Guru Kami Kiai Abdul Hamid Bata-bata

Posted: Desember 6, 2012 in Motivasi, Renungan
Tag:, , , , ,

Kiai Abdul Hamid Bata-bata

Kiai Abdul Hamid Bata-bata

Saat itu, saya sedang sangat bergairah ala muslim model FPI dan Jama’ Tabligh. Sampai-sampai, dalam berpakaian saya memakai khamis selutut layaknya orang-orang Pakistan, dengan kopyah putih di atas kepala. Saat itu saya sowan ke kiai karena ada suatu perlu. Saat itu, kiai bertanya, “kenapa kau berpakian seperti itu?” dengan yakin saya menjawab, “ittiba’ li sunnatir rasul”. Saat itu tiba-tiba kiai tertawa dan berkata, “betulkah?”saya jawab lagi, “iya, Kiai”. Entahlah saat itu tiba-tiba saya kok pengen menanyakan pendapat kiai tentang FPI, jawab beliau, “mungkin terlalu keras”. Hanya itu yang beliau ucapkan, tapi dampaknya padaku sangat besar sekali. Saya tak jadi masuk FPI, saya tak jadi ikut Jama’ Tabligh, dan saya kemudian kembali berpakaian seperti biasanya layaknya para santri tradisional. Walau sesekali jubah selutut masih saya pakai dan saya simpan.
Sebenarnya siapa sih Kiai Abdul Hamid Bata-bata itu. Pertanyaan ini selalu terpikir dalam benak saya karena para santri dan orang-orang selalu membicarakannya, mulai dari kealimannya, kewara’annya, hingga karomah-karomahnya. Akan tetapi pertanyaan-pertanyaan ini selalu tersimpan dalam benak saya. Dan baru menemukan jawabannya saat saya kuliah pasca sarjana di IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UIN Sunan Ampel). Saat itu, seperti biasanya saya suka pergi ke perpustakaan untuk sekedar membaca. Dan kemudian saya temukan sebuah buku yang ditulis oleh seorang peneliti Malaysia dalam sebuah desertasi doktoralnya tentang Islam di tengah Madura. Di sana saya menemukan tentang silsilah Kiai Abdul Hamid Bata-bata. Selain itu saya juga baca buku Silsilah Bujuk Itsbat yang disusun oleh Kiai Sa’id Bangsalsari Jember.

Nah, dari sana saya mendapati bahwa Kiai Abdul Hamid ini adalah putra dari Kiai Ahmad Mahfudz bin Kiai Zayyadi yang menikah dengan Nyai Salma. Lah Nyai Salma adalah kakak tertua dari Kiai Abdul Majid, kakek Kiai Hamid. Sedangkan dari jalur ibu bernama Nyai tuhfah, putri Kiai Abdul Majid, pendiri Pondok Pesantren Bata-bata. Dari kedua jalur ini, akhirnya bertemu di Kiai Abdul Hamid bin Istbat Banyu Anyar, pengarang kitab Tarjuman yang sangat terkenal pada zamannya itu. Atau dengan kata lain, kedua orang tua Kiai Abdul Hamid masih terhitung sepupu.

Keunikan dari Kiai Hamid Bata-bata adalah cara beliau ngemong kepada para santri, seakan-akan kami para santri beliau merasa sebagai anak-anak beliau. Kiai Hamid tidak mewajibkan shalat berjamaah secara bersamaan layaknya pesantren-pesantren lain. Tapi anehnya musholla kami, selalu hilir mudik para santri berjamaah. Pesantren kami juga memakai adab ala Ta’lim Muta’allim dalam keseharian kami terutama kepada para guru-guru kami, tapi hebatnya kami tidak kehilangan daya kritis kami di kelas. Sering kali perdebatan-perdebatan panjang di antara para santri bahkan santri dengan ustad terjadi begitu sengit, tapi kami tetap menghormati, mencium tangan ustad kami dan berdiri dengan tangan bertemu tangan untuk sekedar menghormati guru kami yang lewat.

Jujur saja, fasilitas pendidikan di Pondok Bata-bata itu terbatas jika dibanding dengan sekolah-sekolah unggulan di Surabaya. Tapi hebatnya banyak acara, seminar, pentas acara hingga kerjabakti yang kami helat dan kami berhasil! Itulah hebatnya Kiai Abdul Hamid Bata-bata.

Saya sendiri adalah santri yang agak nakal pada zamannya walaupun saya tetap sekolah dengan rajin dan belajar dengan rajin pula. Pernah suatu kali, saya ingin keluar pondok tapi surat ijin sudah habis sedang Kiai tidak ada di pendapa tempat biasanya kami meminta ijin keluar. Kontan, saya langsung masuk ke dalam musholla yang terletak di sisi ndalem, dengan posisi berdiri dan tangan bersedekap tanda hormat, serta menghadap ke ndalem Kiai. Saya berkata, “Kiai, saya minta ijin untuk keluar”. Setelah selesai dan kembali ke asrama, ada seorang teman yang bertanya, “Loh kok mau keluar. Sudah ijin ke Kiai?” saat itu saya jawab, “sudah. Saya sudah ijin ke kiai.” Pernah pula, saat akan idul Adha, saya ingin pulang, tapi pihak perijinan pesantren hanya memberi saya surat ijin TIDAK BERMALAM. Akan tetapi saya tidak kekurangan akal, kata TIDAK-nya saya coret dengan satu tarikan bulpen sehingga jika kita baca akan terbaca, SURAT IJIN TIDAK BERMALAM atau surat ijin bermalam. Saat itu saya menginap 3 hari di rumah. Saat kembali kepala keamaan tingkat asrama memanggil saya. Kemudian saya jelaskan alasan saya sehingga ia tak bisa menghukum saya. Karena ia kalah argumentasi, kemudian ia membawa saya ke Kepala Keamaan Pondok, saat itu dijabat Ustad Siraj. Perdebatan pun terjadi antara saya dengan Ustad Siraj hingga pada satu titik kemudian, Ustad Siraj berkata, “begini saja. Apakah kamu ikhlas jika rambutmu saya potong?” dalam hati saya berkata, “Waduh, kok yang ditanyakan masalah ikhlas?!” akhirnya saya menjawab, “Iya, Ustad. Saya ikhlas.” Akhirnya kepala saya pun petal. Masalah ini rupanya terbawa hingga alam bawah sadar saya sehingga suatu hari saat tidur saya bermimpi dihukum oleh pihak pesantren dengan dimasukkan ke dalam sebuah kamar.

Kiai Hamid adalah kiai yang sabar. Pernah suatu kali saya akan mengadakan orkes gambus. Beliau menanyakan hal tersebut pada saya. Ya seperti biasanya, saya menjelaskan panjang lebar. Beliau tersenyum dan berkata, “Kalau Abdul Hamid, iya. Tapi saya kan juga sebagai Kiai Bata-bata. Kalau Kiai Bata-bata, tidak.” Jawaban beliau yang pendek tapi dalam ini langsung membuat saya mencoret agenda orkes gambus dari acara yang akan saya helat.
Banyak kenangan tentang beliau. Dan lewat tulisan ini saya ingin mengucap banyak terima kasih atas bimbingan intelektual dan spiritual yang begitu indah. Hingga sekarang saya masih merindukannya dalam mimpi-mimpiku.

Komentar
  1. aldowb mengatakan:

    Good idea plus mengharukan… kesembuhan beliau adalah harapan ku

  2. Muhib Saims mengatakan:

    Sungguh sulit dicari model ulama seperti beliau, nek santri model koyok sampeyan isik akeh…. wkwkwk

  3. Nabeel mengatakan:

    Very good, add me..!

  4. raul W mengatakan:

    Waduh waduh waduh… Kok ngg ada yg mbahas tentang “putera” kiai Abdul Hamidx tho.. minjam istilah mas Arwana : Mengharukan.

  5. aldi mengatakan:

    bata oke… panyepenpun oke

  6. muhsi mengatakan:

    Waaah.keren.banget artikelnya…spntsx ada wadah informasi web santri2 muba jenius .ni

  7. Kang Sabar mengatakan:

    Ihsan Maulana memang mantap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s