Surabaya di Suatu Pagi

Posted: Juli 6, 2011 in Cangkruan
Tag:, ,

Taman Surya di saat SubuhDari kejauhan tampak belasan orang di depan pemkot Surabaya sedang merentangkan tangan, kemudian menurunkannya kemudian melakukan gerakan seperti menarik nafas. Sejenak dari kejauhan terlihat seperti gerakan taichi dalam film-film Hongkong yang sering saya tonton. Semakin mendekat ke arah orang-orang dengan berbagai kelompok umur itu saya mulai tahu bahwa itu adalah mereka yang sedang mempraktekkan Falun Dafa atau yang biasa disebut sebagai Falun Gong. Sebuah gerakan (kesehatan) yang dilarang sampai sekarang oleh Partai Komunis Cina (PKC). Tapi saya tak ambil peduli dengan sikap Cina tersebut, bagi saya selama bermanfaat dan baik buat manusia, silahkan dikerjakan.
Hari minggu ini saya memang berniat untuk kembali berolah raga setelah beberapa bulan tidak melakukannya dengan alasan klise eksekutif muda Surabaya “Sibuk” (walaupun saya tidak bisa juga dibilang eksekutif muda Surabaya karena saya hanya seorang guru di empat lembaga pendidikan). Sesudah shalat subuh saya mengambil sepatu sket yang sudah beberapa bulan juga tidak saya sentuh. Dimulai dari jalanan Basuki Rahmat, beberapa pemuda saya lihat juga melakukan hal yang sama dengan saya, beberapa yang lain memilih bersepeda (bike). Saya terus berlari melewati Tunjungan Plaza kemudian menyeberang ke Gedung Grahadi. Gedung yang ditempati Gubernur Jawa Timur itu lenggang pertanda bahwa si Gubernur tidak berada di dalam. Dulu saat Grahadi ditempati Presiden SBY, gedung dijaga oleh Paspampres dan PM (Polisi Militer) berbeda sekali dengan sekarang saya lewat.

Kaki pun melanjutkan ke arah SMA 6 Surabaya. Salah satu SMA favorit selain SMA komplek dan SMA 15 tempat saya pernah mengajar. Marmer bertuliskan SMA 6 sungguh sangat berbeda sekali dengan kayu bertulisan madrasah yang sudah lapuk tempat dulu saya pernah bertugas di desa terpencil di Kabupaten Sumenep pada 2001, jika gaji guru di SMA 6 saat ini berkisar 3-4 juta (jika ditotal dengan sertifikasi) maka guru di madrasah pedesaan berkisar 100-200 ribu. Dulu malah lebih parah, para orang tua siswa biasanya membayar saat panen dengan jagung, padi, dan sejenisnya secara suka rela. Jadi wajar jika di Sumenep, saat musim tanam tiba para guru memilih untuk bercocok tanam apalagi jika sudah musim tembakau (Madurese Tobacco is famous in Indoenesia). Sebuah bukti ketidak adilan jika Unas diterapkan!

Langkah terus menuju ke Balai Pemuda, orang-orang bersiap-siap untuk senam, saya terus melangkahkan kaki melewati gedung DPRD Kota Surabaya yang ketuanya belum membayar pemain Persebaya selama semusim. Seratus meter ke arah timur Nampak patung jenderal Sudirman menyapa orang-orang yang akan ke Pemkot (Orang Surabaya biasa menyebut gedung Pemkot Surabaa dengan Kotamadya). Di sana terlihat para praktisi Falun Gong yang saya ceritakan di atas. Surabaya adalah kota terindah yang saya tahu karena kemajemukan etnis yang ada di dalamnya dan menyatu menjadi warga Surabaya, dan sekarang semakin terasa indah setelah Risma, Walikota Surabaya saat ini “menyulap” kota ini dengan banyak taman. Tidak saja di pusat kota tapi juga di banyak sudut kota. Wajar jika Surabaya saat ini dijuluki sebagai “Kota seribu taman”. Para warga kota sangat menikmati tatanan kota yang indah ini. Hal ini juga menyulut keprihatinan di sisi lain saat memperhatikan kota Sampang tempat ayah saya dilahirkan. Di sana kota jangankan terasa indah, jika hujan sebentar saja, bisa dijamin kota pasti akan terendam banjir. Dan parahnya dalam jangka waktu yang lama. Andai kota Sampang mau belajar dari Surabaya.

Di dalam taman Surya, terlihat anak kecil yang bermain dengan sang ayah sedang sang ibu mendampingi keduanya. Sungguh suatu pemandangan yang menyentuh hati pemandangan seperti ini saat ini banyak kita temui di Surabaya. Sehingga saya optimistis jika generasi Surabaya selanjutnya akan mempunyai masa depan yang cerah, insyaallah. Karena letih, saya memilih duduk di dalam taman sambil melihat orang senam. Beberapa berpakaian ketat beberapa juga masih berpakaian longgar. Di sisi lain saya juga melihat perempuan yang memakai burqah. Tapi sayang, mereka yang memakai burqah saya lihat tidak coba membaur dengan masyarakat lainnya. Hal ini sebenarnya merugikan imej mereka. Karena sering kali para perempuan yang memakai burqah terasa sangat menutup diri dan cenderung eksklusif. Tapi biarlah, toh, itu adalah pilihan mereka. Sebagian mereka yang ikut senam beberapakali melakukan kesalahan gerakan sehingga cukup membuat bibir saya tersenyum, “it’s so funny for me”.

Setelah lari mengitari taman surya, saya langsung bergegas pulang melewati jalan-jalan yang tadi saya lewati. Sungguh Surabaya terasa indah pada pagi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s