Ibuku

Posted: Februari 16, 2015 in cinta, filsafat, Motivasi, pemikiran, Renungan, Tokoh
Tag:,

Wajah terindah itu tak bisa ku lihat lagi

Dan dunia pun tak lagi menarik bagiku

Seperti kidung bisu yang dipertontonkan

07 Januari 2015 Menjelang waktu subuh di Ciputat, aku menerima panggilan telepon dari adikku, Aris di Surabaya. Ia mengabarkan bahwa Ummi (panggilan buat ibuku) Sakit. Ia minta saranku mau dibawa kemana. Aku menyarankan dibawa ke RKZ Surabaya (sebenarnya saat mengucap “RKZ” yang saya maksud adalah William Booth. Saya hingga hari itu tidak bisa membedakan antara keduanya). Setelah menerima kabar, setelah shalat subuh, aku segera ke kampus SPs UIN Jakarta untuk memesan tiket pesawat secara online. Kampus ku pilih karena wifi di kampus hidup 24 jam nonstop. Setelah mencari, aku pun mendapat tiket jam 10 pagi. Walau tiket pesawat jam 10 pagi, tapi pikiranku sudah kemana-mana, aku takut terjadi apa-apa pada ummi.

Dengan diantar oleh Said, temanku, ke terminal Lebak Bulus, aku menaiki Bus Bandara dan baru sampai di Surabaya jam 11.20. Sesampai di Surabaya, aku langsung menuju rumah untuk mengambil motor dan segera ke RS tanpa peduli apakah sudah memberi tahu istriku atau tidak dan tidak pula keluarga lainnya. Sesampai di RS. Ibu sudah masuk ICU. Bingung aku dibuatnya. Ikhtiarku, apapun akan saya lakukan yang penting ibu bisa sehat kembali. Bahkan aku membisikkan ke telinga ibu, “jika ibu sehat ayo bu kita pergi umrah”.  Adikku pun bernadzar jika ummi sehat ia akan ber-aqiqah buat Ummi. Tanda tangan demi tanda tangan diajukan oleh dokter untuk pengobatan Ummi harus kami lakukan. Puncaknya, Jumat jam 1.30 Dinihari, Ummi dinyatakan meninggal oleh dokter. Saat itu terjadi, aku merasa telah hilang lah sudah motivator sejatiku selama ini, yang menyemangati saat aku sedang dibawah, yang memberiku alasan untuk terus berjuang di dunia ini, yang selalu mengajariku untuk selalu menjaga shalat.

Ibu, ia telah mengukir indah kehidupannya dengan perjuangan, ia rela menyimpan pedih agar anaknya tak bersedih, ia rela menahan lapar asal anaknya kenyang. Meninggalnya Ummi yang mendadak benar-benar memukulku. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya bahwa aku akan hidup tanpa dirinya. Tapi, inilah hidup. Kematian adalah satu fase yang akan dilewati oleh semua makhluk yang hidup.

Ibuku bagiku lebih dari sekedar ibu biologis yang hanya mengasuh ragaku. Ia ada guru pertamaku membaca al-Qur’an, ia adalah guru pertamaku yang mengajari bagaimana cara shalat, ia yang mengajariku tentang arti kebaikan dalam hidup, ia yang mengajariku dan adik-adikku agar dimanapun kami berada kami tak lupa pada shalat. Itu lah ibuku, wanita yang makanannya dapat ku rasakan betul energi keikhlasan dan kasih sayangnya. Masakan yang tak akan pernah ku dapatkan lagi sepertinya. Ia telah mengukir indah kehidupannya, dari tangannya mengalir beras-beras bagi orang miskin, dari hatinya memancar ketegaran yang belum aku temukan lagi di dunia ini. Selamat Jalan, Ummi!. Kelak, aku akan menyusulmu, Insyaallah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s