di atas ialah jenis tasawuf pengalaman ekstasis (syathahat: ucapan para sufi yang dikenal aneh, seolah bertentangan dengan syari’at secara lahiriyah dan akal fikiran). Terungkap dalam tuturan Al-hallaj seperti “Anal Haq”, kalau Syek Siti Jenarnya berkata “ingsun Gusti”. Dan juga Syiir Al-hallaj mengenai jalan spritualnya.
“Anaa man ahwa wa man ahwa ana # nahnu ruhani halalna badana
Fa idza abshartani abshartahu # wa idza abshartahu absahartana

Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta# kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh
Apabila kau memandang-ku, kau memandangnya# dan apabila kau memandang-Nya kau memandangku.

Dalam lontaran syair di atas sudah sangat jelas bahwa beliau mengnut paham penitisan Tuhan pada manusia. Bagi sufi konvensional, finalitas relasi Tuhan manusia adalah dualisme. Dalam bahasa kaum teolog: tanzih, memposisikan Tuhan dalam ke-lahut-annya, dan sekaligus menempatkan manusia pada posisi ke-nasut-annya. Sejenis laku spiritual yang tahu diri bahwa antara Tuhan dan manusia ada semacam sekat plafon kaca yang tidak bisa disangkal.

Berbicara tentang konsep ontologi yang satu (al-wahid) dan yang banyak (al-katsir), kalangan sufi memulainya pada konsep wahdatul wujud (kesatuan wujud) dasar filosofis dalam memahami Tuhan dalam hubunganya dengan alam termasuk manusia. Dalam metodologi ini dapat di simpulkan bahwa Tuhan tidak bisa di pahami kecuali dengan memadukan dua sifat yang berlawanan pada-Nya. Tuhan menampakan diri pada dalam bentuk yang tidak terbatas pada alam.
Alasan logikanya dapat ditelusuri dalam pandangan Ibnu Arabi, bahwa hubungan ontologis antara yang satu dan yang banyak menggunakan metode matematis. Bilangan-bilangan yang banyak (yang tak terbatas) berasal dari yang satu dengan pengulanganya menurut pengelompokan yang telah di ketahui. Hukum bilangan hanya ada karena adanya yang di bilang(di hitung).

Setiap unit bilangan adalah realitas dari satu hingga sepuluh, dari yang terkecil hingga yang terbesar hingga yang tak terbatas. Tidak satupun dalam unit itu yang merupakan kumpulan dari satu-satu semata, namun di pihak lain masing-masing unit itu merupakan kumpulan satu-satu. Jadi walaupun yang banyak berasal dari yang satu, akan janggal kedengaranya jika untuk menyebut angka yang banyak sebagai manifestasi-manifestasi dari angka satu dalam pengertian bahwa obyek-obyek fenomena adalah manifestasi dari yang satu. Kesimpulanya antara konsepsi monoteisme ataupun politeisme tak ada masalah. Pada dasarnya perbedaan di antaranya hanya bersandar pada logika saja

Akhirnya, bahwasanya faktor persaingan ideology saja tidak cukup bisa mengkukuhkan tindakan anarkis hingga hilangnya nyawa seseorang tetapi jauh dari itu, yaitu ketika agama berkolaborasi dengan konstitusi suci(agama), dalam satu tafsiran. Maka dengan mudahnya kita menghukumi sesat, kafir bahkan murtad pada seseorang yang berada diluar arus pemikiran kita. Kiranya pada konteks zaman sekarang sejarah terulang ketika sekte-sekte islam khususnya dihukumi sesat.Wallahu alam bishowab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s