jujur tulisan ini dilatarbelakangi rasa sebel saya saat membaca disertasi seorang kawan bernama Mahrus As’ad (dosen STAIN Metro) yang mensifati paham jabariyah sebagai jumud, tidak kreatif, masa bodoh, dan tidak bergairah menghadapi kehidupan. Lebih lengkapnya berikut adalah tulisannya:

manusia fatalis (jabariyah) adalah manusia yang terlalu menonjolkan sikap pasrah berlebihan terhadap taqdir Allah, akibat kuatnya pengaruh teologi Jabariyah dari al-Asy’ari yang cenderung fatalistis, serta ajaran  tasawuf yang mengedepankan qana’ah secara pasif, yaitu sikap menerima taqdir Tuhan secara total, sehingga menyebabkan terabaikannya kemampuan dan ikhtiat manusia. Keyakinan ini pada gilirannya membawa manusia pada sikap berserah dan bergantung sepenuhnya pada kekuasaan mutlak Tuhan, nrimo, jumud, masa bodoh, tidak kreatif, tidak bergairah menghadapi kehidupan, dan mudah menyerah pada nasib (taqdir) yang secara determinan telah ditentukan Tuhan sebelumnya (Mahrus Mas’ud, 2008, 236)

Kesalahan Mahrus ini adalah dia tidak mendalami paham jabariyah tetapi dia langsung main hantam saja. Memang tulisannya dia sandarkan pada pendapat A.Qadri Azizy (makalah seminar, 2000) dan Mastuhu (Mastuhu, 2000, vi), tapi ketika seseorang menulis dalam disertasinya seperti itu maka berarti itu telah menjadi pendapatnya dan mendukung pendapat itu. Karena tidak ada pilihan narasi lain yang menjelaskan tentang jabariyah dalam disertasinya tersebut.

Saya tertarik untuk menjelaskan lebih lanjut karena saya menginginkan agar orang-orang paling tidak bisa menilai jika saya yang jabariyah ini menjelaskannya dengan sederhana.

Konsep Takdir

Dalam paham Ahlussunnah wal jamaah, ada konsep taqdir yang banyak beredar di kalangan NU, yaitu taqdir mubram dan taqdir mu’allaq. Taqdir yang pasti dan taqdir yang digantungkan. Taqdir yang pasti (mubram) adalah taqdir yang tak bisa diubah-ubah seperti lahir kapan, mati dimana, rejekinya berapa, dan jodohnya siapa. Selain itu adalah taqdir yang digantungkan pada usaha kita (mu’allaq). Seperti kita akan berhasil jika kita berusaha, dan lain sebagainya. Ada konsep taqdir lain yang beredar di kalangan NU dan ahlussunnah wal jamaah pada umumnya yaitu konsep taqdir idhtirari dan taqdir ikhtiyari. Taqdir idhthirari adalah taqdir yang tidak bersamaan dengan kehendak kita seperti kita jatuh, kecelakaan, mengigau, dan lain hal yang sejenis. Sedangkan taqdir ikhtiyari adalah taqdir yang bersamaan dengan kehendak kita seperti shalat, puasa, bersyahadat, melakukan suatu pekerjaan atau meninggalkannya. Dalam konsep taqdir idhthirari dan ikhtiyari, maka taqdir ikhtiyari lah yang mengandung pahala atau dosa. Jika kita melakukan dosa secara secara sadar maka kesadaran kita itulah yang bernilai dosa dan jika kita melakukan kebaikan seperti shalat secara sadar maka kesadaran kita itu lah yang bernilai pahala. Konsekwensinya, shalat yang dilakukan tanpa sadar maka dia tidak bernilai pahala dan begitupun dosa yang dilakukan diluar kehendak kita maka dia tidak bernilai dosa. Konsep taqdir idhthirari dan ikhtiyari ini bisa kita baca dalam kitab Jawahirul Kalamiyah karya Syaikh Thohir bin Sholih aljazairy yang diajarkan di pesantren-pesantren salaf di Indonesia.

Sikap Kita Atas Taqdir

Kalimat yang pas untuk menggambarkan bagaimana sikap kami atas taqdir adalah adegan percakapan dalam film The Last Samurai yaitu percakapan antara Katsumoto dengan Nathan Algren  “do You believe a man can change his destiny?” dan dijawab oleh Algren, “I think a man does what he can, until his destiny is revealed.” Yang kira-kira artinya adalah “apakah kau percaya manusia bisa mengubah takdir?” dan dijawab, “Yang saya tahu manusia akan berbuat sebisa dia sampai takdirnya terungkap”. Kalimat ini pas untuk menggambarkan bagaimana sikap kami para pengikut teologi Jabariyah Asy’ariyah Maturidiyah. Justru karena kami percaya bahwa takdir kami di tangan Tuhan maka kami berusaha semaksimal yang kami bisa untuk menggapai takdir kami hingga takdir kami terungkap. Film lain yang bisa menggambarkan bagaimana sikap kami pada takdir adalah Film Mehmet al Fetih saat Syaikhnya berkata pada dirinya, “Kau harus memantaskan dirimu untuk memenuhi takdirmu”

Sehingga apa yang dituduhkan orang pada kami bahwa kami jumud, masa bodoh, dan tidak kreatif adalah salah besar. Kami memang nrimo pada taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala tapi kami harus melakukan sebaik mungkin yang kami bisa karena dua alasan. Pertama, usaha kami itu juga bagian dari takdir, kedua, karena kami tak tahu taqdir kami apa, maka kami akan berusaha sebaik mungkin sampai taqdir menjawabnya. Mungkin saja taqdir kami di masa depan tak pernah terbayang dalam benak kami sekarang. Yang kami tahu adalah kami akan melakukan hal terbaik yang bisa kami lakukan hari ini. Itulah cara kami kaum jabariyah menyikapi takdir. Justru kepasrahan kami atas hasil pada Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kami lebih kuat dari perkiraan orang dan menjadi lebih tegar dari prediksi matematika manusia biasa. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s