3 Etnis dan Ekspresi Cinta

Posted: Maret 12, 2016 in Cangkruan, cinta, Trip
Tag:, , , ,
Saya termasuk orang yang beruntung menjalani masa muda di banyak tempat di Indonesia, negeri sejuta etnis. Melalui masa remaja di pesantren Pamekasan, dan kemudian mengabdikan satu tahun dari masa muda di sebuah desa di Sumenep, bermain-main di pantai Camplong Sampang di lain hari, melalui banyak hari di sebuah desa di Bangkalan, menjalani beberapa bulan di Bojonegoro, berkawan dengan etnis Cina di Surabaya, dan mengenal kecantikan Sunda.
Yang paling berkesan tentu masa muda di Madura dan Surabaya karena di kedua tempat ini masa mudaku banyak dilalui. Saat di Sumenep dahulu, saya mengenal ekspresi cinta dari kawan-kawan sekitar. Anak-anak muda di Madura pada tahun 2000-an kala itu ekspresi rasa cintanya banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu India, dangdut, dan tentu saja kesenian asli Madura. Lagu yang disukai cenderrung mendayu-dayu. Cinta saat itu bagi mereka seperti ekspresi yang sulit dinyatakan karena budaya Madura yang Islami tidak mengenal kata pacaran. Bagi kaum tua, itu sesuatu yang patut untuk dilakukan. Akan tetapi anak muda tetaplah anak muda, ekspresi cinta menyembul tak dapat mereka sembunyikan, lagu-lagu mendayu-dayu kiranya menjadi penanda bagaimana mereka mengekspresikan cinta dalam diri mereka. Mulai dari lirikan mendalam dan malu-malu hingga memendam rasa, menghela nafas dalam-dalam seakan ingin mengungkapkan rasa cinta mendalam. Karena itulah mungkin lagu-lagu mendayu khas Madura menjadi penanda rasa cinta mereka. Jika sedikit nekat, tukar-menukar surat saat itu dilakukan dengan perantara (belum jaman hape). Kira-kira begitulah gaya ekspresi rasa cinta anak-anak muda etnis Madura kala itu. Saling melirik, saling memberi tanda, dan bersurat ria biasanya terjadi. Biasanya hubungan akan menjadi lebih serius saat si pemuda meminang si gadis. Cerita perempuan atau pemuda Madura yang dinikahkan juga membuat eskpresi mendayu-dayu dalam lagu-lagu Madura itu semakin menjadi-jadi. Budaya dijodohkan di Madura sampai tahun 2000-an masih sangat kuat, tapi mulai memudar saat menginjak 2005 sejak banyak pemberontakan terhadap sistem perjodohan ini (termasuk saya yang dahulu memberontak terhadap perjodohan orang tua:D ).

Berpindah ke Bojonegoro, saya yang di Surabaya biasa mendengarkan lagu-lagu modern, saat di Tambakromo Bojonegoro harus bergaul dengan kawan-kawan yang menyukai lagu-lagu Jawa Timuran. Beberapa hari pertama mendengarkan terasa tersiksa tetapi suatu ketika saat lagu cinta Jawa itu diperdengarkan berbarengan dengan lewatnya seorang gadis cantik Bojonegoro saya baru menyadari keindahannya. Berbeda dengan Madura, di Bojonegoro ekspresi rasa cinta seakan diwarnai bau pohon Jati dan pepohonan lain yang mengelilingi Bojonegoro. Suara-suara alunan gending Jawa menambah indah eskpresi itu. Kebetulan saat itu ada seorangg kawan yang sedang jatuh cinta dan menceritakan bagaimana rasa yang dia alami dalam metafora yang ia tunjukkan. Sedikit lebih longar dari Madura, hubungan dua orang anak manusia lain di Bojonegoro agak lebih longgar. Walaupun etika-etika Islam itu masih terlihat sangat jelas, tapi para gadis di Bojonegoro lebih mempunyai pilihan di banding gadis Madura. Budaya perjodohan di Bojonegoro memang ada tapi tidak sekuat di Madura, usia perjodohan jika pun ada tidak se-prematur di Madura. Tari tayub menjadi pembeda yang jelas antara Madura dan Bojonegoro. Anak-anak muda di Bojonegoro masih banyak menyukai tari tayub disaat anak-anak muda Madura mulai asing dengan tari rondhing dan tari sandur, dua budaya khas Madura.
Berpindah ke etnis keturunan Cina di Surabaya. Budaya Cina langsung terlihat saat kita memasuki rumah-rumah orang Cina di Surabaya. Walau kebanyakan mereka sudah membaur dengan memakai Bahasa Jawa ngoko, tapi asesoris Cina mulai dari warna merah yang mesti ada di setiap rumah dalam berbagai bentuk, kalender imlek, tempat pemujaan bagi leluhur, dan sebagainya. Anak laki-laki dan perempuan di keluarga Cina Surabaya lebih diperlakukan egaliter dibanding dua etnis yang saya sebutkan diatas, dalam arti bahwa harapan para orang tua Cina Surabaya lebih tampak sama kepada anak-anak perempuan dan laki-laki mereka. Mungkin ini tidak menggambarkan etnis Cina di desa di Cina, tapi itulah adanya etnis Cina di Surabaya. Layaknya kelurga Madura, jalinan kekeluargaan mereka sangat erat, sehingga kadang perjodohan itu juga masih ada di keluarga Cina. Cuma berbeda alasannya dengan orang di Bojonegoro dan Madura, seringkali perjodohan di keluarga Cina lebih terasa motif ekonominya dibanding motif lainnya . Ini lah yang kemudian ditentang oleh seorang kawan, seorang perempuan dari etnis Cina di Surabaya Barat yang menentang perjodohan yang dilakukan keluarganya dan memilih lari dari rumah hingga akhirnya sang keluarga menyerah dan tak jadi menjodohkan sang anak dengan pilihan mereka.
Sulit sebenarnya saya menjelaskan tentang ekspresi cinta ketiga etnis tersebut, tapi bisa jadi bahwa tulisan ini menjadi prefensi awal untuk mengenal setidaknya tiga etnis di Jawa Timur melalui rasa, dan cinta adalah rasa. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s