Junayd Al-Baghdadi, Kehidupan dan Pemikirannya

Posted: Mei 10, 2012 in filsafat, Kitabe Cak, pemikiran, tasawuf, Tokoh
Tag:, , ,

Al-Junayd merupakan keturunan Persia, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tapi diperkirakan lahir pada tahun 210 H di kota Baghdad, sedangkan keluarganya sendiri berasal dari kota Nihawand, propinsi Jibal, Persia. Ayah Al-Junayd yaitu Muhammad ibn Al-Junayd Al-Qawariri meninggal dunia ketika Junayd masih kanak-kanak, selanjutnya Junayd kecil dipelihara oleh pamannya, Sari al-Saqati untuk kemudian diasuh dan dibesarkan hingga dewasa. Masa kecil Junayd jarang dibicarakan, namun diperkirakan ia dibesarkan dalam keluarga pedagang, bahkan ia kelak menjadi pedagang sutera di kota Baghdad.

Awal pendidikan al-Junayd dimulai dengan belajar ilmu pengetahuan agama pada pamannya sendiri, Sari al-Saqati, yang juga dikenal sebagai seorang sufi yang sangat luas ilmu pengetahuannya. Ketika usianya 20 tahun, al-Junayd mulai belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, sorang faqih terkenal di Baghdad pada masa itu. Setelah mempelajari hadits dan fiqh, al-Junayd beralih menekuni tasawuf, sekalipun sebenarnya dia sudah mulai mengenal ajaran tasawuf sejak berumur 7 tahun di bawah bimbingan Sari al-Saqati. Selain itu Junayd kecil juga belajar sufisme dari siapa saja sehingga pengetahuan sufismenya semakin hari bertambah luas. Ketika dewasa bisa dibilang ilmu al-Junayd dalam sufisme telah cukup matang.

Al-Junayd adalah seorang sufi yang cerdas, memiliki pikiran cemerlang dan selalu cepat tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya di antara para sufi sangatlah terhormat, bahkan Sari al-Saqati sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya pada Sari al-Saqati, “Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tasawuf?” Sari al-Saqati menjawab, “Tentu saja dapat, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf al-Junayd itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai.”

Dalam kehidupan sehari-hari, al-Junayd memiliki sikap yang berbeda dari para sufi yang lain. Dimana dia tidak menjalani kehidupannya dengan menjauhi keduniawian, namun juga tidak hidup dalam kemewahan. Sebagai seorang sufi yang pedagang (wiraswasta/entrepreneur), al-Junayd selalu menyesuaikan kehidupannya dengan profesi itu. Meskipun kehidupannya dapat dikatakan kaya raya, sebagai sufi yang shalih, tidak pernah ia berlebihan dalam menggunakan hartanya untuk kehidupan sehari-hari. Al-Junayd memiliki pribadi yang menyenangkan, oleh karena itu dia banyak disukai oleh para sufi pada masanya, sehingga rumahnya selintas bagaikan tempat berkumpulnya para sufi. Namun demikian, al-Junayd sendiri tidak pernah mengeluh menghadapi itu, bahkan sebaliknya dia merasa senang dengan kunjungan mereka. Sehingga al-Junayd selalu menerima dan menjamu mereka sebaik mungkin.

Al-Junayd bukanlah orang radikal, sehingga sikapnya lebih cenderung kepada pemikiran salaf yang selalu menekankan bahwa ajaran tasawuf haruslah didasarkan pada al-Qur’an dan Hadits. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, dia selalu berusaha menerapkan dan menjabarkannya pada semua ajaran tasawuf yang diberikannya. Sehingga kekaguman umat dan ulama syariat atas pandangan sikapnya terhadap tasawuf membuat ajaran tasawufnya dapat diterima di masyarakat.

Al-Junayd tidak termasuk sufi yang rajin menulis, sehingga karyanya dalam bentuk buku sangatlah sedikit. Dalam proses belajar mengajar, dia lebih suka menjelaskan berbagai pengalamannya secara lisan, baik dalam kesempatan memberi kuliah, diskusi, maupun pembicaraan dengan para sahabat atau muridnya. Semua ajaran al-Junayd memang dapat ditemukan dalam buku-buku tasawuf yang ditulis para sufi atau ulama sesudah wafatnya. Sementara kelangkaan karya khusus yang memuat ajarannya ini memang nampaknya disengaja oleh al-Junayd. Konon, ketika dia akan meninggal ia berpesan kepada sahabat, teman, murid dan pengikutnya untuk menguburkan semua buku, kertas dan tulisan yang berisi ajarannya. Alasannya, dia tidak suka ajarannya kelak dipelajari orang, dimana hal itu membuat mereka terlupa pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, al-Junayd tidak mau jika ajarannya disejajarkan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang dianggapnya paling tinggi.

Ajaran Tasawuf

Al-Junayd barkata, “Tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun.” Melalui definisi ini, sebenarnya Al-Junayd ingin menyatakan bahwa sufisme merupakan cara atau sarana menuju Tuhan dan bersatu dengan kehendak-Nya. Sedangkan pengertian yang demikian ini, dihasilkan dari kesadaran akan adanya suatu jurang yang sangat lebar memisahkan manusia dari Tuhan. Sehingga sufisme, dimaksudkannya untuk menjembatani jurang tersebut.

Dengan perantaraan sufisme, manusia dapat mendekati-Nya, bahkan dapat bersatu di dalam-Nya. Agar dapat mencapai persatuan tersebut, manusia harus mampu memisahkan ruhnya dari semua sifat kemakhlukan yang melekat pada dirinya. Jika hal ini dapat dilaksanakan, niscaya tujuan untuk mendekati Tuhan dan bersatu di dalam-Nya akan tercapai.

Namun demikian, al-Junayd juga menyatakan bahwa, “Sufisme adalah suatu keadaan yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia.” Dan ketika ditanya apakah sifat itu sifat manusia atau sifat Tuhan? al-Junayd menjawab, “Esensinya memang merupakan sifat Tuhan, namun gambaran lahiriahnya adalah sifat manusia.” Melalui definisi ini, al-Junayd ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya dalam diri manusia telah dihiasi dengan sifat Tuhan, sehingga kondisi tertinggi dari pengalaman sufistik yang dicapai seorang sufi berupa persatuannya dengan Tuhan, juga dapat dilukiskan. Pada tingkat ini, seorang sufi akan kehilangan kesadarannya, tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan lingkungannya. Bahkan semua yang ada di sekitarnya tidak lagi menjadi obyek pemikirannya, lantaran seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada Tuhan. Sementara dengan hilangnya semua perhatian dan kesadarannya itu, maka dia otomatis sedang berada di tangan Tuhan.

Lebih jauh al-Junayd menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang sufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Ajaran Zuhud

Zuhud merupakan dasar dari segala ajaran yang terkandung dalam ajaran sufisme yang diyakini oleh para sufi. Yang merupakan langkah awal dari mereka yang menekuni tasawuf dalam usahanya untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Sehingga siapa saja yang tidak berhasil melalui tahap ini, maka niscaya tidak akan pernah berhasil mencapai hal dan maqam sesudahnya.

Menurut al-Junayd, “Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).” Dengan kata lain, zuhud bagi Al-Junayd lebih merupakan sikap seorang sufi yang tidak begitu terikat dengan duniawi. Namun bukan berarti zuhud itu menjauhi dunia. Bahkan lebih jauh, pengertian zuhud ini melahirkan sikap kedermawanan dan suka bersedekah pada orang yang membutuhkan.

Al-Junayd juga bertutur, “Seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain.” Bagi al-Junayd, sifat dan sikap seperti itu sengatlah tercela, lantaran sekalipun sufi, orang tersebut harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Jika sudah mendapat nafkah diharapkan mau menggunakannya di jalan Allah, yaitu dengan mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan.

Ajaran Tawakal

Menurut al-Junayd, “Hakikat tawakal adalah menjadi milik Tuhan seperti sebelum terjadi.” Pengertian ini berarti bahwa seorang yang bertawakal menjadi seperti ketika belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Dan lantaran dia kepunyaan-Nya, maka apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya. Junayd juga bertutur, “Bahwasannya kamu harus puas dengan Tuhan daam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Tuhan.”

Ajaran Mahabbah

Junayd bertutur tentang mahabbah, “Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai ke dalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai.” Maksudnya adalah jika seorang sufi telah benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya. Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal-hal lain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saat yang sama, dia akan menjadikan tempat di segala sudut dalam hatinya, hanya untuk Tuhan.

Namun demikian, semua ini hanya akan terjadi apabila diawali dengan menghilangkan sifat-sifat yang ada pada dirinya sebagai makhluk, dengan meyakini esensi Tuhan yang kekal. Lantaran ketika sifat-sifat kemanusiaannya hilang, pada saat itulah dia akan terhiasi oleh sifat-sifat Tuhan yang dicintai-Nya. Jika sufi tersebut masih merasakan sifat-sifat kemakhlukan pada dirinya, niscaya dia tidak akan dapat menghayati keindahan Tuhan yang dicintainya. Tetapi jika dia tahu bahwa keindahan Tuhan hanya dapat dicapai dengan usaha yang tekun dan pertolongan-Nya, maka ia pasti akan berusaha untuk meraihnya, sekalipun untuk itu, dia harus menghilangkan sifat-sifat dirinya. Sehingga dengan demikian, mahabbah yang sejati pada Tuhan akan terwujud.

Ajaran Mushahadah

Mushahadah berarti menyaksikan atau lebih jelasnya, “Melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala.” Hal ini berarti bahwa dalam ajaran sufisme, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Menurut al-Junayd, Tuhan hanya dapat dilihat melalui mata hati, bukan dengan mata kepala. Sehingga seandainya Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, maka al-Junayd pun tidak ingin melakukannya.

Al-Junayd bertutur, “Apabila Tuhan berkata kepadaku: Lihatlah Aku, aku akan menjawab: Aku tidak dapat melihat Engkau ya Allah. Lantaran dalam cinta, mata adalah sesuatu yang lain selain Tuhan dan makhluk. Kecemburuan pada yang lain akan menjagaku dari melihat-Nya. Selain itu, ketika di dunia aku telah biasa melihat-Nya tanpa perantaraan mata kepala, maka bagaimana aku harus menggunakan perantaraan seperti itu di akhirat nanti.”

Ajaran Mithaq

Menurut Al-Junayd, yang dimaksud dengan mithaq adalah perjanjian yang terjadi antara Tuhan dengan ruh, sebelum dia masuk ke dalam tubuh manusia. Dimana akad ini terjadi ketika ruh tersebut diciptakan-Nya pada masa azali.

Ajaran Tentang Fana dan Baqa

Fana dan baqa ini merupakan sesuatu yang kembar dan datang bersamaan, sehingga jika seseorang mengalami fana (kesadaran diri hilang dan lenyap), maka bersamaan dengan itu muncul baqa (munculnya kesadaran akan kehadirannya di sisi Tuhan). Diri pribadi dengan segala sifatnya yang menyukai kesenangan dan keinginan duniawi, merupakan tabir penghalang bagi seorang sufi untuk mencapai persatuan dengan Tuhan. Sehingga semua penghambat tersebut, harus terlebih dahulu dihapuskan agar dapat mencapai puncak tertinggi dari sufisme. Atau dengan kata lain, untuk mencapai persatuan dalam Tuhan, maka semua sifat kemakhlukan yang ada pada diri manusia dan semua perasaan terhadap selain Tuhan, harus dihilangkan terlebih dahulu. Sehingga ketika hati benar-benar telah bersih dan siap ditempati Tuhan, maka inilah yang dimaksud dengan fana, yakni hilangnya kesadaran atas diri pribadi.

Ajaran Tauhid

Menurut Al-Junayd, tauhid adalah, “Pengesaan yang qidam (kekal) dari yang hadath (baru atau diciptakan).” Dengan pengertian ini, Al-Junayd ingin menegaskan bahwa tauhid merupakan pengesaan Tuhan yang kekal (qidam) dari makhluk ciptaan-Nya yang baru (hadith). Pengesaan ini berarti pemisahan Tuhan dari segala makhluk-Nya, termasuk di dalamnya pemisahan dari manusia.

Ajaran Makrifat

Menurut Al-Junayd, marifat adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Tuhan datang. Melalui definisi ini, dia ingin menyatakan bahwa pada hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Tuhan. Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang makrifat kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.

Makrifat atau pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus. Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan bersatunya ruh dirinya dalam Tuhan. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat ini muncul menguasai dirinya. Di mana Tuhan dengan segala rahmat-Nya telah berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.

Makrifat menurut Al-Junayd merupakan milik Tuhan, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada bersama dengan-Nya sendiri.

Sahw (Kembali Pada Kesadaran)

Dalam sufisme, istilah sahw adalah kembalinya seorang arif (sufi) pada kesadarannya, setelah sebelumnya mengalami ghaybah (fana) dan kehilangan kesadarannya. Al-Junayd menjelaskan masalah sahw ini sebagai berikut, “Tuhan mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, adalah agar dia dapat menjelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga cahaya anugerah-Nya akan tampak gemerlap melalui pengembalian pada sifat-sifatnya sebagai manusia. Dengan demikian hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya.”

Sahw ini merupakan tahap terakhir setelah seorang sufi mengalami fana dan baqa. Pada kondisi inilah ujian sebenarnya bahwa seorang sufi harus mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini harus mampu menyucikan hatinya secara terus-menerus dalam kesadaran manusia sehingga dia benar-benar menjadi yang mencintai dan dicintai Allah.

dikutip dari: DR. H. Anwar,1995, Sufi Al-Junayd, Fikahati Aneska, Jakarta dan beberapa sumber lain

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s