Undangan VIP dan Keegaliteran

Posted: November 13, 2012 in Cangkruan, pemikiran
Tag:, , , , , ,

Hari minggu kemarin (11 10 2012), ada seorang kolega yang mempunyai jaringan bisnis di Jawa Timur, seorang petinggi salah satu partai mengadakan walimah urusy atau yang biasa kita kenal dengan resepsi pernikahan. Di acara tersebut banyak pejabat di Jawa Timur diundang. Mulai dari gubenur hingga para kolega, tetangga dan teman-teman mempelai.
Dalam sebuah acara yang dihelat di Jatim Expo (JX) tersebut, saya melihat beberapa wajah yang biasa saya lihat di media, mulai dari Wakil Gubenur Jatim hingga para pejabat serta pengusaha di Jatim. Nah, kejadiannya adalah saat saya diarahkan ke tempat makan oleh panitia, saat itu panitia mengarahkan saya untuk lurus menuju sebuah ruang makan, akan tetapi setelah sampai di ruang tersebut, seorang panitia lainnya mencegat saya, dan berkata, “mohon maaf Bapak, hanya untuk undangan VIP!” kontan saya tersinggung dengan pernyataan tersebut dan menoleh pada istri saya, “emang undangan kita apa, Say?” sebuah pernyataan yang saya yakin istri saya tidak bisa menjawabnya, ia pun menjawab, “tidak tahu”. Setelah menjawab seperti itu, panitia tadi mengarahkan saya, “untuk undangan standart ke sebelah sana, Pak.” Dalam hati saya dongkol, kenapa sih harus dibeda-bedakan. Kenapa harus ada jenis undangan VIP dan ada jenis undangan standart. Apa Karena saya bukan orang berpangkat. Apa karena saya bukan orang kaya atau karena pakaian yang kami pakai adalah pakaian yang biasa-biasa saja. Mengutip perkataan khas Rhoma Irama, “terlalu!”.

Akan kejadian ini saya jadi teringat akan sebuah kisah Nasruddin, seorang sufi di Timur Tengah, yang saat itu datang ke sebuah pesta pernikahan di daerahnya. Saat itu ia memakai pakaian biasa layaknya rakyat jelata. Dan saat ia akan masuk tempat resepsi ia dihadang oleh seorang penjaga dan tidak diperbolehkan masuk. Melihat prilaku penjaga itu Nashruddin pulang ke rumahnya dan segera berganti pakaian yang paling mewah yang ia punya. Kemudian ia berangkat lagi ke pesta tersebut, dan setelah melihat Nashruddin yang berpakaian mewah, sang penjaga pun mengijinkannya masuk ruangan resepsi. Setelah Nashruddin berada di dalam, ia menghampiri tempat makanan dan mengambil makanan dengan tangannya, setelah ia mengambil makanan, bukannya makanan itu dimakannya tapi oleskan ke seluruh pakaiannya. Melihat hal yang dilakukannya, semua orang di ruangan itu melihat ke arahnya. Dan kemudian datan seseorang bertanya, “kenapa kau lakukan hal itu?” nashruddin menjawab, “karena pesta ini tidak mengundangku tapi mengundang bajuku!” sesaat setelah ia berkata demikian Nashruddin pun pergi meninggalkan ruangan pesta.

Apa yang bisa kita tarik dari kisah di atas, praktek memilah-milah orang dari baju dan pangkat adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagi sebagian orang dan hal itu tidak diperbolehkan. Jika memang hendak mengundang ya sudah jangan dibeda-bedakan seakan-akan ada yang penting dan ada yang tidak penting. Saya tidak suka akan hal itu.

Keegaliteran dalam Sebuah Acara

Yang diajarkan Islam lewat nabinya, baginda Muhammad SAW adalah semua umat Islam harus memperlakukan manusia itu sama di hadapannya. Tak lebih mulia seseorang karena ia lebih kaya atau lebih berpangkat. Semua manusia di hadapan Allah SWT itu sama dan begitulah seharusnya umat Islam memperlakukan semua manusia.

Maka barang siapa yang membeda-bedakan manusia Karena derajat kekayaan dan pangkatnya maka ia sudha menyalahi ajaran islam. Islam adalah agama yang egaliter. Bilal, yang mantan budak pun memperoleh derajat yang tinggi dan namanya diabadikan sebagai laqab atau panggilan bagi mereka yang melakukan adzan. Bangsa turki Ustmani pun asal mulanya tak lebih hanya tentara tingkat bawah yang kemudian menguasai kekhalifahan dalam islam.
Dalam islam tak mengenal kasta-kasta, semua manusia itu sama dan berhak memperoleh perlakuan yang sama pula. Lalu bagaimana mungkin seseorang yang mengaku muslim dan bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah membeda-bedakan hamba allah hanya dari level kekayaan dan pangkatnya saja. Tak boleh, hal itu tak boleh dilakukan. Jika berniat mengundang seseorang, ya sudah, perlakukan mereka sama, dudukkan mereka dalam ruangan yang sama, dan berilah mereka dengan makanan yang sama. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s