Ahlul Kitab dan Pilihan Hidup di Amerika

Posted: Januari 9, 2014 in Cangkruan, Fiqih, pemikiran
Tag:, , , ,

1094542_10200785753906332_1018039809_oSaat saya di Indonesia, para ulama’ dan cendekiawan muslim selalu memperdebatkan tentang status dan definisi ahli kitab sebagaimana yang dimaksud dalam al-Qur’an. Yang intinya, pendapat tersebut terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama, adalah mereka yang beranggapan bahwa ahlul kitab adalah orang Yahudi dan Nasrani yang masih memegang teks asli Taurat ataupun Injil. Jika mengacu pada pengertian ini maka menurut mereka orang Yahudi dan orang Nasrani hari ini tidak dapat disebut sebagai ahli kitab. Kedua, adalah mereka yang berpendapat bahwa ahli kitab adalah orang Yahudi dan Nasrani tanpa terpengaruh apakah kitab yang dipegangnya itu asli kitab Taurat dan Injil ataukah sudah ada susupan atau bahkan sudah dipalsukan sebagian besarnya.

Dampak dua pendapat ini kemudian berpengaruh terhadap cara berpikir pengambilan hukum fiqih. Setidaknya dalam dua perkara. Pertama, seperti yang saya rasakan saat sekarang adalah berkaitan dengan hukum hewan hasil semebelihan mereka. Kedua, tentang pernikahan dengan ahli kitab.

Baiklah, kita bahas tentang masalah hukum hasil sembelihan ahli kitab. Saat di Indonesia, saya menerapkan pendapat pertama yang menyatakan bahwa ahli kitab adalah mereka yang masih memegang kitab Taurat dan Injil yang asli. Akhirnya saya membatasi diri dengan hanya memakan hewan hasil sembelihan orang Islam. Bahkan jika diberi ayam goreng atau daging sapi oleh tetangga saya yang Kristen, saya memilih untuk tidak memakannya walaupun saya tetap menerimanya dengan senyum dan ucapan terima kasih sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan saya sebagai seorang tetangga. Bertahun-tahun saya merasa nyaman dengan keadaaan ini karena saya mendapatkan suplay makanan yang memadai karena memang rata-rata penyembelih hewan di Indonesia adalah orang Islam yang berarti hampir semua hewan sembelihan di Indonesia halal. Hingga suatu saat, saya memperoleh beasiswa untuk mengikuti kuliah pendek di Kanada. Saya mendapatkan beasiswa untuk belajar di Coady International Institute, St. Francis Xavier University, Antigonish, Kanada. Lah, di sana saya dihadapkan pada problem makanan. Jika mengacu pada cara pandang saya selama ada di Indonesia, maka kemungkinan besar saya akan kelaparan. Karena di sana yang ada adalah babi, makanan hasil sembelihan orang Kristen dan ikan tuna. Tapi syukur Alhamdulillah, saya termasuk orang yang mengikuti perdebatan istilah ahlul kitab dalam agama Islam. Sehingga sejak itu saya memutuskan bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah mereka yang beragama Kristen dan beragama yahudi tanpa kecuali. Pandangan saya ini kemudian diperkuat dengan kenyataan bahwa pada zaman nabi yang terpisah waktu 5 abad atau 500 tahun dengan nabi Isa (Yesus) untuk orang Kristen dan ribuan tahun sejak era Musa bagi orang Yahudi al-Qur’an masih menyebut orang Yahudi dan Nasrani sebagai ahlul kitab. Padahal jika mengacu pada teori ketidakaslian Taurat dan Injil, maka hampir bisa dipastikan bahwa Taurat dan Injil mereka tidak asli. Lalu kenapa al-Qur’an, Nabi dan para sahabat tetap menyebut mereka sebagai ahli kitab, maka jawaban atas semua ini adalah bahwa aslinya taurat dan Injil tidak mempengaruhi status mereka sebagai ahli kitab (semoga tak ada yang bertanya saya dapat dari kitab apa tentang penjelasan saya tersebut karena itu hasil ijtihad saya secara aqliyah-logika-).

Perkara yang kedua adalah tentang pernikahan dengan ahli kitab. Para ulama juga berbeda pendapat tentang hal ini sebagaimana kelanjutan perdebatan tentang status ahli kitab. Tapi kita jelaskan sedikit tentang hukum menikahi ahli kitab. Dalam fiqih-fiqih Syafi’iyah, laki-laki muslim boleh menikahi wanita ahli kitab tapi wanita muslim tidak diperkenankan menikahi pria ahli kitab (sebagian kaum penggiat gender mungkin tidak setuju terhadap hal ini ). Alasannya kenapa kalau laki-laki boleh sedang perempuan tidak boleh. Karena laki-laki lebih kuat sehingga diharapkan jika dia menikahi wanita ahli kitab, kelak mereka akan jadi seorang wanita muslimah. Paling jeleknya si pria muslim ini tetap bisa menjaga keimanannya. Nah, jika wanita muslim karena ditakutkan ia akan ikut agama suaminya maka hal tersebut kemudian dilarang. Walau hukum pernikahan dengan ahli kitab diperbolehkan lagi-lagi ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa Kristen dan Yahudi sekarang termasuk ahli kitab sehingga boleh dinikahi sedang sebagian yang lain berkata bahwa Yahudi dan Nasrani sekarang tidak dapat disebut sebagai ahli kitab sehingga tidak boleh dinikahi. Nah untungnya saya tidak perlu mengalami dilemma ini karena Alhamdulillah saya sudah menikah dengan wanita muslimah.

Pertanyaan berlanjut. Iya, jika itu di Amerika atau Eropa yang mayoritas orang Kristen atau yahudi. Lalu bagaimana jika di India atau Thailand yang mayoritas orang Hindu dan orang Budha. Jujur, saya juga pusing jika ditanyakan hal seperti ini karena saya belum dapat dalil yang jelas (sharih) terhadap permasalahan tersebut. Tapi Nur Kholis Madjid misalnya pernah berkata bahwa Budha itu dibawa oleh seorang Nabi bernama Sidharta Gautama begitu juga dengan Hindu yang dibawa pula oleh seorang Nabi. Saya perlu berhati-hati memang dengan pernyataan yang satu ini karena minimnya bukti atas kenabian Gautama Budha dan juga pendiri agama Hindu. Tapi memang dahulu saat saya kuliah strata satu, saya pernah belajar di Vihara selama satu bulan untuk memenuhi tugas mata kuliah. Saya tidak menemukan satu pernyataan pun yang menyatakan bahwa Gautama Budha mengaku sebagai Tuhan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Tuhan orang Budha bukan lah Gautama dan begitu pula dalam agama Hindu, Tuhan mereka bukanlah dewa-dewa tersebut. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s