Menggejar Pesawat

Posted: Juni 10, 2012 in Cangkruan, Pitakonan
Tag:, , ,

Sore itu, sebuah motor mengebut melalui jalan-jalan berbantal polisi tidur, bergeronjal tapi tak dihiraukannya. Saat macet, motor itu juga masih terus berjalan di pinggiran jalan dan bahkan keluar dari bahu jalan untuk sekedar terus bisa melaju. Ya, motor itu adalah ojek yang mengantarkanku ke bandara Soekarno-Hatta. Wajahku yang tertabrak ranting pepohonan tak dihiraukannya dan aku pun tak menghiraukan. Jempol kirinya terus saja membunyikan klakson bahwa ia terburu-buru dan ingin mendahui. Aku melihat jam tangan sudah menunjukkan jam 4.30 dan membisikkan dua kata, “agak cepat”. Kontan saja motor itu semakin menambah kecepatan. Saya pun dibuat dag dig dug oleh gaya nyetirnya yang mirip Simonchelli yang mati tabrakan di lintas balapan, cepat dan rada ngawur. Saat jam menunjukkan pukul lima sore dan baru sampai di tempat tujuan, saya pun berjalan dengan setengah berlari. Sesampai di depan petugas check in bandara dan saat ia berkata, Pesawat Anda sudah berangkat”, lemaslah saya.

Narasi di atas menggambarkan bagaimana saya dari Tanggerang Selatan melakukan “balap motor” ala ojek menuju bandara Sukarno Hatta hanya untuk mengejar jadwal take off pesawat yang telah kami booking. Meliuk-meliuk di antara kemacetan sore hari Tanggerang. Saya semakin khawatir saat tahu bahwa pesawat yang saya tumpaingi telah berangkat. Apalagi memikirkan bahwa uang tiket saya akan hilang karena tiket yang saya beli adalah tiket promosi. Tapi selalu ada terang sehabis gelap. Alhamdulillah, uang tiket saya dikembalikan penuh oleh Batavia Air. Jujur, saya senang mendengarnya. Karena total uang tiket saya untuk dua orang mencapai satu juta lebih.
Selanjutnya sebagai hukuman atas keleletan teman saya yang membuat kami terlambat check in, saya pun duduk bersila di atas trolly dan memintanya mendorong trolly yang saya duduki layaknya mendorong bayi. Karena jujur, saat itu saya letih sekali. Hitung-hitung, memberikan pelajaran berharga bagi teman saya yang seorang Gus (anak kiai/tokoh agama) di Jawa timur yang sehari-hari selalu dilayani oleh abdi dalem itu. Setelah kasihan sendiri melihatnya saya kerjain, kemudian saya mengajaknya makan di KFC bandara agar ia juga tak lagi murung sehabis saya marahi. KFC saya pilih karena yang tampak terang benderang di pelupuk mata hanya restoran KFC itu. Andai ada warung tahu penyet atau soto atau semacamnya tentu saya lebih memilih itu. Andai pihak terkait sadar akan hal itu. Tempat strategis tapi tidak bisa digunakan sebagai welcome way.

Satu lain hal, saya dan teman memutuskan untuk menginap satu malam lagi di rumah teman. Seorang dokter cantik di jakarta. Kebetulan suaminya adalah seorang tabib pengobatan tradisional. Lah, di tempat dokter tadi, saya dikop memakai tanduk. Wuih rasanya seperti disedot.tapi jujur emang enak apalagi setelah itu saya bisa tidur nyenyak di kampung jakarta yang padat. Pagi-pagi buta, saya dan teman saya pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya dan alhamdulillah kami sampai di Surabaya, home sweet home.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s