Sangkar Emas Anak Pejabat

Posted: April 6, 2016 in Cangkruan, Motivasi, pemikiran
Tag:, ,

Sebagan besar orang-orang di Indonesia beranggapan bahwa menjadi anak pejabat itu enak. Fasilitas semua ada, ingin apa saja dituruti, dan hidup terpandang. Anggapan itu pulalah yang saya amini hingga suatu ketika kehidupan mengajarkanku hal lain. Setidaknya saya punya beberapa kawan anak para pejabat di Indonesia. Dan ternyata saya menemukan kenyataan lain. Menjadi anak pejabat itu tidak melulu enak. Ketidak enakan itu berasal dari kebebasan yang seringkali terengut saat kita menjadi anak pejabat. Saya beruntung dilahirkan sebagai anak orang biasa-biasa saja. Tak ada ekspekstasi berlebihan dari orang tua saya, kecuali hanya jadilah orang baik dan jagalah solatmu. Sudah itu saja. Selain itu mau saya jadi apa, mau saya kemana, mau saya lulus dengan menjadi nomor satu atau nomor buntut, bagi orang tua saya semua hal itu tidak jadi persoalan. Dengan kata lain, saya diberikan kemerdekaan untuk jadi apa saja tanpa fasilitasi dari orang tua karena memang orang tua saya tidak punya fasilitas berlebihan. Doa setiap hari dan malam dari orang tua untuk saya sudah lebih dari cukup bagi saya.

Berbeda dengan saya, sebutlah namanya Asep. Ia anak seorang pejabat karir di Indonesia. Ayahnya adalah seorang yang talented, berhasil menjadi yang terbaik di pemerintahan. Selalu mejadi kepala di setiap departemen tertentu di Indonesia. Di kalangan bawahannya, sang ayah dikenal disiplin, pintar mengatur anak buah, sedikit galak tapi tegas. Yang intinya dia adalah prototype ayah yang diinginkan oleh sebagian besar anak muda di Indonesia. Orang akan melihatnya dengan wow!. Ayah Asep kira-kira orangnya seperti itu. Tapi Asep, mengalami depresi besar semenjak ia kecil. Sang ayah beranggapan bahwa apa yang ia inginkan berarti Asep inginkan. Apa yang menurut dia baik berarti baik pula bagi Asep. Di sisi lain, Asep dilahirkan sebagai anak yang tipe belajarnya slowler alias agak dibawah rata-rata. Dia dituntut oleh ayahnya untuk menjadi nomor satu atau setidaknya menjadi seperti ayahnya. Setiap ekspekstasi ayahnya tidak tercapai, Bahasa kekerasan lah yang diambil. Pukulan, siraman air kamar mandi, dibentak, dimarahi, adalah keseharian yang tidak asing bagi Asep. Secara materi Asep jauh lebih punya dari saya. Tapi di batinnya ia menderita. Menderita karena ia tidak bisa menjadi dirinya sendiri, ia menderita karena tidak bisa menentukan langkahnya sendiri karena oleh keluarganya ia dianggap tidak mampu.

Asep tertekan. Ayah ibunya sama orang-orang sibuk, mulai dari kecil sampai ia dewasa ia hidup dan besar bersama pembantu. Si pembantu lebih tahu apa yang ia mau dibanding ayah dan ibunya sendiri. Parahnya orang tua Asep tidak menyadari kekeliruan ini. Mereka mengaggap bahwa mereka bekerja selama ini adalah buat Asep, mereka menganggap bahwa masalah ada pada Asep. Asep dianggap sebagai anak pembangkang. Memalukan orang tua dan tidak dapat dibanggakan. Asep hidup dengan kondisi psikologis seperti ini. Asep meronta tapi tidak tahu kemana ia harus meronta. Yang dimintanya hanya satu, beri ia kepercayaan. Biarlah ia dapat memutuskan jalannya sendiri.

Kasihan Asep. Ia hidup bagai di sangkar emas. Mewah tapi tak dapat melakukan apa-apa. Ingin ia berteriak dan berharap bahwa ia dilahirkan dari keluarga macam keluargaku yang tak memberi target apa-apa. Tapi seperti yang ku bilang pada Asep. Kita tak dapat memilih lahir dari keluarga seperti apa, tapi kita bisa memutuskan jadi seperti apa. Asep tergolong beruntung. Ia tidak jatuh pada obat-obatan terlarang. Ia hanya mengalami frustasi berkepenjangan dan pemberontakan dengan diam atau berlaku sebaliknya dari yang diinginkan keluarganya. Banyak kawan-kawan yang lain anak para pejabat dan pebisnis sukses, jatuh dalam pergaulan yang salah dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. mereka menganggap dengan beitu orang tua mereka dapa memperhatikan mereka.

Memang Asep harus berusaha keras untuk menunjukkan pada keluarganya bahwa ia bisa hidup mandiri dan tidak membutuhkan fasilitas keluarganya. Saya katakann ini sebagai bunuh diri kelas. Tapi tentu berat bagi Asep yang tidak pernah melakukan hal ini. Ia harus benar-benar menjadi Budha Gautama atau Bunda Teresa untuk melakukn hal ini. Semoga kelak Asep dapat menjadi dirinya sendiri dan juga Asep-Asep lain di seluruh penjuru muka bumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s