Tadarusku yang Hilang

Posted: Juni 27, 2015 in Cangkruan, pemikiran, Pitakonan, Ramadhan, Renungan
Tag:, , ,

Terdengar suara merdu pemuda mengaji dari masjid-masjid di Ciputat pada malam bulan Ramadhan. Ditilik dari suaranya, tampaknya yang mengaji berumur 20 sampai 30 tahunan. Bacaan yang mengingatkanku kembali pada masa kecilku di sebuah kampung di tengah Kota Surabaya. Setiap bulan Ramadhan saya dan anak-anak kampung bergiat ke musolla KH. Ghufron faqih, sebuah langgar kecil yang terletak 100 meter di selatan rumahku.  Kelak dikemudian hari langgar ini berubah nama menjadi masjid Sayyid Abbas al-maliki karena dibangun oleh ustad di kampungku, murid sayyid Abbas yang saya panggil Ustad Ihya’. Sekarang nama resminya menjadi KH. Ihya’ Ulumuddin dan menjadi pengasuh pesantren Pujon, Malang. Di langgar kecil itu, kami, anak-anak SD berkumpul dengan para pemuda-pemuda yang lebih tua mengaji bersama, saling mendengarkan dan saling mengoreksi. Biasanya setelah jam 12, para orang dewasa memilih pulang ke rumah. Namun tidak halnya kami para anak muda di kampung itu. Kami menunggu hingga di langgar hingga sekitar jam 02.00 dinihari. Setelah jam 02.00 dinihari, “alat perang” kami persiapkan, mulai dari botol air mineral, gayuh di kamar mandi langgar, ember, dan pentungan hansip. Tak lupa pula becak tetangga langgar sering kami pinjam untuk acara membangunkan orang sahur.

Pada masa SMP, kami para anak muda`masih kompak berkumpul setiap bulan Ramadhan walau kami berbeda sekolah, memasuki SMA persahabatan kami masih berlanjut, dengan bumbu-bumbu saling ketertarikan beberapa di antara kami dengan para kawan perempuan kami yang mulai menjadi gadis cantik. Setelah kami para lulus SMA. Tampaklah Ramadhan kami mulai berbeda, para pemuda di kampung kami banyak yang memilih langsung bekerja. Berbeda dengan para kawan-kawanku, aku memutuskan untuk kuliah. Ramadhan tiba dan kami yang tetap melaksanakan tadarus hanya tiga orang. Aku, Saipul, teman SD-ku, dan Soleh, temanku yang memilih meneruskan usaha orang tuanya sebagai pedagang barang antik. Empat tahun berlalu, 2006, Soleh sudah sudah tak lagi bertadarus al-Qur’an, tinggal aku dan Saipul. Soleh sudah berkeluarga dan rumahnya tak lagi dekat dengan langgar.

Tahun 2009, aku masih sering melihat Saipul bertadarus al-Qur’an. Sedang aku sudah semakin jarang karena seringkali pulang malam. Tahun 2012, aku menikah dengan gadis Sidoarjo dan tinggal di sana. Kulihat Saipul juga menikah dan memilih tetap tinggal di dekat langgar.

Di tempat yang baru, komplek perumahanku tak ada masjid atau sekedar musolla. Sejak inilah tradisi tadarusku mulai menghilang. Terkadang hanya bisa mendengar bacaan-bacaan al-Qur’an dengan rasa rindu di hati. Lebih sedih lagi jika sesekali ke Surabaya, para peserta tadarus al-Qur’an tak lagi seperti dulu saat saya kecil. Para peserta tadarus lebih tepat diwakili oleh mereka yang umurnya berada di sekitar 40 tahun ke atas. Tak ada lagi tawa riang dan mengaji terbata-bata seperti saat saya kecil. Entahlah, dimana para anak kecil itu sekarang. Bisa jadi bermain sosial media lebih menarik bagi mereka, bisa jadi rumah-rumah mereka lebih menarik dibanding langgar yang sebenarnya sekarang telah menjelma menjadi masjid yang bersih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s