Kebebasan Terkontrol Manusia

Posted: Januari 17, 2012 in Cangkruan, cinta, filsafat, pemikiran, tasawuf

Manusia hidup di dunia diberikan sebuah kebebasan untuk memilih. Ia bebas untuk melakukan apapun, kapanpun dan dimanapun. Karena itulah dalam agama kemudian kita kenal ada hisab (penghitungan) yaitu sebuah perhitungan amal yang kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Dalam salah satu madhab teologia Islam yaitu madhab Asy’ariyah yang didirikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ary, menyatakan bahwa pada dasarnya manusia tidak memiliki kebebasannya sama sekali, segala yang dikerjakannya semuanya adalah takdir dari Tuhan dan manusia tiada berkuasa sama sekali atas semua pekerjaannya. Paham teologi Asy’ari pada esensinya adalah paham fatalitas atau dalam sejarah Islam dikenal sebagai aliran jabariyah. Paham ini menyatakan bahwa manusia tidak mempunyai kuasa apapun atas dirinya dan atas berbagai tindakan yang dilakukannya. Semuanya adalah by setting Tuhan.

Kebalikan dari paham jabariyah, manusia modern sekarang kebanyakan adalah penganut madhhab liberalis, sebuah madhab yang menyebutkan bahwa manusia memiliki kuasa untuk memilih dan mengerjakan sesuatu. Menurut paham kebebasan ini (dalam versi liberalis muslim-mu’tazilah-), bukannya Tuhan tidak berkuasa untuk mengatur masing-masing manusia, tapi ia memang sengaja untuk memberikan kebebasannya atas manusia agar logika keadilannya terpenuhi. Paham seperti ini menegaskan jika Tuhan meng-hisab manusia atas segala perbuatannya maka itu berarti manusia bertanggung jawab atas apa yang menjadi pilihan tindakannya. Sebuah pilihan yang dilakukan secara bebas oleh manusia , karena jika tindakan yang dilakukan oleh manusia adalah pilihan Tuhan maka tentu manusia tidak perlu mempertanggung jawabkannya di hadapan dzat yang telah memilihkan tindakan.
Berbeda dari kaum teologia, Kaum sufi mendekati Tuhan dari sisi yang lain. Jika kaum teologi (kalam) mendekati Tuhan dari fatalitas atau liberalitas, maka kaum sufi telah sampai pada tingkat penyatuan hasrat Tuhan dan hasrat manusia. Apa yang diinginkan Tuhan telah menyatu menjadi keinginan mereka, dan apa yang hendak dilakukan Tuhan akan mereka lakukan. Kaum sufi berpendapat bahwa diri mereka adalah perwujudan Tuhan paling tinggi di atas muka bumi dan bertugas menjadi cermin Tuhan di muka bumi di mana mereka hidup.

Mereka sadar bahwa diri mereka mempunyai pilihan-pilihan manusiawi (nasut) dalam hidupnya. Akan tetapi jika pilihan-pilihan manusiawinya itu ia kosongkan dari dorongan-dorongan manusiawi (nasut) dan mengisinya dengan keinginan Tuhan (lahut), maka mereka menjadi kaum fatalitas bebas yang mendasari segala pilihan dan tindakannya atas buah kesadaran, menggerakkannya dalam gerakan Tuhan. jika seperti ini yang terjadi maka kaum sufi telah menjadi kaum fatailitas di satu sisi sekaligus liberalis di sisi lain.

Mungkin saja anggapan sebagaian orang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang kehilangan eksistensi diri tapi mereka sendiri akan melihat dirinya telah menyatu dalam eksistensi yang lebih besar dan agung yaitu eksistensi penggerak alam semesta.
Pengalaman Pribadi

Saya memang merasakan bahwa saya diberikan Tuhan untuk melakukan pilihan-pilhan atas hidup. Saya dihadapkan pada sebuah pilihan untuk berbuat baik atau berbuat jelek, pilihan untuk memakai hukum Islam atau memakai hukum yang lain. Saya diberi kebebasan untuk bertindak apapun yang saya inginkan dan yang saya lakukan.
Pilihan-pilihan telah saya ambil dalam hidup baik saya sadari ataupun tidak. Semuanya berirama dalam hukum kausalitas. Setidaknya demikianlah menurut mata awam. Akan tetapi adakalanya hukum kausalitas tidak berlaku dan ini terjadi sangat sering sekali pada diri saya. Salah satu contoh yang masih saya ingat adalah saat saya sakit batuk. Kelihatannya enteng, ringan dan bukan penyakit yang perlu ditakuti. Saat itu kalau tidak salah saya sudah mempunyai gaji tetap dari pekerjaan yang saya jalani, saat itu saya belikan obat batuk di toko kelontongan, bukannya sembuh tapi malah bertambah parah, saya belikan obat sirup di apotik, tapi benar-benar tidak dapat membantu sama sekali, tak tahan dengan batuk, saya memutuskan untuk ke dokter. Tapi sungguh tidak membantu sama sekali. Uang saya saat itu benar-benar habis dibuat untuk berobat. Saya sudah kehabisan cara untuk menyembuhkan batuk yang sebenarnya tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya, saat saya benar-benar tak berdaya, saya ingat ada Tuhan. Hal ini bukan berarti sebelum itu saya tidak ingat Tuhan, tapi memang sebelum itu saya menyatakan dalam hati, “Sudahlah, akan saya obati penyakit batuk ini.” Tapi saat diri tidak berdaya, saya bilang sama Tuhan, “Tuhan, saya menyerah. Saya sudah tidak bisa lagi mengobati penyakit yang saya derita. Sekarang yang saya punya hanya Sampean. Jadi semuanya terserah kebijakan Sampean.” Tidak menunggu lama, kalau tidak salah hanya dalam jangka dua hari, saya benar-benar sembuh dari penyakit batuk yang selama ½ bulan menyiksa.

Setelah itu saya sadari bahwa kebebasan manusia itu masih dikontrol oleh Tuhan, ia masih terus menatap kita, memperhatikan kita dengan cara yang tidak kita mengerti. Sekarang terserah kita apakah mau menghilangkan dia dalam kehidupan kita atau berusaha untuk mengenalnya. Tapi jujur, walau agak nakal, saya benar-benar mencintai Tuhanku. Ternyata setelah saya dekat dengannya Ia adalah Maha Keren. I LOVE U, GOD!

Iklan
Komentar
  1. rony berkata:

    man purpose, God dispose . . . . . .!!!!

  2. Ihsan Maulana berkata:

    yes, i agree about it. our tag is just try and do it the best 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s