Khazanah Cinta Film Haji Backpacker

Posted: Oktober 6, 2014 in Awewe, cinta, filsafat, pemikiran, tasawuf
Tag:, , , ,

Sebenarnya saya tak terlalu menaruh harap pada film yang satu ini karena awal kalinya saya mengira bahwa film ini hanya akan bercerita seseorang yang memilih menunaikan haji melalui jalan darat menyusuri Negara demi negara layaknya para jamaah haji Indonesia beberapa abad lalu tapi prasangka saya mulai berubah saat melihat permulaan cerita di sebuah tempat hiburan malam di Thailand. Sebuah cerita dengan lakon seorang pemuda bernama Mada yang menjadi penanda film ini telah diputar. Perlahan kita dibawa ke dalam kehidupan Mada. Di awal cerita diceritakan bahwa Mada adalah seorang pemuda yang hedonis menjalin hubungan tanpa status dengan seorang TKW bernama panggilan Marbel dan bernama asli Mariati. Jalan cerita meninggi dengan kematian sang ayah dan terbunuhnya seorang preman di Thailand. Dari sini cerita terlihat mulai menarik. Karena terpaksa menghindari kejaran para preman Thailand, Mada kemudian menjelajah ke Vietnam, kemudian melalui media kardus ia terbawa ke China, setelah itu atas saran seorang kawannya di China ia kemudian pergi ke India melalui Nepal, kemudian berlanjut ke Tibet, dan melalui Iran, hingga akhirnya menuju Makkah Arab Saudi.

Disamping jalan cerita yang menceritakan kekayaan budaya masing-masing Negara. Film ini menjadi menarik dengan sentuhan visi film tentang pencarian cinta sejati, sebuah alur tentang cinta yang dialami hampir oleh semua anak muda di dunia, tentang keikhlasan dan kepasrahan akan takdir yang membawanya terus berjalan menyusuri kehidupan.

Setting Mada yang berasal dari daerah santri (jika tidak salah setting tempatnya seperti di ampel Denta, Surabaya) menambah nuansa tersendiri bagi saya yang juga dididik dalam keluarga santri di Surabaya.  Mada diceritakan sebagai orang yang taat beragama hingga ia mencintai seorang wanita cantik lagi anggun bernama Sofia. Mada sangat yakin bahwa Sofia adalah wanita yang ditakdirkan Tuhan untuknya. Ia yakin bahwa Tuhan merestui hubungannya dengan Sofia. Pada saat ia berada dalam puncak cinta dan keoptimisannya itu, mada harus patah hati sepatah-patahnya saat sang calon istri meninggalkannya pas sebelum akad nikah. Hal itu kemudian membuatnya berbalik arah tak mau lagi dengan Tuhan yang selama ini ia merasa telah melaksanakan segala kewajiban atasnya dan selalu berdoa kepada-Nya.

Perstiwa tersebut membuatnya terjerembap pada dunia hedonistic hingga ia kemudian berkenalan dengan kitab al Hikam karya Syeikh Athoillah yang diberikan oleh seorang Imam di China. Dari sinilah konsep dirinya berubah dan kemudian berusaha mengikhlaskan cintanya dan mau kembali pada jalan Tuhannya.

Kehendakku kehendak Tuhan

Pelajaran terpenting dari film ini bukanlah pada perjalanannya yang melalui Sembilan Negara tapi pelajaran terpenting dari film ini adalah contoh kesalahkaprahan kebanyakan anak muda yang menganggap bahwa kehendaknya adalah kehendak Tuhan. Cerita kesalahan di film ini membawaku jauh ke masa beberapa tahun yang lalu dalam hidupku di saat aku dimabuk kepayang oleh cinta dan di saat lain aku beribadah; solat dan melakukan kebaikan-kebaikan yang ada dalam tradisi keislaman Indonesia. saat itu, aku memuja seorang wanita yang cantik rupawan dan telah menawan hati ini lewat senyuman indahnya dibalik kerudung yang ia gunakan. Apalagi setelah tahu bahwa ia menghambarkan hatinya untukku. Saat itu hari-hari penuh dengan keindahan, berhari-hari selalu terbayang akan dirinya, mengingatnya dengan penuh syukur  dalam setiap solat dan doa-doaku hingga akupun kemudian merangkai jalan cerita di masa depan dengan dirinya. Mengganggapnya sebagai anugerah dari Tuhan yang telah ditakdirkan untukku (padahal ia belum ku nikahi) hingga pada satu titik ia dijodohkan dengan laki-laki lain dan ia menerima lelaki pilihan keluarganya itu. Saat itulah nama-nama yang selalu ku kenang dengan indah dalam setiap solat dan doaku berubah menjadi kepedihan nyata yang membuat air mata ini menetes tiada henti dalam setiap solat bukan karena khusyuk tapi karena mengingat namanya. Tak cukup sehari dua hari air mata ini menetes tapi berminggu-minggu. Hingga pada waktu aku tersadar bahwa ada kesalahan mendasar dari anggapanku selama ini yaitu aku menganggapnya sebagai cinta dari Tuhan, aku menganggapnya sebagai cinta yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Kesalahanku kedua adalah aku terlalu lancang menyusun rencana masa depan seakan-akan tiada lagi Tuhan yang pemilik rencana dan pemilik pengejawantahannya.

Inilah yang terlihat dari konsepsi cinta seorang Mada dalam film Haji Backpacker yang dinarasikan secara  apik oleh sang sutradara. Selamat atas keberhasilan film ini memberikan sentuhan nilai spiritual tanpa harus menggurui para penonton. Semoga ke depan film Indonesia menghasilkan film-film berkualitas lainnya yang secara prinsip dan nilai berbeda dengan film Hollywood.

Iklan
Komentar
  1. ramadhani1897 berkata:

    Sayang ya mas, sebagian besar penonton justru melihat film sebagai showbiz belaka. Memang kadang saat melihat atau menyaksikan sesuatu ada semacam ledakan kesadaran akan sesuatu hal. Namanya juga ledakan, sempat mendentum tapi setelah itu tak terdengar lagi, padahal efeknya menjelajahi seluruh jiwa. Tapi ya itu, hampir tak terasa. Semoga kita semua jadi orang-orang yang selalu istiqamah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s