Di Balik Budaya Mudik

Posted: Agustus 21, 2012 in Cangkruan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , ,

Menjelang, saat dan sesudah lebaran, antrian orang mudik sangat terasa di berbagai daerah, terutama dari kota-kota besar macam Jakarta, Surabaya dan kota-kota lainnya di tanah air. Fenomena mudik tidak hanya milik para buruh dan pekerja rendahan kota. Para pemudik terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang dan kultur yang berbeda dengan berbagai tranportasi yang berbeda pula yang digunakan untuk mudik, mulai kendaraan umum semisal pesawat, kereta api, kapal laut, dan bus hingga kendaraan pribadi macam mobil, motor roda dua hingga sepeda angin.
Semuanya berduyun-duyun pulang ke kampung masing-masing, semuanya ingin bertemu dengan handai taulan yang telah lama berpisah, berharap untuk bisa bertemu walaupun hanya sekedar menyapa bertanya kabar dan menjalin silaturrahmi yang lama tak tersentuh. Akan tetapi di sisi lain tersembul keinginan menunjukkan apa yang telah dihasilkannya selama setahun tinggal dan bekerja di kota, memeras peluh untuk mecari penghidupan lebih baik.
Mudik adalah budaya khas Indonesia, di negeri asal Islam semenanjung Arabia, budaya mudik ini tidak ditemukan. Bahkan ditelaah dari literatur Islam klasik hinga ke nash; al-Qur’an dan hadis tidak pula ditemukan sebuah tanda bahwa mudik itu telah ada dan dianjurkan. Paling-paling yang kita ketemukan jika kita mencari literaturnya dalam berbagai nash al-Quran dan hadis yang ada hanya adalah anjuran untuk menjalin silaturrahmi. Mudik telah menjadi isme, tak afdhol rasanya jika lebaran dilewatkan tanpa mudik.
Mudik bagi banyak orang di desa di Indonesia juga menjadi penanda akan kabar seseorang. Maka wajar jika dalam lagu “Bang Toyyib” lebaran jadi penanda akan lama kabar seseorang. Ramadhan sendiri adalah bulan pengampunan (maghfirah), sebuah bulan kesempatan untuk men-fitrah-kan kembali manusia layaknya bayi yang baru lahir. Jika selama sebulan kita telah bermunajat kepada Allah agar diampuni dosanya tentu tidak akan sempurna tanpa meminta maaf pada sesama. Karena seperti yang ada dalam ajaran Islam, dosa kepada manusia tak akan bisa dihapus kecuali oleh manusia itu sendiri.
Jadi manusia dalam kasus horisontal memiliki hak veto di mata Tuhan. Hak veto manusia atas permaaafan inilah yang kemudian berkembang menjadi budaya mudik seperti yang kita kenal sekarang ini. Keinginan untuk bertemu dengan keluarga, handai taulan dan para tetangga dikampung halaman mengalahkan lelah dan letihnya menemupuh perjalanan mudik yang bermil-mil jauhnya, berdesak-desakan keadaannya.
Sungguh sebuah perjalanan yang menjanjikan sebuah eksotika silaturrahmi dan nostalgia kebudayaan dan alam lingkungan, makna sebuah hari yang begitu penting dalam literatur kehidupan manusia muslim Indonesia.
Simbol-simbol kesejahteraan kota berupa materi plus kebudayaannya menjadi pewarna dalam setiap nuansa mudik setiap tahunnya, tak terasa desa dalam perjalanan waktu menjadi “kota” yang lain terutama dalam segi falsafah dan nilai kehidupan.
Interaksi kota-desa ini pada tingkat lanjut menimbulkan sebuah hipotesa bagi masyarakat desa bahwa perputaran kapital banyak terjadi di kota-kota besar. Sebuah kenyataan yang cukup menggiurkan bagi para penduduk yang selama ini biasa hidup sederhana bahkan cenderung miskin. Tak peduli bahwa sebenarnya mereka selama ini menjadi tonggak kehidupan orang kota berupa produksi pertanian dan hasil lautnya. Para penduduk desa tua yang memang merasakan pahit getir dari kebijakan yang mereka anggap sebagai nasib orang desa mengantarkan mereka untuk berkeinginan agar anaknya agar hidup “layak” seperti para pemudik yang terlihat dapat membeli simbol-simbol kesejahteraan kota.
Para petani tak ingin anaknya jadi petani, para pelaut tak ingin anaknya jadi pelaut, hasilnya sekarang bangsa Indonesia sudah banyak kehilangan petani dan pelautnya entah bagaimana dalam sepuluh tahun ke depan. Dan akibatnya bangsa Indonesia menjadi pengimpor ikan di tengah laut yang kaya raya, menjadi pengimpor beras saat lahan-lahan pertanian ditinggalkan dan seterusnya. Maka pantaslah kiranya jika mudik menjadi perhatian bagi kita semua bahwa ada yang salah dengan sistem pembangunan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s