Debat Kusir dan Media Sosial

Posted: Juli 2, 2015 in Cangkruan, filsafat, Fiqih, pemikiran, Pitakonan, Ramadhan, Renungan, Sosial Kemasyarakatan
Tag:, ,

Jika mencari orang-orang bodoh carilah di media sosial, jika ingin mencari orang-orang pander carilah di media sosial, jika ingin mencari orang tidak bertatakrama carilah di media sosial. Di media sosial, persepsi terkadang lebih utama dibanding fakta dan data. Di media sosial, seorang professor bisa dibabat dengan sedemikian sadis oleh orang tidak berpendidikan. Media-media online yang memuja rating pun memperkeruh suasana. Tak jarang mereka mengabarkan atau lebih tepatnya menyesatkan para penghuni media sosial oleh berita-berita sesat mereka. Entah sengaja atau tidak, tapi cara itu banyak berhasil merayu dan menggoda para penghuni media sosial bermental pandir.

Sebut saja, gagasan Islam Nusantara (walau saya tak setuju istilah ini) dibully sedemikian rupa oleh banyak media online dan kelompok-kelompok di media sosial. Asas yang digunakan bagi mereka adalah musuh salah. Mereka melontarkan kata-kata keji dan tak jarang mereka membungkusnya dengan embel-embel nama Islam seperti Gerakan Indonesia Tanpa JIL, dan lain sebagainya.

Belum lagi orang-orang yang sengaja menjual “kekagetan” orang hanya untuk menulis komentar atau me-like halamannya agar dia mendapatkan sponsor. Dan parahnya biasanya melibatkan Like jika suka dank omen Subhanallah. Cara-cara bodoh seperti ini ternyata banyak makan korban dari para orang-orang bodoh.

Tulisan saya ini mungkin agak kasar, tapi ini adalah bentukketidaktahanan saya pada mereka. Terlibat pada perdebatan-perdebatan mereka sama saja melibatkan diri saya dalam perdebatan-perdebatan kusir tak berkesudahan yang sebenarnya dilarang oleh agama Islam. Tapi membiarkannya nongkromng di halaman media sosial kita seringkali membuat kita tergelitik paling tidak untuk menjelaskan duduk perkaranya atau pendapat kita. Tapi sekali lagi, seperti apa kata teman saya, “media sosial bukan untuk bicara serius”. Adakalanya kita harus menertawakan mereka dengan humor yang menyenggol kepandiran mereka. Tapi seperti kata pepatah, apa yang ditulis dengan ketulusan akan dibaca dengan tulus dan apa yang ditulis dengan amarah akan meletupkan amarah pula. Media sosial telah membawa kita pada akses silaturahim tak berkesudahan dan begitupun sebaliknya, permusuhan yang tak berkesudahan dan umpatan tak berkesudahan. Semoga Allah melindungiku dari rasa tinggi hati (walaupun mungkin tulisan ini terasa sangat sombong sekali). Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s