Idealis itu Khelaf!

Posted: Desember 22, 2014 in Cangkruan, filsafat, pemikiran, Pitakonan, Renungan
Tag:, , , ,

Ihsan MaulanaKhelaf itu idealis dan idealis itu adalah khelaf

Khelaf adalah konsep yang ada di dunia pesantren di Jawa dan Madura. Sebagian lain menyebutnya sebagai jadab. Jadab sendiri adalah sebuah istilah bagi orang yang telah mencapai penyatuan dengan tuhannya (al-shakr billah). Orang itu kemudian lupa akan segala sesuatu di sekelilingnya.  Sedangkan Khelaf, berasal dari bahasa Arab khilaf yang artinya berbeda. Dalam kultur Indonesia Modern, khilaf atau silaf seringkali diartikan sebagai salah. Tapi istilah khelaf dalam tradisi pesantren tidak dalam kapasitas tersebut.  Khelaf dalam tradisi pesantren Madura adalah kharijun lil ‘adah, keluar dari tradisi atau cara berprilaku masyarakat kebanyakan.

Saya tertarik untuk berbicara tentang hal ini setelah perbincangan saya dengan putra guru saya yang biasa dipanggil dengan sebutan Ra Tohir. Ra Tohir bernama lengkap Raden Kyai Haji Muhammad Tohir bin Raden Kyai Haji Abdul Hamid bin Raden Kyai Haji Ahmad Mahfudz.beliau adalah keturuan Raden Kyai Haji Abdul Hamid bin Istbat, pendiri pesantren tertua di Madura, yaitu, pesantren Banyu Anyar, Pamekasan, Madura. Sebutan Raden didapatnya dari jalur Bujuk Agung, Toronan, Pamekasan, sedangkan Ibu beliau adalah cucu ulama besar asal Bangkalan, Syaikh Kyai Haji Muhammad Kholil Bangkalan. Ra Tohir sendiri suka menyebut dirinya sebagai Muhammad Tohir Zain. Hal ini dilakukan karena ada dorongan jiwa mudanya yang menginginkan dirinya dikenal sebagai diri sendiri (known by him self) dan bukan dikenal sebagai anak seorang kiai besar. Kembali lagi pada perbincangan saya dengan putra guru saya ini. Beliau bercerita tentang seorang kawannya, puta seorang kyai, kawannya tersebut dikenal sebagai orang yang khelaf. Pada suatau ketika Ra Tohir bertanya pada sang kawan tentang perkataan orang sekelilingnya yang menganggapnya sebagai orang khelaf, Jawaban kawannya saat itu “saya khelaf? Saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar. Sedang mereka terbiasa berada dalam keadaan yang salah”. Ingatan saya saat itu teringat pada perkataan Freud tentang kegilaan, ia berkata bahwa kegilaan adalah hanyalah prespektif kita tentang suatu jalan berpikir yang tak sama dengan kita yang mungkin bagi mereka kitalah yang gila.

Lebih jauh, hal ini mengingatkan saya saat berada di pesantren, hampir semua teman sekamar saya memanggil saya khelaf atau jadab. Mungkin terasa sebagai sarkasme bagi saya atau terasa sebagai olok-olok tanpa saya pahami kenapa saya disebut sebagai khelaf atau jadab. Ternyata itu lebih pada kebiasaan saya yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan teman-teman. Suatu misal, saat teman-teman lain, selalu meminta ijin setiap kali keluar pesantren maka saat itu saya berpikir bagaimana caranya agar saya dapat keluar pesantren berkali-kali tanpa harus ijin berkali-kali, pikiran saya ini kemudian menjadi format surat ijin kolektif yang saat itu hanya bisa dipakai oleh santri aktifis. Pernah lagi suatu ketika saya melakukan ibadah shalat tanpa memakai baju dan hanya memakai sarung saja. Tentu saja saya dianggap khelaf oleh teman-teman. Padahal saat itu kondisinya adalah semua baju yang saya miliki terkena najis dan satu-satunya yang suci hanya sarung saja sehingga saya memilih shalat tanpa memakai baju dibanding saya meninggalkan shalat atau shalat dengan memakai baju yang terkena najis. Dan banyak lagi aktifitas saya yang mungkin tidak dapat teman saya mengerti tapi saya punya jawaban atas keheranan mereka itu andai mereka mau bertanya.

Dari semua itu, saya berkesimpulan bahwa khelaf itu adalah mereka yang selalu berpegang pada prinsip. Tak peduli apa kata orang. Khelaf itu adalah mereka yang mau berpikir out of the box alias berpikir di luar kotak. Karena jujur saja, sering kali kita semua dibatasi oleh batasan-batasa orang-orang di sekeliling kita yang memandang dirinya dari ketakutan-ketakutan dan tak berani mengatakan yang benar sebagai benar dan tak berani bersikap apa adanya walau orang berkata apa.

Saya mungkin termasuk orang yang tidak bermadhab pada kaidah ajining diri soko busono-harkat martabat diri terletak pada busana yang dipakai. Saya memakai pakaian untuk menutupi aurat dan untuk menjalankan fungsi estetika Tuhan. Saya lebih suka memakai apa adanya daripada saya harus hidup dalam kepura-puraan.

Khelaf bagi saya adalah idealis. Ntah bagi Anda?! Tapi jika Anda merasa bahwa pendirian Anda benar maka tunjukkan saja dengan cara yang baik setelahnya terserah orang mau berkata apa, dan terserah orang mau melakukan apa. Yakinlah, idealitas lah yang kelak akan membedakan Anda dengan orang lain, karena kita adalah makhluk yang unik. Wallahu a’lam.

Komentar
  1. Muhammad Haqiqi mengatakan:

    Mantap Bang Ihsan !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s