Ramadhan Akademis

Posted: Juni 18, 2015 in Cangkruan, Ramadhan, Renungan
Tag:, ,

Apa yang kita pikirkan tentang Ramadhan? Kebanyakan orang Indonesia pasti akan menjawabnya dengan bulan puasa, bulan kenaikan harga-harga sembako, dan bulan memenuhi masjid-masjid. Apa yang kita pikirkan saat mendengar televise di Indonesia saat Ramadhan? Orang Indonesia akan menjawab dengan iklan sirup yang marak, acara komedi menjelang sahur, pengajian menjelang berbuka puasa, dan sinetron “reliji” di prime time. Apa yang dipikirkan para ustad-ustad di perkotaan saat mendengar Ramadhan? Jadwal ceramah dan menjadi imam tarawih yang padat. Apa yang dipikirkan oleh para event organizer saat mendengar Ramadhan? Pertunjukan anak-anak yatim. Apa yang dpikirkan oleh orang-orang kaya di Indonesia saat mendengar Ramadhan? Bagi-bagi zakat dengan memanggil para miskin itu berbaris di depan rumah-rumah mereka.

Sekarang coba kita lihat tema apa saja yang biasanya kita dengar saat Ramadhan. Tema-tema favorit yang biasanya dilakukan oleh muballigh adalah keutamaan berpuasa, hikmah puasa, zakat, keutamaan shalat di bulan tarawih, Ramadhan yang terbagi pada tiga periode, kembali ke fithrah, dan tema-tema sejenis.

Di saat lain, belum ada kesadaran umum di kalangan akademis untuk menciptakan kultur akademis selama Ramadhan. Padahal kita tahu bahwa perintah pertama adalah qira’ah atau membaca. Maka dari itu, mumpung Ramadhan kali ini saya sedang menyepi dari hiruk pikuk panggung Ramadhan. Maka saya memutuskan untuk membuat Ramadhan dengan tradisi akademis. Di tempat kos, saya tantang kawan saya untuk membaca buku, #SatuHariSatuBuku, saya juga tantang kawan-kawan lain untuk menulis, #SatuHariSatuArtikel. Gerakan ini bukanlah penentangan terhadap gerakan #satuharisatujuz yang dicetuskan Yusuf Mansur,  gerakan #YukShalatJmaah dan pula gerakan-gerakan lain. Tapi saya sebagai basic saya sebagai seorang murid yang sedang mencari ilmu, menginginkan faktor buss di sektor lain. Dan tentu sektor yang saya inginkan adalah sektor akademis. Karena saya hidup di dalamnya, pengetahuan adalah madhabnya, berdiskusi adalah kebiasaannya, dan meneliti adalah cara menjawabnya.

Jadi , apa yang saya maksud dengan tradisi akademis, tradisi akademis ialah sebuah tradisi yang berdiri dari kultur pembiasaan diri, disiplin diri, cara hidup seorang pencari ilmu dan bertemu dengan para pencari ilmu yang lain serta berdiskusi satu sama lain. Dalam tradisi akademis, atmosfir yang diciptakan adalah persamaan, keterbukaan, sharing interest, berpikir logis, dan respek.

Dalam semua hal di atas saya bermula dari beberapa hal sederhana, pertama, menantang kawan-kawan akademis untuk membaca, satu hari satu buku, menantang mereka untuk menulis, minimal satu hari satu artikel, dan memebuat grup sederhana yang mewadahi para peminat isu-isu pendidikan. Tentu ini bukan berarti kami meninggalkan al-Qur’an karena kami membaca dalam shalat-shalat kami dan dalam tadarus kami. Dan pula apa yang saya lakukan adalah manifestasi dari pengamalan saya atas ayat-ayat al-Qur’an tentang menjadi pencari ilmu dan hadis-hadis perintah mencari ilmu. sehingga satu kali saya tegaskan bahwa madhab saya adalah pengetahuan. Perbedaan madhab atau cara pandang bukan soal bagi para pencari pengetahuan karena perbedaan cara pandang adalah memperkaya cara pandang kita dalam melihat persoalan.

Iklan
Komentar
  1. ramadhani1897 berkata:

    Jadi teringat kegiatan saya waktu masih mahasiswa bareng kawan-kawan. Kita sering diskusi ilmiah sampai sahur di bulan Ramadhan. Sekarang susah.
    Yang jelas, aktivitas akademik menuntut kesabaran dan pengendalian diri agar kesimpulan ilmiah yang dihasilkan sistematis, terbuka, dan bertanggung jawab. Sesuai dengan pesan-pesan dalam puasa.
    Saya dukung Ramadhan Akademis

    • Ihsan Maulana berkata:

      Terima kasih, Mas Ramadhani.. 🙂 Anda benar bahwa aktifitas akademis menuntut kesabaran dan pengendalian diri. Karena akal sehat, kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghargai adalah jiwa dari aktifitas akademis itu sendiri. terima kasih. #RamadhanAkademis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s