Kerancuan Bid’ah Syekh Uthaimin

Posted: Februari 8, 2013 in Cangkruan, pemikiran, Tafsir
Tag:, ,

shalih-al-utsaiminTulisan ini tertarik untuk saya kemukakan secara ulang karena beberapa saat yang lalu, seorang teman yang terindikasi Wahabi menyalahkan saya yang melaksanakan maulid Nabi di rumah saya sendiri. sebenarnya saya agak marah. Bukan karena tuduhannya yang menyatakan bahwa saya melakukan bid’ah tapi karena saya merasa tak diperkenankan mengungkapkan rasa kerinduan saya pada kekasih saya Muhammad Sang Kekasih hati. Saya merasa apa hak dia melarang saya merayakan hal yang saya anggap benar sebagai sesuatu yang salah bahkan menyesat-nyesatkan saya. Setelah saya pancing, akhirnya saya tahu bahwa ia adalah pengikut Syekh Utsaimin DKK.

Syekh Utsaimin sendiri adalah seorang tokoh ulama’ Wahabi yang banyak mengarang kitab. Sehingga banyak pemikirannya yang dipakai oleh orang-orang Wahabi, terutama pemikirannya tentang bid’ah yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Pendapat Imam as Suyuthi.

Dalam kitabnya Al Ibda’ Fi Kamaali As Syar’i Wa Khatharil Ibtidaa’ Syekh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin berkata :

قوله (كل بدعة ضلالة) كلية, عامة, شاملة, مسورة بأقوى أدوات الشمول والعموم (كل), افبعد هذه الكلية يصح ان نقسم البدعة الى اقسام ثلاثة, أو الى خمسة ؟ ابدا هذا لايصح.

Hadits “KULLU BID’ATIN DHALALATUN” (semua bid’ah adalah sesat), bersifat general, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti umum yang paling kuat yaitu kata-kata seluruh (Kullu). Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian ? selamanya pembagian ini tidak akan pernah sah. (Syekh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, al Ibdaa’ fi Kamali as Syar’iy wa Khatharil Ibtidaa’, hal; 13)

Dalam uraian diatas kita dapati syekh al ‘Utsaimin menutup kemungkinan kata Kullu untuk memiliki makna lain, bahkan beliau mensifati Qadhiyah “KULLU BID’ATIN DHALALATUN” tersebut dengan sifat Kulliyah (general), ‘Ammah (Umum), Shamilah (menyeluruh) dan memandang qadhiyahBid’atin Dholalah” (bid’ah adalah sesat) telah dipagari dengan Adat Syumul wal Umum (kata yang berindikasi umum dan menyeluruh) terkuat, yang berarti tanpa kecuali. Sehingga dalam akhir redaksi diatas kita dapati pernyataan selamanya pembagian ini tidak akan pernah sah.

Selanjutnya mari kita buktikan apakah Syekh al ‘Utsimin konsisten dengan pernyataannya, bahwa:

– Kata Kullu yang tidak dapat bermakna sebagian, atau beliau memberlakukan kata Kullu tidak dapat bermakna sebagian hanya khusus hadits diatas?
– Bid’ah tidak akan pernah sah untuk dibagi selamanya…( benarkah Syekh ‘Utsaimin akan tetap konsisten dengan pernyataanya ini? )

Untuk membuktikannya, silahkan perhatikan dalam kitabnya yang lain Syekh al ‘Utsaimin berkata :

ان مثل هذا التعبير (كل شيئ) عام قد يراد به الخاص, مثل قوله تعالى عن ملكة سبأ : (وأوتيت من كل شيئ) و قد خرج شيئ كثير لم يدخل في ملكها منه شيئ مثل ملك سليمان. ( الشيخ العثيمين , شرح العقيدة الواسطية, ص : 336 )

Sesungguhnya redaksi seperti ini “KULLU SYAY’IN” (segala sesuatau) adalah kalimat general yang terkadang dimaksudkan pada makna terbatas, seperti firman Allah Ta’ala tentang ratu Saba’; “Ia dikaruniai segala sesuatu”. (QS, An Naml: 23). Sedangkan banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalam kekuasaannya, seperti kerajaan Nabi Sulaiman. (Syekh al ‘Utsaimin, Sharah al Aqiidah al Wasithiyyah, hal 336)

Disini kita dapati Syekh al ‘Utsaimin mematahkan tesisnya sendiri tentang ke-umum-an arti kata Kullu dengan mengacu pada kenyataan, bahwa tidak semua berada dalam kekuasaan ratu Saba’, karena kenyataannya banyak yang tidak masuk dalam kekuasaannya termasuk kerajaan Nabi Sulaiman. Pertanyaannya, mengapa beliau tidak melakukan hal yang sama (melihat kenyataan) pada hadits “Kullu Bid’atin Dholalatun”. Terlebih jika memperhatikan hadits-hadis yang lain….

Berikutnya, apakah beliau tetap konsisten dengan pernyataanya selamanya pembagian ini (bid’ah) tidak akan pernah sah ? berikut pernyataan beliau selanjutnya :

الاصل في امور الدنيا الحل فما ابتدع منها فهو حلال الا ان يدل الدليل على تحريمه, لكن امور الدين الاصل فيها الحظر, فما ابتدع منها فهو حرام بدعة الا بدليل من الكتاب والسنة على مشروعيته ( الشيخ العثيمين , شرح العقيدة الواسطية, ص : 336 )

Hukum asal dalam perkara perkara dunia adalah halal, maka inofasi (bid’ah) dalam urusan dunia adalah halal, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Tetapi hukum asal dalam urusan agama adalah terlarang, maka apa yang diperbarukan / diadakan (bid’ah) dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari al Kitab dan Sunnah yang menunjukkan ke-masyru’-annya (keberlakuannya). (Syekh al ‘Utsaimin, Sharah al Aqiidah al Wasithiyyah, hal 639-640)

Dalam penjelasannya diatas Syekh al ‘Utsimin mematahkan pernyataannya yang lain setidaknya dalam dua hal:

-di atas beliau berkesimpulan: selamanya pembagian ini (bid’ah) tidak akan pernah sah, tapi kenyataannya beliau membagi bid’ah dengan dua macam: yakni Bid’ah Dunia dan Bid’ah Agama.
– Di atas sudah menyatakan keumuman makna kata Kullu, tetapi pernyataanya disini kita dapati adanya bid’ah yang tidak sesat yakni bid’ah dunia.

Selanjutnya mari kita cermati pandangan beliau tentang realita pendirian pondok pesantren, menyusun ilmu, mengarang kitab dan yang lain sbb :

ومن القواعد المقررة ان الوسائل لها احكام المقاصد, فوسائل المشروع مشروعة, ووسائل غير المشروع غير مشروعة, بل وسائل المحرم حرام, فالمدارس وتصنيف العلم وتأليف الكتب وان كانت بدعة لم يوجد في عهد النبي صلى الله عليه وسلم على هذا الوجه الا انه ليس مقصدا بل هو وسيلة, والوسائل لها احكام المقاصد, ولهذا لو بنى شحص مدرسة لتعليم علم محرم كان البناء حراما, ولو بنى مدرسة لتعليم علم شرعي كان البناء مشروعا ( الشيخ العثيمين , الابداع فى كمال الشرع وخطر الابتداع , ص : 18-19 )

“Dan diantara kaedah yang ditetapkan adalah bahwa “Perantara (wasilah) itu memiliki hukum-hukum maqoshid (tujuan) nya. Jadi perantara untuk tujuan yang disyari’atkan adalah disyari’atkan (pula), dan perantara untuk tujuan yang tidak disyari’atkan (perantara tsb) juga tidak disyari’atkan, bahkan perantara tujuan yang diharamkan adalah haram (hukumnya). Adapun pembangunan madrasah-madrasah, menyusun ilmu, mengarang kitab, meskipun itu semua Bid’ah dan tidak ditemukan/tidak didapati pada masa Rosululloh SAW dalam bentuk seperti ini, namun ia bukan tujuan melainkan hanya perantara, sedang hukum perantara (wasilah) mengikuti hukum tujuannya. Oleh karena itu bila seseorang membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu yang diharamkan maka membangunnya dihukumi haram, dan bila membangun madrasah untuk mengajarkan ilmu syari’at, maka pembangunannya disyari’atkan.” (Syekh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin, al Ibdaa’ fi Kamali as Syar’iy wa Khathari al Ibtida’ , hal; 18-19)

Coba kita perhatikan tulisan yang berhuruf tebal miring di paragraf diatas, sekali lagi secara implisit beliau mematahkan tesisnya tentang ke-umum-an arti kata Kullu, bahkan secara implisit pula beliau telah membagi bid’ah dalam kategori “WASILAH” (perantara) dan “MAQASHID” (tujuan). Sehingga jika kita cerna dengan logika bahasa, maka mafhum dari apa yang beliau katakan adalah :

– Jika Bid’ah itu berupa “WASILAH” (perantara) maka hukumnya mengikuti “MAQASID” (tujuan) tanpa memandang apakah itu urusan dunia atau urusan agama.
– Adanya “WASILAH BID’AH” dan “WASILAH BUKAN BID’AH
– Hukum “WASILAH BID’AH” mengikuti hukum “MAQASHID” yang berarti terbagi menjadi lima, yakni wajib, mandzubah, mubah, makruh dan haram.

Jika mereka ( salafi / wahabi ) tidak mau mengategorikan “WASILAH” termasuk bid’ah, lantas apakah bisa dikategorikan sunnah dalam pengertian mereka? Kenyataanya mereka tidak mau menganggap sunnah terhadap apa-apa yang tidak ada pada masa Nabi SAW dan para Sahabat dan justru dengan bersikeras menganggapnya sebagai bid’ah sesat….

Selanjutnya jika mereka (salafi/wahabi) memang konsisten dengan pendapat SyeKh al ‘Utsimain diatas tentang hukum “WASILAH”, lantas mengapa mereka sedemikian beraninya menganggap membaca kitab-kitab Maulid (Sirah Nabawi, pujian melalui qoshidah dan Shalawat) adalah Bid’ah Sesat? Apa memang tidak ada perintah baca sholawat? Apa memang tidak ada para sahabat yang bercerita tentang Nabi SAW? apa memang tidak ada sahabat yang memuji Nabi SAW dengan senandung Nasyid mereka…? Atau karena mereka (salafi) tidak/belum tahu? Atau tidak mau tahu?… Atau jangan-jangan mereka menganggap kitab-kitab MAULID adalah MAQASHID (tujuan)?.

Wallahu A’lam

Iklan
Komentar
  1. syaifur02 berkata:

    hal yang paling rentan dlm terjadinya konflik adalah ” Fanatisme”, namun yang jelas, islam yang laksana berlian dilihat dari sisimanapun tetap bersinar. tpi eksistensinya adalah Satu atau dalam istilah filsafatnya BEING (sang ADA). mengenai maulud saya sepakat bid’ah.

    • Ihsan Maulana berkata:

      Saya sepakat tentang pembagian bid’ah menurut Imam Jalaluddin Al- Suyuthi, beliau membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Dan maulid Nabi jumhur ulama’ adalah Bid’ah hasanah

  2. Ruslianto berkata:

    Begitulah Wahabi,.. semua di bid’ah-kan,… Masjid didalamnya ada kuburan, bid’ah kata Wahabi,… Padahal saya masuk Masjid Nabawi di Madinah ada terdapat Makam Rasulullah.
    Wass.

    • Ihsan Maulana berkata:

      Mereka salah dalam mengartikan bid’ah. Kalangan Wahabi biasanya akan mengacu pada konsep bid’ah Syekh Uthaimin di atas. Sedangkan mayoritas umat Islam mengacu pada konsep bid’ah para ulama’ terkemuka seperti al allamah Syekh Jalaluddin Al Suyuthi, Imam Nawawi, dst… Inilah perbedaan kita dengan mereka. Cuma bedanya kita tidak menyerang mereka tapi mereka menyerang kita dengan menyatakan bahwa kita ahlil bid’ah. Jika melakukan kebaikan yang tidak atau belum dilakukan pada masa nabi adalah ahli bid’ah. Maka saya adalah ahli bid’ah

  3. belajar berkata:

    Ya akhi.. Bid’ah dunia, yg berkaitan dgn dunia.. Mobil dan sepeda motor yg keluar dari pabrik yg sudah baku dan standar, setelah anda miliki maka boleh anda modifikasi dan ditambah perangkatnya! Tapi kalo persoalan iman, ketakwaan dan akidah, semua yg dr syariat tidak boleh di modifikasi atau ditambah! Islam diturunkan sudh sempurna! Salam

    • Ihsan Maulana berkata:

      Ya Akhi, bacalah artikel di atas terlebih dahulu. Pahami dan jika ada tulisannya yang hendak engkau sanggah. sebutkan! Dengan begitu kita berharap tidak terjadi debat kusir

  4. anonim berkata:

    pertanyaan saya dalam hal ini sebagai org awam.. yg hnya ingin mngikuti Sunnah Rosulullah dan para sahabat… Apakah pantas kita mendahului Rosul dan Para sahabat dalam beramal..?? dan satu lagi.. jika amal bid’ah itu di terima dan mndapat pahala.. tentulah para sahabat akan cemburu kpda kita di akhirat nanti krena mlakukan amal ibadah yg tdak sempat mreka Rodiyallohuanhu lakukan… wallohu ‘alam.. sya butuh jawabannya..

    • Ihsan Maulana berkata:

      Baiklah… Terima kasih Mas Anonim (Semoga kedepan menyebut nama :)) 1. Tidak ada istilah mendahului rasul dan Sahabat dalam beramal. Kami semua beriman kepada Allah dan Rasulnya, mencintai para sahabatnya, mengikuti al-Qur’an, hadis, ijma’ dan melakukan ijtihad. 2. Sepertinya Anda orang yang tahu betul bahwa para sahabat adalah para pencemburu :). Jadi begini, Mas Anonim, saran saya, “Bacalah”

  5. […] karena menganggap hal tersebut sudah selesai dan membuat-buat akan hal itu adalah bid’ah. (Lih Konsep Bid’ah Syekh Uthaimin) Lah, ternyata bid’ah mereka berbeda dengan konsep bid’ah kita sehingga membuat […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s