Puasa Pertama tanpa Ibu

Posted: Juni 17, 2015 in Cangkruan, cinta, Renungan
Tag:, ,

scan0014Ibuku adalah orang yang melahirkan aku, tapi bukan itu yang membuatku merasa kehilangan. Tapi, ibuku adalah orang yang menyemangatiku saat aku putus asa, ibuku adalah orang pertama yang tak terima jika aku dihina, ibuku adalah orang pertama yang mengajariku tentang norma, ibuku adalah orang pertama yang mengajariku menjadi seorang muslim yang baik, ibuku adalah orang yang siap lapar yang penting anaknya kenyang. Sedari kecil aku memang hidup dengan ibu dan kedua adikku.

Ramadhan ini disambut dengan gegap gempita oleh umat Islam tak terkecuali aku, saudaraku, dan ibuku. Tapi semenjak wafatnya ibu di bulan Januari kemarin, Ramadhan mengingatkanku akan ibu mengingatkanku pada bagaimana beliau tak pernah mengeluh karena harga sembako naik di hadapan anak-anaknya. Beliau mengajariku dan adik-adikku niat berpuasa Ramadhan dan kami menirunya dengan suara polos anak kecil, menuntunku untuk berdoa sebelum berbuka dan pula berdoa sebelum makan sahur dan kami menerimanya dengan senang dan sedikit malas-malasan. Ibuku bukan seorang terpelajar, ia tak pernah mengenyam kehidupan pesantren walau kakeknya adalah seorang tokoh agama di kampung, ibuku juga bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, ia hanya protolan SD saja walau pamannya adalah seorang pedagang besar di Pasar Pabean pada era 80 s/d 90-an. Kami berangkat dari keluarga sederhana. Tanah kami banyak, tapi hanya sedikit yang bisa kami gunakan bercocok tanam (itupun hanya selama musim hujan). Selebihnya adalah tanah bebatuan yang tandus walau sekarang mulai diburu orang karena lagi musim batu akik.

Ibuku adalah wanita paling lembut yang pernah aku temui sekaligus wanita paling tegar yang pernah aku saksikan. Saat pengkhianatan hinggap dalam hidupnya, ia menyimpan kepedihan itu dari anak-anaknya agar anak-anaknya dapat tumbuh normal tanpa mewarisi sakit hati ataupun balas dendam. Tapi kami melihat kepedihan itu. Kami bersimpati padanya karena ia tetap menjadi ibu yang baik bagi kami dan mengajari kami tentang kebaikan.

Ini adalah bulan puasa pertama yang harusa aku dan saudara-saudraku lalui tanpanya. Walau setiap sujud, setiap sahur dan setiap berbuka puasa teringat dirinya, kami berdoa semoga apa yang beliau ajarkan menjadi bekal buatnya  dan bekal pula buat kami. Itulah ibuku, wanita yang rela menahan semua hal untuk anak-anaknya. I Love U, Ummi! Semoga Allah ridho padamu dan pada kami semua, Amin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s