Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Islam yang Satu

Posted: Juni 22, 2015 in cinta, filsafat, pemikiran, Ramadhan, Renungan
Tag:, , , , , , ,

Ada satu hadis terkenal berbunyi, “sataftariqu ummati ala ahada wa sab’ina firqatan”. Akan terbagi umatku pada  tujuh puluh satu golongan. “kulluhum fin nar illa wahida”. Semuanya di neraka kecuali yang satu. “ma ana ‘alayhi wa ashhabiy”. Yaitu yang mengikuti ajaranku dan ajaran para sahabatku. Dalam teks yang lain disebutkan, “ma ana ‘alayhi wa ahli bayti”. Yaitu yang mengikutiku dan sanak keluargaku. Dalam teks yang lain disebutkan pula,”kulluhum fil jannah illa al-wahidah” semuanya di surge kecuali yang satu golongan.

Dalam konteks kekinian, Islam begitu riuh dengan firqah-firqah yang ada. Secara garis besar saat ini ada dua  firqah dalam Islam yaitu Islam Sunni, yaitu Islam yang mengakui para sahabat Nabi semuanya terutama mengakui empat khalifah awal dalam umat Islam; dan Islam Syi’i, yaitu Islam yang mengkritik para khalifah pengganti Nabi dan mereka hanya mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan para anak cucunya.

Di Syi’ah sendiri, mereka terbagi dalam banyak kelompok. Ada Syiah Zaydiah, ada Syiah Imamiyah, dan banyak aliran Syiah lain. Di Sunni juga tidak kalah sengitnya. Ada Sunni Asy’ariyah Maturidiyah model Indonesia, dan Negara-negara Asia Tenggara lainnya. Ada Sunni Wahabi model Arab Saudi. Sunni Wahabi pun terbagi lagi menjadi Sunni Wahabi moderat dan ada Sunni Wahabi garis keras. Muncul pula belakangan ini yang disebut sebagai kelompok Sunni Salafi.

Syukur Alhamdulillah saat ini sudah ada beberapa upaya mempertemukan Islam Sunni dan Islam Syi’i oleh para masyayikh al-Azhar dan beberapa pemuka agama Islam di dunia termasuk di Indonesia. tapi yang menentang upaya ini juga tidak kalah banyaknya. Mereka umumnya mencoba mempertentangkan perkara-perkara yang berbeda dengan alirannya. Padahal jika kita mau melihat kembali, ternyta syahadat kita adalah syahadat yang sama “asyhadu alla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadar rasul Allah” dan al-Qur’an kita juga sama. Kalau bisa dicari titik temu kenapa harus selalu membesar-besarkan perbedaan.

Di tengah hiruk pikuk dan kebingungan umat Islam di antara sekat-sekat terminologis ini, muncul pula sekarang istilah Islam Nusantara yang dicanangkan oleh PB NU akan diusung sebagai tema dalam Muktamar yang akan dihelat di Jombang itu. Islam Nusantara pun mengundang perdebatan yang tidak kalah sengitnya. Sebagian menganggap bahwa Islam Nusantara tidak mewakili Indonesia kekinian dan ada pula yang membid’ah-bid’ahkan istilah Islam Nusantara.

Saya sendiri menghormati istilah Islam Nusantara yang dicetuskan para pengurus tanfidiyah PB NU. Islam Nusantara yang dimaksud adalah Islam subtantif, damai, dan lebih berada dalam dakwah cultural. Akan tetapi jika seseorang bertanya pada saya maka saya kan menjawab cukuplah Islam bagiku. Karena Islam sesungguhnya adalah Islam yang satu yaitu Islam yang damai. Perang adalah satu-staunya pilihan jika tak ada pilihan lain dalam upaya mempertahankan diri bukan untuk menghancurkan. Islam sesungguhnya adalah Islam yang berperadaban. Islam sesungguhnya adalah Islam yang rahmatan lil alamin.

Tentu Anda boleh tidak sepakat dengan saya. Tapi para kakek moyang kita tak pernah menjargonkan Islam Nusantara. Islam ya hanya Islam saja. Islam Nusantara bagi saya lebih terasa politis, geografis, dan sosiologis. Padahal menurut saya, seharusnya Islam lebih dari itu. Islam adalah nilai-nilai. Islam adalah kebenaran mutlak yang bisa ditafsirkan dengan berbagai pendekatan dan keilmuan. Islam bagi saya cukuplah Islam itu sendiri. Jika ini dianut oleh semua kelompok Islam tentu kita semua bisa bertemu tanpa saling menyalahkan dan tetap saling menghormati perbedaa. Wallahu ‘a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s