Budaya Bandung Bondowoso dan Sangkuriang

Posted: Oktober 28, 2011 in Cangkruan, cinta, filsafat, pemikiran, Pitakonan, Tokoh
Tag:, , ,

Dulu saat kuliah saya sering bertanya-tanya, kenapa ya saya suka sekali mengerjakan makalah di saat-saat akhir, jadi dulu jika besok sudah waktunya maju makalah, maka saya bisa menghabiskan malam saya dengan membuat makalah dan hanya ada jeda shalat subuh saja. Saat itu saya berpikir, apakah saya satu-satunya orang yang seperti itu, lambat laun saya menyadari ternyata tidak. Banyak teman-teman saya yang juga seperti itu. Ini terbukti saat saya nge-kos (maksudnya numpang nginap di kos teman, hihi) saya juga menemukan ada beberapa teman yang seperti saya. Suka berleha-leha saat waktu luang dan main kebut setelah waktunya mepet. Tapi sebenarnya sih, kalau boleh membela diri, waktu itu (waktu kuliah dulu) bukannya berleha-leha, tapi karena paling tidak saat itu saya aktif di organisasi kampus baik intra maupun ekstra. Aktifis tahun 2000-an lah pokoknya.kalau bawa tas, hamper bisa dipastikan bahwa isi tasnya selain pena dan buku adalah sabun dan sikat gigi, hehe. Masalah mandi di mana, maka saya dan para teman-teman seperjuangan dulu menganut satu falsafah negeri ini, “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Ya di mana di rasa badan sudah tidak enak dan mulai gatal-gatal, ya saya dan teman-teman mandi di tempat itu. Bisa di kamar mandi BEM, kamar mandi perpustakaan, kamar mandi masjid kampus hingga kamar mandi kos teman (itu karena sejak dulu saat s1 sebenarnya tidak pernah indekos). Di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak, ups, maksudnya adalah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Tapi pertanyaan-pertanyaan di atas tentang kenapa dan siapa saja, akhirnya membawa saya pada penelusuran sejarah bangsa ini (Indonesia). Dulu saat Bung Karno dan Bung Hatta akan memproklamirkan kemerdekaan, teks kemerdekaannya di buat pada malam harinya oleh Bung Karno sendiri. Ternyata Pak Karno sama saja dengan anak muda sekarang, hehe. Ditelisik lebih jauh ke dalam sejarah bangsa ini ternyata kita sudah punya orang dengan tipe sama seperti saya atau mirip-mirip saya, yaitu Bandung Bondowoso dan Sangkuriang. Si Bandung, misalnya, ia mencoba membangun seribu candi (candi sewu) dalam waktu hanya semalam saja. Wah, benar-benar nekat nih si Bandung! Tapi karena cintanya pada RoroJongrang saat itu, apapun dilakukannya, “demi nyai” begitulah kira-kira dalam bahasa orang Sunda. Begitupun juga dengan Sangkuriang, karena cintanya pada seorang wanita cantik yang sebenarnya adalah ibunya sendiri (cerita lengkap silahkan baca dongengnya) Sangkuriang menyanggupi untuk membuat perahu besar. Tapi karena hingga waktu yang ditentukan belum jadi, maka si Sangkuriang, menendangnya dan kemudian terbalik dan hingga sekarang dikenal dengan gunung Tangkupan Perahu.

At least, mereka juga sama-sama mengerjakan sesuatu dalam waktu semalam atau yang dikenal oleh mahasiswa sebagai system SKS (Sistem Kebut Semalam) sebagai plesetan dari arti kata SKS sesungguhna yaitu Sistem Kredit Semester. Tapi ada satu hal yang terlupa atau dilupakan oleh bangsa ini dari beberapa pelajaran di atas. Yaitu dalan kedua cerita rakyat tersebut kedua-duanya tidak dapat menyelesaikan apa yang menjadi pekerjaannya. Akan tetapi, untungnya Bung Karno termasuk yang berhasil menyelesaikan naskah proklamasi dan membacakannya tepat waktu.
Nah, akhirnya saran saya, jika Anda punya waktu cukup, gunakan waktu itu sebaik mungkin. Karena apapun yang kita kerjakan dengan baik dan terencana biasanya hasil akhirnya akan jauh lebuh baik daripada sesuatu yang dikerjakan secara sporadic dan dadakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s