Islam takfiri

Posted: September 28, 2014 in filsafat, Fiqih, pemikiran
Tag:,

“Dulu Moyang Kami Mengislamkan Sekarang kau Mengkafirkan”

Ihsan MaulanaAkhir-akhir ini mulai marak sekelompok orang yang mengaku Islam, bicara mereka berapi-api, sebagian terlihat fasih melafalkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis dan sebagian lagi bacaannya kacau balau seakan tak mengenal tajwid. Tak segan-segan mereka mengambil microfon sesaat setelah shalat wajid 5 waktu sebagian lain giat mengadakan kajian-kajian keislaman di kampus-kampus umum, sebagian lagi menyebarkan bulletin-buletin yang memperkosa logika.

Konsep Dasar islam

Islam itu sederhana, jika kau percaya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka kau sudah Islam. Dawuh Nabi SAW, “man qala La ilaha illallah dkhala al-jannah-barang siapa yang berkata La ila illallah maka ia akan masuk surga”. General statemen ini diucapkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan riwayat yang sohih.

Konsep di atas itu mengandung makna siapapun yang mengucap dua kalimat syahadat maka ia harus diperlakukan sebagai muslim, yang artinya adalah ia harus dijaga kehormatannya, haram darahnya dan bangkainya harus dihormati dan dimuliakan layaknya orang Islam lain.

Dari hadis lain tentang lima rukun Islam, maka dilengkapilah definisi keislaman itu dengan mengucap dua kalimat syahadat, shalat 5 waktu, zakat, dan pergi haji bagi yang mampu. Sehingga seharusnya mereka yang telah memenuhi kriteria ini apapun madhabnya dan apapun ideologi politiknya maka ia harus dianggap sebagai orang Islam dan diperlakukan sebagai saudara sesama Islam.

Islam yang Mengkafirkan

Dulu nenek moyang kami, para penyebar agama Islam era awal di Nusantara, para Wali Songo telah berhasil membuat Jawa yang mayoritas Hindu-Budha dan telah mencapai budaya yang tinggi di derajat keagamaan Hindu telah berhasil diislamkan. Para Wali tak pernah menuduh-nuduh nenek moyang kami dengan sebutan sesat dan lain sebagainya. Mereka menghormati kepercayaan kami, tersenyum dengan penuh welas asih pada kami sehingga kami, nenek moyang kami dengan ikhlas hati dan senang hati berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Tahun berganti, dua tiga abad pun telah berlalu. Saat kami mantab dengan keislaman yang kami pahami. Tiba-tiba, datang segerombolan orang yang ndadanannya mirip dengan para syaikh, mirip dengan para kyai-kyai kami, bereka berpidato dengan semangat sekali. Awal kali kami tertarik, terus kami mendengarkan tetapi semakin kami mendengarkan semakin resah hati dan pikiran kami. Para orang tua kami mereka salahkan, para nenek moyang kami mereka salahkan. Keislaman kami mereka salahkan, orang tua kami mereka kafirkan. Semua hal yang kami lakukan mereka bid’ahkan.

Beberapa orang di antara kami kemudian tertarik dengan apa yang mereka sampaikan. Mereka para anak-anak muda itu mulai membatasi pergaulan dengan kami. Mereka tak mau makan sedekah upacara tahlil kami, mereka tak mau membaca al fatihah pada orang-orang tua kami. Mereka menyesatkan semua yang kami punya. Hingga pada satu titik, sebagian dari kami berpikir, adakah mereka benar atas segala tuduhan mereka bahwa para orang tua kami sesat dan begitupun pula dengan kami ataukah mereka yang sesat karena telah menyesatkan kami.

Lama ku tercenung. Dalam ketermenungan, saya ambil kitab dasar yang dulu diajarkan pada kami para santri di pondok pesantren. Kalimat itu dengan tegas tertulis, man kaffara akhahu musliman fahuwa kafir yang artinya barang siapa yang mengkafirkan saudaranya yang Islam maka ia telah kafir. Lalu plong lah dada kami, kami tidak pernah mengkafir-kafirkan apa yang mereka amalkan tapi merekalah yang mengkafir-kafirkan kami dan apa yang kami amalkan, mereke menyebut kami ahlul bid’ah, zindiq, dll. Maka biarlah mereka dengan propaganda oengkafirannya yang penting jangan ganggu dan jangan nodai masjid kami, majelis taklim kami, pesantren kami dan anak-anak kami. Wallahu a’lam

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s