Makalah Keperawanan

Posted: Juli 13, 2015 in Awewe, filsafat, pemikiran, pendidikan, Ramadhan, Renungan
Tag:, , ,

Data BKKBN tahun 2013 menyatakan bahwa para remaja Jabotabek 51% sudah tidak perawan. Survey lain dilakukan KPPA (Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) dengan menggunakan random sampling pada tahun 2010 menyatakan 80% remaja putri di Ponorogo pernah melakukan hubungan seks pranikah. Sedangkan pada remaja pria, data angka persentasenya sedikit lebih besar lagi. Angka persentase itu berarti dapat dibaca sebagai 4 orang gadis dari 5 orang gadis yang ada di Ponorogo itu sudah pernah melakukan seks pra nikah sehingga sudah tidak perawan lagi.

Angka lebih tinggi diberikan oleh LSCK PUSBIH (lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis Humaniora) pada tahun 2002 yang menyatakan bahwa 97,05% mahasiswi di Yogyakarta telah kehilangan keperawanannya. Lebih jauh, LSCK PUSBIH menemukan fakta dari 1.660 orang responden yang tersebar di 16 perguruan tinggi di kota Yogyakarta, 97,05% dari responden itu mengaku kehilangan keperawanannya dalam periodisasi waktu kuliahnya. Lalu, dari 1.660 responden itu 73% dari mereka itu mengaku melakukan aktivitas seks pra nikahnya tersebut dengan menggunakan metode coitus interupt. Sedangkan selebihnya yang 27% mengaku melakukannya dengan menggunakan alat kontrasepsi. Perihal tempat melakukan aktivitas seksnya tersebut, 63% mengaku melakukannya di tempat kos teman pria partner seksnya. 14% di tempat kosnya sendiri, 21% mengaku di losmen atau hotel kelas melati. 2% di tempat-tempat wisata.

Biasanya, respon pertama yang timbul atas dirilisnya data angka persentase semacam itu adalah soal tingkat validitasnya. Ujungnya bermuara ke soal penolakan atas representasi data sampling tersebut sebagai mewakili komunitas secara keseluruhan. Singkat kata, data itu dianggap terlalu tinggi angka prosentasenya sehingga diragukan validitasnya dan dianggap tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Atau dalam arti kata lain, data itu tidak boleh dipakai untuk meng-gebyah uyah-kan.

Terlepas dari perdebatan soal itu, sesungguhnya memang sudah menjadi pengetahuan umum bahwasanya di zaman sekarang ini yang disebut sebagai seks pra nikah itu sudah jamak dilakukan oleh siswa/i Sekolah Menengah Pertama sampai mereka para mahasiswa/i Perguruan Tinggi. Dimana beberapa tahun yang lalu pun Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) juga pernah merilis data hasil survei di 12 kota besar di Indonesia pada tahun 2007, dimana 62,7% remaja yang duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) pernah berhubungan intim dan 21,2% siswi SMA (Sekolah Menengah Atas) pernah menggugurkan kandungannya.

Selaras dengan asumsi dan data tersebut diatas, konon pada tahun 2007 lalu pernah dirilis hasil dari surveinya Durex dan Harris Interactive yang menunjukkan bahwa usia rata-rata kehilangan keperawanan di Indonesia itu sekitar 19,1 tahun.

Angka usia di Indonesia itu berada di urutan ke 9 dari 10 negara Asia yang disurvei, yaitu Malaysia (23 tahun), India (22,9 tahun), Singapore (22,8 tahun), China (22,1 tahun), Thailand (20,5 tahun), Hong Kong (20,2 tahun), Vietnam (19,7 tahun), Japan (19,4 tahun), Taiwan (18,9 tahun).

Namun, angka usia di Indonesia itu masih diatasnya usia rata-rata di 27 negara Eropa yang sekitar 16 tahun, dengan usia tertinggi di Spanyol yang sekitar 19,2 tahun dan usia terendah di Iceland yang sekitar 15,6 tahun. Maupun juga di Amerika Serikat yang sekitar 18 tahun.

Dari data-data diatas dapat disimpulkan bahwa sekarang ini sudah semakin sulit menemukan gadis yang masih perawan, Sama sebangun, juga berarti semakin sulit menemukan pejaka yang masih perjaka. Dan, beberapa kalangan menengarai bahwa ke masa depan, hal yang sudah sulit ditemukan itu akan menjadi bertambah semakin sulit lagi.

Sebuah Upaya Prefentif

Beberapa kalangan lain mengajukan solusi atas permasalahan itu, yaitu dengan pendekatan pemberian pengajaran sex education terhadap para remaja itu. Tapi, dalam soal sex education yang akan diajarkan kepada para remaja itu, juga masih mengandung polemik.

Yaitu, tujuan utamanya memberikan pengetahuan soal organ reproduksi dan hubungan seks yang sehat dan aman, disertai dengan pengetahuan cara mencegah kehamilan dan penularan penyakit akibat hubungan seks ?. Atau, tujuan utamanya untuk memberikan pengertian agar mereka tidak melakukan seks pra nikah ?.

Jangan-jangan, sebenarnya mayoritas masyarakat Indonesia itu pada zaman sekarang ini memang sudah bisa menerima atau bahkan merestui anak-anaknya untuk melakukan hubungan seks pra nikah asalkan tidak sampai hamil dan tidak tertular penyakit.

Jika demikian, maka makin sahihlah bahwa memang di masa depan itu akan semakin sulit mencari gadis yang masih perawan dan pejaka yang masih perjaka, dalam arti kata yang belum pernah melakukan hubungan seks pra nikah.

Lalu bagaimana cara memberikan sex education yang selaras dengan nilai-nilai ketimuran dan norma-norma agama yang dianut masyarakat Indonesia. tentu salah satu jawabannya adalah dengan mengkonsep sebuah pendidikan seks yang dijiwai oleh nilai-nilai tersebut dan nilai-nilai agama tentunya. Nilai umum yang ada pada agama-agama misalnya semua agama dan tradisi di Nusantara menolak terhadap seks di luar pernikahan. Nilai lain yang bisa kita pakai adalah adat-adat yang memperkenalkan para remaja dengan fungsi seksual, potensi, dan ancamannya, sehingga menjadikan para remaja tersebut memiliki sikap dasar atas  kehidupan seksual mereka. Tentu ini tidak bisa dilakukan dalam satu hari dua hari pelatihan atau workshop tapi butuh semacam kampanye terhadap nilai-nilai kebudayaan ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s