Memahami Wahabi, Sayang Seringkali Mereka Tak Paham

Posted: Juni 23, 2015 in pemikiran, Ramadhan, Sosial Kemasyarakatan, Tafsir
Tag:, , ,

Wahabisme adalah paham keagamaan yang disandarkan padaMuhammad bin Abdul Wahhab, seorang tokoh Islam di jazirah Arab. Akhir-akhir ini para pengikut Wahabi ini lebih suka menyebut diri mereka sebagai pengikut salaf atau salafi dan seringkali mereka menyebut diri mereka sebagai al-muwahhidun (orang-orang yang beratuhid). Hal ini untuk mengaburkan bahwa diri mereka adalah kaum Wahabi karena mereka lebih suka disebut sebagai pengikut salaf al-shalih. Wahabi sendiri sebenarnya adalah fakta empiris kondisi umat Islam saat ini dan saya tidak punya masalah pribadi dengan mereka. Menjadi bermasalah dengan mereka, karena mereka selalu menggunakan kata bid’ah untuk menyebut seseorang sesat. Lah, parahnya saya  dan semua golongan yang mengamalkan perayaan maulid Nabi, isra’ mi’raj, nuzulul qur’an, perayaan tahun baru hijriah dengan dengan selametan, suroan dan lain sebagainya yang menurut saya benar.  Lah, ini semua mereka bid’ah-kan dan mereka menggolongkan kami sebagai kaum yang sesat. Nah, dari sinilah masalah bermula.

Tapi baiklah, saya mencoba untuk tidak memukul bokong mereka seperti saya menghukum anak-anak saya yang melakukan pelanggaran. saya memilih untuk menelusuri. saya mencoba mencari jawaban kenapa mereka melakukan hal ini. hal ini bermula dari keresahan mereka atas terjadinya khurafat-khurafat yang terjadi di kalangan umat Islam. Sehingga mereka mencoba melakukan “pemurnian Islam” yang terbebas dari TBC (takhayyul, bid’ah dan khurafat) menuju tauhid ulihiyah dan tauhid rububiyah. Pembawa ajaran ini adalah Muhammad bin Abdul Wahhab, dia diangkat sebagai imam urusan agama  bersamaan dengan penetapan Ibnu Sa’ud sebagai amir-nya. Kalaborasinya dengan penguasa Najd (Saudi Arabia) menjadikan paham Wahabi menjadi paham yang cepat berkembang. Mereka menolak setiap kebaruan yang berkaitan dengan “keagamaan” karena menganggap hal tersebut sudah selesai setelah kenabian Muhammad SAW dan berkata bahwa semua hal dimaksud adalah bid’ah. (Lih Konsep Bid’ah Syekh Uthaimin) Lah, ternyata bid’ah mereka berbeda dengan konsep bid’ah kita yang dijelaskan oleh Imam Jalaluddin al-Suyuthi dan para ulama lain, sehingga hal tersebut menghasilkan cara pandang yang berbeda dengan kebanyakan umat Islam dalam memandang masalah bid’ah.

Efeknya, para Wahabiyun (walau mereka seringkali menolak sebutan ini) ini menjadi rentan terhadap tradisi sosial keagamaan yang tidak ada pada zaman Nabi. Misalnya dengan enteng sekali mereka berkata bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid’ah dan tak layak dilakukan dengan apapun alasannya. Merekajuga berkata bahwa segala tradisi perayaan-perayaan yang ada itu semuanya bid’ah. Dahulu, Muhammadiyah sempat membid’ahkan dan menentang dengan keras orang-orang Islam datang ke kuburan, tapi sekarang Muhammadiyah sudah mulai cair, eh, malah adik-adiknya yang lebih parah.

Lalu bagaimana baiknya sikap kita terhadap gerakan Wahabi ini. Jika Anda bertanya pada saya pribadi, tentu saya berkata bahwa pertama saya menyiapkan majlis-majlis bagi mereka untuk berdialog dengan kami di kalangan Islam di Indonesia. Tentu jika mereka menerima. Hal kedua yang harus dilakukan adalah kita sebagai umat Islam yang berpaham pada ahlus sunnah wal jamaah yang moderat (walau kaum Wahabi juga meng-klaim diri mereka sebagai ahlussunnah juga) haruslah terus men-syiarkan Islam gaya kita. Karena menurut kita inilah Islam yang benar dengan tetap menghormati mereka, Ketiga, tetaplah jalin silaturahmi dengan mereka karena bagaimanapun qati’ur rahim tidak diperbolehkan dalam Islam. Keempat, Jika Anda tidak tahan dengan kalimat pedas mereka, tinggalkan saja majelis mereka dan janganlah kekesalan kita menjadikan kita aniaya terhadap mereka karena bagaimanapun mereka tetaplah bersyahadat sama dengan syahadat kita. Selama mereka tidak memaksakan kehendak mereka, biarkan saja, tetapi yang perlu kita jaga adalah majelis-majelis kita, masjid-masjid kita, dan mushalla-mushalla kita, karena seringkali mereka itu aktif dan berani tampil di tempat dimana kita seringkali lalai terhadap tempat ibadah kita. Wallahu a’lam.

 

Iklan
Komentar
  1. ramadhani1897 berkata:

    Kalau sikap saya terhadap Wahabisme sih santai saja. Gerakan keagamaan yang tidak mengapresiasi budaya dan tradisi lokal tak akan pernah berhasil. Setidaknya itu yang terjadi di sepanjang sejarah negeri kita, mulai zaman Imam Bonjol (bahkan sebelumnya) sampai sekarang. Selain itu, dakwah Wahabi cenderung eksklusif, termasuk tuduhan bid’ah yang dilemparkan kepada praktik keagamaan tertentu, sehingga terkesan kasar dan penuh kebencian. Gaya dakwah seperti ini sudah dijamin Allah tak akan didengar dan diikuti orang banyak (QS.Ali Imran:159).

    • Ihsan Maulana berkata:

      Keren! Cuma saya punya pandangan yang sedikit berbeda, Mas. Wahabi di Indonesia lambat laun akan menerima gaya Islam kita yang lebih cair. Hal ini didasari oleh gelanggang perdebatan yang selalu dibuka oleh para ulama atau para kyai kita dan juga oleh kultur Indonesia yang dapat mewarnai setiap apapun yang masuk ke negeri ini. Contoh kongkrit. McD di negeri asalnya itu tidak jualan nasi tapi setelag sampai di Indonesia mereka ikut jualan nasi. Contoh lain, saat saya menonton tari sufi atau tari maulawiyah yang dinisbatkan pada Jalaluddin Rumi, saya melihat hal yang sedikit aneh dibanding tari sufi yang ada di negeri asalnya, yaitu di kopyah panjangnya itu ternyata ada motif batik, keren kan Nusantara kita!

      • ramadhani1897 berkata:

        Boleh jadi begitu, mas. Bagaimanapun dialog antar budaya akan selalu terjadi, saat itu sedikit-banyaknya terjadi pertukaran budaya dan nilai. Soal McD saya ragu deh kalo itu menyesuaikan dgn tulus, mereka begitu biar dapat pelanggan aja (kapitalisme gitu loh). Yang penting saat ini kita mesti menjaga keutuhan negara dengan baik dgn dasar ajaran agama kita yg ramah, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

  2. Ihsan Maulana berkata:

    hehe, Kalau soal McD memang bagian dari kapitalisme adalah menyelaraskan dengan pasar. Tapi terlepas dari apapun motifnya, Nusantara kita memang memiliki kemampuan mengolahnya dengan indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s