Gaya Lebay Imrithy

Posted: Agustus 10, 2011 in Cangkruan, Kitabe Cak, pemikiran, Pitakonan
Tag:, ,

“Wa al-nahwu awla awwalan an yu’lama
Idz al-kalamu dunahu la yufhama”

Syair di atas sebenarnya agak berlebihan dengan beberapa alasan. Pertama, ilmu nahwu lahir jauh setelah bahasa Arab lahir. Kedua, banyak orang Arab tidak paham nahwu tapi mengerti saat bahasa Arab dikatakan atau ditulis. Ketiga, ilmu nahwu itu pada intinya adalah I’rab. Dan I’rab adalah tagyiru akhiril kalimi li awamili ad-dhakhilati lafdhan aw taqriran- berubahnya akhir kalimat karena masuknya amil baik secara lafal ataupun perkiraan-. Jadi perkataan idzil kalamu dunahu la yufhama adalah berlebihan buat saya.

Saya sebenarnya mulai agak lupa dengan bait-bait Imrity tersebut, tapi tiba-tiba saja langsung teringat saat menghadiri sebuah momen haflah akhir tahun sebuah madrasah di Rek-Kerek Pamekasan. Tiba-tiba seorang ustad maju ke depan panggung dan berkata dengan gagah beraninya, “Wa al-nahwu awla awwalan an yu’lama-Idz al-kalamu dunahu la yufhama” kontan pikiran saya benar-benar terusik. Ah, lebay banget nih. Begitu bathinku ketika itu. Sebagai perbandingan saja, teman-teman kita di Ponpes Gontor Ponorogo atau Al-Amin Sumenep, mewajibkan kalam memakai bahasa Arab walau mereka belum belajar nahwu. Dan terbukti bahwa santri kedua pondok tersebut relatif jauh lebih berhasil dibanding santri pondok pesantren tradisional yang tersebar di seluruh pelosok Jawa. Atas realita tersebut kemudian saya berkata, kalau hanya untuk memahami perkataan dalam bahasa Arab atau hanya membaca teks bahasa Arab, tak perlulah kita menguasai nahwu. Apalagi mengingat kenyataannya bahwa nahwu secara keilmuan baru muncul pada abad pertengahan Islam jauh setelah bahasa Arab muncul.

Apa yang ingin saya tarik dari sekelumit kata di atas, ialah kalau ingin menguasai bahasa Arab atau bahasa lain ya lebih efektif langsung praktekkan saja bahasa-nya. Tak perlu kita tahu lafadz “ayna” itu jadi apa dan seterusnya yang biasanya menjadi kebanggaan para santri di pondok pesantren tradisional. Kecuali kalau memang kita mau menjadi ahli di bidang tata bahasa. Kalau sudah begitu maka lain persoalannya. Wallahu a’lam.

Iklan
Komentar
  1. rori berkata:

    Bos yo opo kabare, di mana sekarang? sik ngeblog ae, hitsnya jauh meninggalkan kedai ya, hehe…

  2. Ihsan Maulana berkata:

    alhamdulillah bos… hehe, soale.. gak iso meneng eh. dadi yo ngeblog wae..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s