Kesalahpahaman Menempelkan Kaki dan Pundak dalam Shalat

Posted: September 18, 2015 in Fiqih, Kitabe Cak, pemikiran, Pitakonan, Sosial Kemasyarakatan, Tafsir
Tag:, , , ,

Hadis Menempelkan kaki di Shahih BukhariDi tahun 2013, saya pergi ke Amsterdam, Belanda. Di bandara Amsterdam, saya shalat berjamaah dengan kawan-kawan dari Indonesia di sebuah tempat yang disebut Prayer centre atau medition center. Kami shalat seperti kami biasa lakukan di Indonesia dengan cara shaf lurus tapi kaki dan pundak tidak menempel. Selesai shalat, seorang pegawai bandara yang baru shalat dan seorang keturunan Maroko (Maghrib) mendatangi saya. Dia menyatakan bahwa shalat saya salah. Dia menyatakan bahwa seharusnya shalat saya kakinya saling menempel dan begitu pula pundak kami. Ia menyatakan pendapatnya dalam bahasa Arab. Saat itu saya jawab pula dengan bahasa Arab yang saya dapat di pesantren dan sudah 80% lupa karena tidak terbiasa berbasa Arab. Karena saya tidak menguasai bahasa Arab, mau tidak mau dia mendominasi perdebatan kami. Dan saya kalah. Bukan karena saya tak tahu jawabannya tapi karena saya tidak tahu bagaimana cara menjawabnya dengan baik dan benar dalam bahasa Arab.

Tahun 2015, saat saya shalat di masjid Al Firdaus, di dekat rumah saya di Perumahan Pepelegi, Sidoarjo, saat itu shalat Jum’at. Seseorang disamping saya memepetkan kakinya ke kaki saya. Jujur saja saya risih, karena risih kemudian saya memindah posisi kaki saya agar tidak menempel. Ternyata ia tempelkan lagi, saya pindah lagi. Hingga kemudian dia berkata, “Mas, seharusnya kaki mas merapat dengan kaki saya!” dia bilang begitu. Saat itu saya jawab sambil sedikit berbisik, “tapi tidak wajib, kan?!”. Dia pun terdiam mendengar jawaban saya.

Sebenarnya sejak tahun 2009, saya sering sekali melihat tatacara meluruskan shaf dalam shalat. Biasanya berupa gambar garis/grafis orang shalat berjamaah. Di gamabr itu digambarkan bahwa orang yang tidak merapatkan kaki dan pundaknya adalah salah. Walau tidak srek dengan gamabr itu, saya diam saja. Tapi lama kelamaan, orang-orang mengamininya sebagai kebenaran dan menuduh orang yang tidak melakukannya sebagai orang yang salah. Walau mengelus dada (yang rata), akhrinya saya berkeputusan untuk menulis artikel ini agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam rangka “niat baik” melaksanakan sunnah Rasul Allah SAW.

Ada tiga jenis hadis tentang kesempurnaan shalat. Pertama, hadist secara umum yang memerintahkan agar shaf lurus dan rapi atau rapat. Kedua, shaf para wanita. Ketiga, masalah menempelkan mata kaki dan pundak.

Hadist pertama, sebagaimana tertera dalam Sahih Bukhari, “shawwu shufufakum fa inna taswiyatas shufufi min tamamis shalah-luruskan barisan karena lurusnya shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat” di Sahih Muslim diakhiri dengan “min husnis shalah-bagian dari baiknya shalat”. Para ulama sepakat akan hal ini. karena dia sifatnya perintah tentang kesempurnaan shalat maka hukumnya adalah sunnah.

Hadis kedua, adalah tentang shaf wanita. Hadistnya adalah, “khayru sufufir rijali qudumahum wa syarruhum akhiruhum wa syarru sufufil mar’ati qudumahun wa khayruhun akhiruhun– sebaik sebaik shaf laki-laki adalah yang paling depan dan sejelek-jeleknya adalah di belakang dan seburuk-buruk shaf perempuan adalah yang paling depan dan yang paling baik adalah yang paling belakang.” Hadist ini, hari ini dipahami selayaknya di dunia Arab yang kental patriarkinya yaitu dengan meletakkan shaf perempuan di belakang laki-laki. Tapi sebenarnya pada jaman dahulu hadist ini dipahami di Indonesia jaman dahulu dan oleh sebagian umat Islam hari ini dengan ketidakharusan shaf perempuan ada di belakang laki-laki, tapi bisa juga berada di sampingnya sehingga di masjid-masjid di Nusantara masih sering kita temui shaf perempuan yang berada di samping laki-laki dan antara mereka hanya dibatasi safir atau penutup atau hijab.

Hadis ketiga dan hadist ini sering dipakai oleh sebagian muslim perkotaan di Indonesia terutama oleh mereka yang tidak punya basis ilmu pengetahuan agama Islam yang tidak mapan. Yaitu hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari yang berbunyi.

رأيتُ الرجلَ مِنّا يلزق كعبه بكعب صاحبه

Ra’aytu arrrajula minna yulzimu ka’bahu bi ka’bi shahibihi

“Saya melihat seorang di antara kami yang menempelkan mata kakinya dengan mata kaki sahabatnya”

Di hadist yang lain disebutkan

أقيموا صفوفكم,فانّي اراكم من وراء ظهري.وكان احدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه

Aqimuw shufufakum, fa inni arakum min wara’I dhahri. Wa kana ahaduna yulziqu manakibahu bi manakibi shahibihi wa qadamahu di qadamihi.

Rasul saat itu berkata” Tunaikanlah barisan kalian karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari belakang punggungku”. Saat itu adalah salah  seorang dari kami yang merapatkan pundaknya ke pundak sahabatnya dan kakinya ke kaki sahabatnya.

Jadi kedua hadist di atas sebenarnya menyatakan bahwa ada satu orang di antara sahabat Nabi Muhammad SAW yang menempelkan kaki dan pundaknya dan Nabi membiarkannya. Arti pengertian hadist ini ada dua, pertama, hanya satu orang sahabat yang melakukannya. Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana dengan sahabat yang lain. Jawabannya tentu tidak. Para sahabat hanya merapatkan biasa saja dalam shaf shalat mereka dan tidak menyentuhkan kaki dan pundaknya. Kedua, hadist di atas mengandung arti cerita atau khabar dan bukan perintah. Perintahnya adalah “shawwu shufufakum” dan bukan “ilzaqu manakibakum wa qudumakum!”. Perintahnya adalah meluruskan dan merapikan shaf shalat dan bukan menempelkan kaki dan pundak ketika shalat.

Lalu jika ada satu orang sahabat yang melakukan demikian (menempelkan kaki dan pundak) bukan berarti ada perintah atas hal tersebut. Sehingga hadist di atas menurut saya hanya menceritakan kebolehakannya melakukan hal tersebut dan bukan keharusan dari shalat berjamaah apalagi sampai mengganggu kekhusyukan jamaah shalat berjamaah yang lain. Wallahu a’lam.

Iklan
Komentar
  1. Moch. Zaenuri berkata:

    Terima kasih pencerahannya mas, bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s