Lafadz Anzala, Laylatul Qadr, dan Turunnya al-Qur’an*

Posted: Juli 6, 2015 in Fiqih, Kitabe Cak, pemikiran, pendidikan, Ramadhan
Tag:, , , , , ,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

  1. إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ .2

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ .3

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ .4

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ .5

  1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Memahami Kata Anzala dan Nazzala

Lafadz Innaa di sini berasal dari kata inna nahnu-sesungguhnya kami- kemudian mengalami proses i’lal maka menjadi kalimat innaa. Kata yang sama bisa kita temukan dalam QS. Al Hijr, ayat 9 yang menyatakan innaa nahnu nazzalna al-dzikra wa innaa lahu lahafidhun.  Sedangkan kata anzala di sini adalah fi’il muta’addi  yaitu fi’il atau predikat yang membutuhkan objek, anzala artinya menurunkan sekaligus. Anzalnaahu berarti Allah menurunkan al-Qur’an itu sekaligus. Lalu apa yang dimaksud turun sekaligus di sini. Yaitu turunnya al Qur’an dari Lawh Mahfudz ke langit dunia. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas tentang ayat ini adalah anzala al-Qur’ana fi laylat al-qadr, tsumma nazzala bihi Jibril ‘ala rasulillah mufashshalan bi jawabi kalamin nas. Yaitu Ibnu Abbas berkata, al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan pada malam Laylatul Qadr, kemudian secara berangsur angsur diturunkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kebutuhan manusia. Riwayat semisal dalam teks yang lain adalah

أنزل الله القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى بيت العِزّة من السماء الدنيا، ثم نزل مفصلا بحسب الوقائع في ثلاث وعشرين سنة على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Allah menurunkan al Qur’an dalam satu kesatuan dari Lawh Mahfudz ke bayt al-izzah yang ada di langit dunia kemudian menurunkannya secara terpisah sesuai kebutuhan dalam rentan waktu dua puluh tiga tahun kepada rasulillah SAW. HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).

Jika sudah selesai dengan ayat pertama. Di ayat kedua dan seterusnya menerangkan tentang laylatul Qadr. Apa itu laylatul qadr. Laylatul qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan atau senilai 83.3 tahun (dengan perhitungan 1000 dibagi 12 sama dengan 83.3 tahun). Ayat ini mempunyai dua makna, satu makna haqiqi dan kedua adalah makna majazi. Makna haqiqi menghendaki arti bahwa secara hakikatnya malam laylatul qadr adalah lebih baik dari seribu bulan. Sedangkan makna kedua yaitu makna majazi dipahami sebagai bahwa malam Laylatul Qadr sangat mulia. Saking mulianya ia bernilai lebih baik dari seribu bulan. Kenapa disebut lebih baik. Karena di sana al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dari Lawh Mahfudz ke baitul Izzah di langit dunia pada malam tersebut dan pula diturunkannya ayat pertama kepada Nabi Muhammad SAW juga pada malam laylatul Qadr tepatnya saat Nabi melakukan uzlah di gua Hira’.

Menurut Quraish Shihab dalam wawasan al-Qur’an (1996), kata Qadar sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni:

Pertama, penetapan dan pengaturan sehingga Laylat al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami

Kedua, kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat

Ketiga, sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Keempat, lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan

Lalu kapan Laylatul Qadar itu terjadi. Dalam banyak riwayat diriwayatkan bahwa laylatul qadr itu terjadi pada hari ganjil di bulan Ramadhan. Bisa tanggal 1 Ramadhan atau bahkan hingga tanggal 27 Ramadhan. Akan tetapi menurut riwayat lain, malam Laylatul Qadr seringkali terjadi di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Gerakan Literasi dalam Semangat Laylatul Qadar

Ada satu hal yang kadang kita lupakan dari momen Laylatul Qadar ini yaitu gerakan literasi kita. Iqra’ yang datang pada ayat pertama, menegaskan pada pemihakan Islam terhadap gerakan literasi. Wajarlah jika pada tahun-tahun berikutnya, proyek umat Islam pertama kali adalah literasi al-Qur’an bukan pembangunan arsitektur masjid, apalagi gedung pemerintahan. Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Abu Bakar dan dikodifikasi pada masa Sayyidina Ustman. Pada masa sayyidina Ali bin Abi Thalib, proyek lietarasi ini dilanjutkan dengan pengharakatan al-Qur’an agar al-Qur’an dapat dibaca dan dipelajari tidak saja oleh orang Arab tapi juga oleh orang Ajami (Non-Arab). Diteruskan pada masa selanjutnya dengan berdirinya masjid khan (masjid yang dipakai belajar mengajar), kuttab (semacam lembaga pendidikan Islam era awal), halaqah (majelis ilmu berbentuk lingkaran yang sudah ada sejak awal Islam), baytul Hikmah (rumah pengetahuan), madrasah (Dulu lebih mirip universitas akan tetapi sekarang lebih menyerupai sekolah tingkat dasar dan menengah), dan penerjemahan-penerjemahan karya-karya klasik Yunani. Setelah itu kita lihat bagaimana penelitian dan gerakan lietarasi menghiasi khazanah sejarah Islam di dunia.

Inilah yang sekarang hilang dari kita umat Islam. Kita punya Iqra’ tapi kita coba lihat bagaimana budaya kita sekarang, budaya kita jauh dari budaya literasi, maka wajar jika Muhammad Abduh berkata, ra’aytul islama walal muslimin wa ra’aytul muslimin walal Islam-aku melihat islam tapi tidak orang Islam dan aku melihat orang Islam tapi tidak Islam. Dalam kalimat lain, al-Islamu mahjubun bil muslimin- Islam itu tertutupi oleh orang Islam itu sendiri.

Ilmu pengetahuan adalah madhab Islam. Penghargaan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan pencari ilmu pengetahuan dilukiskan dengan baik dalam sebuah pepatah Islam, “tidurnya seorang penelitia atau ahli ilmu itu lebih baik dari shalat seribu rakaatnya ahli ibadah”, “duduk satu jam dalam majelis ilmu (belajar atau mengajar) itu lebih baik daripada beribadah sepanjang malam”, dan banyak lagi perkataan para ulama’ tentang keutamaan-keutamaan tersebut. Saat ilmu pengetahuan menjadi madhab kita, maka kejayaan yang inshaallah yang akan kita dapat. Dan saat harta benda serta kekayaan yang menjadi tujuan kita bisa jadi penjajahanlah yang akan kita rasakan. Wallahu a’lam.

* Naskah ini disampaikan dalam pengajian Nuzulul Qur’an pada Ramadhan 1436 H/2015 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s