Evolusi Prostitusi di Surabaya

Posted: April 28, 2013 in Awewe, Cangkruan, pemikiran, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, , , , , , ,

Di Surabaya, prostitusi sudah mulai ada jauh sebelum kota ini menjadi pusat perdagangan bagi Nusantara bagian timur. Prostitusi menjadi semakin masif saat seorang menir Belanda bernama Dolly yang awalnya adalah seorang PSK kelas kakap di kawasan Eropa Surabaya (daerah JMP sekarang) memutuskan menjadi seorang mucikari dan mendirikan sebuah wisma di daerah yang sekarang dikenal sebagai Gang Dolly.

Usaha tante Dolly ini pun kemudian berkembang dengan bertambahnya wisma-wisma yang didirikan oleh para mucikari lain di sekitar Gang Dolly. Lokalisasi Gang Dolly pun kemudian menjadi lokalisasi kelas utama di Surabaya. “Barang” (sebutan untuk pelacur di lokalisasi Dolly) yang ada di sana pun terhitung baru dan berusia muda dengan berbagai tipe yang bisa dinikmati oleh lelaki hidung belang.

Para pensiunan Dolly kemudian masih berusaha mengais-ngais sisa-sisa kedigdayaan mereka dengan tinggal di sebuah kampung dekat Gang Dolly bernama Kampung Jarak. Para penjaja seks kelas dua inipun lambat laun memenuhi Kampung Jarak hingga untuk membedakan mana yang bukan rumah PSK dan rumah PSK, para warga memasangi tulisan “Rumah Tangga” di atas pintunya. Kampung inipun sekarang kita kenal dengan nama kawasan lokalisasi Jarak yang dalam administrasi ke-lokalisasi-an masih masuk menjadi satu dengan lokalisasi Dolly. Saat ini yang biasa disebut dengan lokalisasi Dolly adalah lokasisasi yang ada di wisma depan dari JL. Putat Jaya bagian depan yang bisa dilalui oleh mobil sedangkan yang disebut dengan lokalisasi Jarak adalah wisma-wisma yang ada di dalam gang-gang kampung dan untuk mencapainya kita perlu berjalan kaki karena lebar jalan yang hanya berkisar dua meter saja.

Lokalisasi kemudian hari berkembang pesat di Kota Surabaya. Dalam pengamatan penulis setidaknya ada beberapa titik lokalisasi di Surabaya yaitu Dolly, Jarak, Kremil, Bangunsari, Moroseneng, Embong Malang, Demak, Rel Sepur, Jagir,  Pattaya, Dupak, Pangsud, Sengseng, Kembang Kuning, Diponegoro, Kramat Gantung dan seterusnya yang konon menurut Dwita Rusmika, pemilik kaos Cakcuk Surabaya lebih dari 30 lokalisasi.

Menurut laporan Jawapos pada halaman metropolis tahun lalu menyebutkan bahwa jumlah penguni wisma di Dolly dan Jarak berkurang dari tahun sebelumnya begitu pula yang terjadi di Kremil. Bahkan belakangan, Wali Kota Surabaya, Tri Risma, melakukan serangkaian gerakan untuk menutup lokalisasi-lokalisasi lagendaris di Kota Surabaya. Beberapa gerakan mutakhir adalah penutupan lokalisasi Kremil dan lokalisasi Dolly. Berbagai gerakan dan kompensasi pun ditempuh oleh pihak Pemerintah Kota untuk menutup berbagai lokalisasi tersebut. Dan secara kuantitatif it works.

Akan tetapi jika menelisik lebih jauh dengan mau melihat fenomena pelacuran saat ini. Ternyata berkurangnya para penghuni Dolly dan Kremil bukan karena berkurangnya pelaku prostitusi di Surabaya akan tetapi semakin tak bisa dilokalisirnya para pelaku protitusi akibat berkembangnya teknologi komunikasi mulai dari telepon seluler hingga internet. Sehingga para pramunikmat tidak perlu lagi mangkal di lokalisasi hanya untuk sekedar mendapatkan tamu. Mereka saat ini hanya tinggal di kos atau rumah mereka untuk kemudian menerima pesanan lewat telepon ataupun via chatting, sebagian dari mereka biasa mangkal di tempat-tempat umun seperti di mall, diskotik, nightclub dan memiliki kode-kode tertentu yang hanya diketahui oleh sesama PSK dan para hidung belang . Mereka ini biasanya dikenal juga dengan cewek panggilan atau perek.

Transaksi pun tak lagi dilangsungkan via tatap muka tapi bisa dilayani via online yang dieksekusi via jumpa darat. Dan parahnya, cara seperti ini dianggap lebih elegan dan menjual. Jika di Dolly, harga PSK dipatok 200 ribu maka dengan via phone, satu kali kencan bisa mencapai jutaan rupiah untuk one nite service. Sehingga tanpa mengurangi penghargaan saya terhadap berbagai upaya pemerintah dalam usaha menutup prostitusi-prostitusi tradisional, prostitusi telah berpindah dalam cara yang lain dan sudah tidak tercluster seperti dalam prostitusi tradisional.

Sehingga selain upaya penutupan lokalisasi, juga perlu dibuat seperangkat kebijakan dan political will untuk mencegah prostitusi terselubung. Akan tetapi yang terjadi saat ini, yang terjadi malah kebalikannya. Menemukan PSK di bawah umur bukan lagi perkara yang sulit. Belum lagi layanan private sex yang suka atau tidak suka sudah disediakan oleh pengelola hotel di berbagai wilayah. Tanpa political will yang kuat, upaya penutupan lokalisasi hanya akan mempercepat prostitusi mempunyai wajah baru dan tak lagi terkendalikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s