Kakek Tua Penjual Burung

Posted: Mei 24, 2014 in Cangkruan, pemikiran
Tag:, , ,

burungSabtu siang 24 Mei 2014, sepulang mengantar ibu ke rumah kakak. Ku lihat dari kejauhan seorang kakek memikul bungkusan yang entah apa isinya. Ku lihat ia menawarkan sesuatu di panas terik itu dan ku lihat ia tak berhasil membuat orang-orang membeli barang yang ia tawarkan. Kakek it uterus berjalan melewati jalan dimana aku berdiri. Melihat aku memperhatikannya, ia pun berhenti pas di depanku. “apa itu, kek?” tanyaku pada lelaki tua itu. “Burung, mas”. Jawabnya. Ku lihat giginya sudah tak ada lagi di barisan gusinya. “berapa?” tanyaku. Ia menjawab,”empat puluh ribu”. Sebenarnya terpikir dalam hatiku bahwa dua ekor burung dalam sangkar yang ia tawarkan 40 ribu itu murah bagiku karena itu berarti hanya 4 US dollar saja. Kalau di Kanada, uang segitu hanya dapat air mineral dua botol tanggung. Dasar aku tak suka burung,  aku pun menawar burung tersebut, “tidak boleh kurang?” ia menjawab, “boleh sedikit”. Aku mengajukan tawaran, “20 ribu ya?” ia menjawab, “35 ya mas.” Ia memberikan harga. “dari kejauhan ibuku member isyarat agar aku tak membeli burung. Tapi aku masih mengajukan tawaran yang sama sambil hendak berlalu, “20 ribu kek” begitu kataku. Tanpa ku sangka ia mengiyakan tawaranku dank u beri 22 ribu rupiah untuk dua ekor burung. Niatku sebenarnya bukan membeli burung, tapi hanya kasihan saja melihatnya di tenggah terik matahari menjajakan burung. Paling tidak aku berniat ingin melihatnya tersenyum mendapatkan uang walau aku tak tahu mau ku apakah burung itu. Tak lupa sebelum kakek itu pergi aku bertanya berapa harga sangkar burung sederhananya itu. Ia menjawab 5 ribu dan segera ku bayar tanpa ku tawar lagi. Sesampai di dalam rumah, aku menaruh burung itu dan masih kebingungan mau ku apakah. Langsung saja ku ajukan usul ke ibuku, “bu, burungnya ku lepaskan ya?” aku meminta persetujuan pada ibu. Tapi rupanya ibu punya pendapat lain. Beliau menyatakan tidak usah sambil ku lihat bahwa sebenarnya ibu suka burung. Hal itu menjadi kesimpulanku karena dulu ibu memintaku untuk menangkap burung yang bersiul indah setiap pagi di pohon depan rumah. Tapi kala itu tak dapat kulakukan karena pohonnya memang sangat tinggi dan ibu tak mengijinkanku menaiki pohon tersebut. Apalagi setelah ku lihat ibuku memberi minum dan buah pada dua ekor burung yang baru ku beli itu. Ku lihat burung itu pun merasa tak takut pada ibuku dengan langsung meminum air yang diberikan ibu dan memakan buah yang juga diberikannya.

Dilema mengahmpiri diriku, di satu sisi aku beranggapan bahwa Tuhan menciptakan burung bukan untuk berada di dalam sangkar tapi untuk berada di alam bebas. Tapi di sisi lain, ibuku tak memperbolehkanku. Akhirnya aku kembalikan pada hukum asal, mentaati ibu adalah wajib dan melepaskan burung kea lam bebas adalah sunnah. Maka perkara wajib haruslah didahulukan. Karena landasan ini aku pun memenuhi perintah ibu untuk tak melepaskannya.

Di Indonesia, memelihara hewan memang belum ada aturan baku terutama terkait memelihara burung. Sehingga burung di Indonesia masih menjadi komoditas perdagangan. Semoga suatu saat pemerintah memiliki kebijakan tak boleh memelihara burung di rumah-rumah agar kelestarian alam kita tetap terjaga dan agar burung-burung dapat bersiul indah di alam bebas. Amin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s