Rona Pelangi Santri Urban di Surabaya

Posted: Desember 5, 2012 in Cangkruan, pemikiran
Tag:, , , , ,

Dalam sebuah acara Imaba Surabaya

Dalam sebuah acara Imaba Surabaya

Saya menulis ini tidak hendak untuk menjeneralisir macam-macam santri Urban di Surabaya, tapi ini hanya pengalaman pribadi berkaitan dengan para alumni pesantrenku di sebuah desa di Madura. Perlu diketahui bahwa pesantren kami adalah pesantren salaf alias pesantren tradisional. Di samping cara berpakaiannya yang tradisional yang disimbolkan dengan sarung, kopyah dan terompah, di pesantren kami para santri juga dilarang bermain musik. Alasannya sangat literlek, karena Nabi pernah melarang bunyi-bunyian semisal gendang ataupun seruling dalam hadis-hadis ahad. Sebuah alasan yang sebenarnya menjadi perkara yang debatable hingga saat sekarang ini karena sebagian pemikir muslim lainnya mengatakan tidak apa-apa yang penting tidak mengundang syahwat birahi dan kemaksiatan lainnya.

Pengalaman ini dimulai dari kekagetan saya saat pertemuan alumni pesantren yang dilaksanakan di rumah seorang alumni di daerah Jl. Babatan Surabaya, sebuah wilayah yang identik dengan kultur Madura. Tapi jangan dibayangkan bahwa rumah alumni tersebut jelek macam apa yang kita persepsikan selama ini tentang rumah orang-orang Urban Madura yang jelek di rantau, tapi megah di tempat asal. Rumah teman saya tadi terhitung megah karena saking besarnya hingga menghubungkan dua jalan. Jalan Demak dan Jalan babatan, dengan gerbang tinggi menjulang dan gedung tiga lantai. Megah itu setidaknya munurut pandangan saya. Tapi bukan rumahnya yang membuat istimewa akan tetapi pertemuan saat itulah yang menjadi istimewa. Apa istimewanya pertemuan itu. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa kecuali kami mendapati beragamnya warna alumni yang ada. Mulai penjual palawija hingga distributor laptop, mulai dari pengasuh TPQ Kapasbaru hingga pemilik orkes melayu terkenal di Surabaya yaitu OM. Putra Buana. “how can?!” begitu gumanku dalam hati tak percaya dengan kenyataan yang ada. Seorang Alumni pesantren yang mengharamkan musik malah menjadi pemilik orkes dangdut yang identik dengan nilai-nilai syahwati itu. Saat dulu saya mendengar bahwa seorang alumni menjadi penyanyi gambus saja saya sudah tidak percaya, lah ini malah menjadi pemilik orkes dangdut atau melayu, “it’s so crazy!” tak habis pikir, tapi beginilah kenyataannya.

Saya tak akan menilai itu sebagai keburukan atau kebaikan, biarlah keburukan dan kebaikan menjadi nilai pada masing-masing individu. Yang terpenting bagi saya tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar aturan negara. Apalagi orkes melayu milik senior saya itu juga tidak menyediakan minuman keras macam orkes-orkes melayu jalanan yang lumrah ada di Surabaya. Jadi paling tidak saya melihat ada point positif di sana. Saya memang melihat bahwa senior saya murni menjual seni ke masyarakat dan tidak menonjolkan goyangan porno dan minuman keras macam orkes lainnya. Untuk hal itu saya salut.

Satu lagi macam santri yang saya temui adalah salah seorang ‘pemain’ (broker) politik tingkat Jawa Timur. Koneksitasnya luas, cara bergaulnya juga khas para broker negara dunia ketiga yang memang ada peran-peran tak terekspos yang dimainkan. Menjumpainya seperti menjumpai prototype orang Madura penguasa Tanah Abang Jakarta tahun 80-an yang selalu berseteru dengan orang Ambon di Tanah Abang. Mungkin orang bisa bilang dia makelar kasus, bisa juga bilang dia preman kelas kakap, bisa juga bilang dia adalah jagoan atau bahkan seorang pahlawan. Whatever, saya tidak bisa mendefinisikannya. Bagi kami yang hidup biasa-biasa saja, orang seperti dia sangat berpengaruh, tapi sebenarnya ada ‘pemain’ tingkat nasional yang sepak terjangnya tak pernah bisa disentuh oleh kepolisian, tak usah saya menyebutnya. Di dunia preman kelas kakap, mereka sudah tahu sama tahu.jika menyebut inisial “TM”.

Selain itu, ada juga para alumni yang hidupnya tidak seberuntung orang-orang di atas, mereka adalah para sopir lyn yang ditinggal penumpangnya karena jadwal angkot yang tak jelas dan membludaknya kendaraan pribadi di setiap rumah, atau para tukang becak yang kadang sehari tak dapat penumpang. Nah, point terpentingnya menurut saya ada di sini. Di sinilah seharusnya peran alumni lain yang sudah terhitung mapan untuk membantu alumni-alumni yang kurang beruntung. Dengan apa, tentu dengan apa yang bisa dikembangkan oleh mereka. Jika ikatan alumni hanya untuk meminta sumbangan, mending bubarkan saja ikatan ini jika tidak bisa bermanfaat bagi para anggotanya. Sebagai anggota memang kita akan berpikir bagaimana membedayakan organisasi alumni yang relatif muda ini tapi pihak pengurus tak selayaknya memegang pepatah ini akan tetapi lebih tepat menggunakan paradigma “apa yang bisa diberikan kepada anggota”. Wallahu’a’lam.

Komentar
  1. syaifur02 mengatakan:

    itu tandanya santri tidak di cetak jadi kyai atu ustad, dia mencoba keluar dari zona subtansinya, tapi itu smua pasti ada hikmahnya.

  2. al mengatakan:

    namanya juga dinamoka kehidupan”bunga-bunga kehidupan”
    sama kaya telur….. slama jadi telor warna n bentuknya merib tpi ktka sudah netas….. macam-macamlah warna n bentuknya…… wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s