Rahasia Ibu yang Terungkap

Posted: Agustus 2, 2016 in Cangkruan, pemikiran, Renungan, Uncategorized
Tag:, ,

Dulu saat aku kecil, ibu suka sekali membelikan aku dan adik adikku ceker ayam, sayap ayam, dan kepala ayam. Sempat aku bertanya kepadanya, “kenapa ibu tidak beli paha ayam atau dada ayam?” Saat itu ibu bilang, “sama saja. Malah enak ceker ayam, sayap ayam, dam kepala ayam”. Saya pun terdiam. Masakan ibu memang enak. Ceker ayam biasanya dimasak dengan kuah sop, kalau sayap ayam kadang disop kadang digoreng, sedangkan kepala ayam sering kali digoreng. Bukan hanya 3 jenis bagian ayam tersebut yang biasa ibu masak. Ibu juga juga suka masak ati ayam dan jeroan ayam. Anehnya sekali lagi masakan ibu selalu sangat enak di lidahku dan lidah adik adikku. Sehingga aku dan adik-adikku tak ada keinginan makan di warung atau restoran. Selain ayam, ibu juga suka beli tulang sapi yang masih menempel dagingnya di tulang tulang tersebut. Di Australia, kami menyebutnya sebagai dog bone. Disebut demikian karena biasa digunakan untuk memberi makan anjing walau seringkali juga dimakan manusia. Saya suka sekali masakan tulang ibu. Rasanya sedap sekali. Selain masakan di atas, ibu juga suka membeli ikan pindang. Biasanya digoreng dan ditemani oleh kuah sayur asam atau sayur bening. Rasanya jangan ditanya, yummy…
Sempat saya bertanya dalam hati. Kenapa masakan masakan itu yang sering ibu masak. Bukankah ada udang, daging sapi, cumi, daging sapi yang empuk, paha ayam, dan lain sebagainya. Walau sempat bertanya dalam hati demikian, saya menikmati benar masakan ibu. Tak ada komplain dari diriku. Masakan ibu selalu saya suka sampai saya besar. Seringkali, saat lauk tinggal untuk satu porsi. Biasanya aku akan bertanya pada ibu, “ibu sudah makan?”. Biasanya ibu akan menjawab, “sudah. Kamu makan aja yang ada di dapur!”. Lalu aku pun memakannya dengan lahap. Tapi seiring jawaban yang seringkali sama, akhirnya saya curiga bahwa ibu belum makan. Apalagi biasanya ibu akan makan setalah aku dan adik adikku selesai makan, yang justru seringkali kami bersaudara menghabiskan lauk yang ada. Tapi ku lihat ibu makan seadanya. Tak jarang ia menggoreng telur ceplok untuk dimakannya.
Kami tiga bersaudara memang hidup dengan ibu. Ayah kami tak lagi timggal bersama kami semenjak ia menikah lagi. Seringkali uang pemberian ayah kurang dari cukup dan setahu saya, sejak aku lulus kuliah ayah tak lagi memberi uang pada ibu dan pula tidak padaku dan adik adikku. Ayah sudah punya keluarga sendiri dan kami menjadi asing dengan ayah. Bagi kami ibu adalah ibu dan sekaligus ayah kami. Aku tidak membenci ayah karena ibu tidak mengajarkan kebencian itu padaku. Cuma sebagai anak tertua, aku tak terima terhadap perlakuan ayah pada ibu! Walau ibu tak pernah mengatakannya padaku. Ibu hanya berkata, “Gusti Allah tidak tidur”. Begitu ungkap ibu. Tahun 2014, setelah setahun aku menikah, ibu meninggal. Selagi ibu hidup, aku hanya bisa memberi ibu sekedarnya. Seringkali jika dapat amplop karena diundang ceramah atau mengisi acara aku berikan kepada ibu tanpa aku buka terlebih dahulu. Sedang untuk diriku sendiri biasanya aku pasrah dan yakin pada Tuhan pemilik alam. Tapi tentu itu jauh dari kata cukup untuk disebut berbakti.

Rahasia itu Terungkap
Kini aku menjadi suami dan ayah bagi anak-anakku. Karena istriku tak terlalu berpengalaman dalam hal masak memasak, seringkali saya membantunya membeli lauk di pasar. Saat itu saya baru sadar atas pilihan ibuku dulu. Ternyata kenapa ibu pilih sayap ayam, ceker ayam, dan kepala ayam karena memang bagian itulah yang paling murah dibanding bagian yang lain. Kenapa ibu suka jeroan karena memang murah, kenapa ibu suka ikan pindamg karena memang itu adalah ikan termurah selain ikan asin. Saat itu tanpa terasa air mataku mengalir. Istriku bertanya, “Pean kenapa.”. Aku hanya menjawab, “tidak. Tak apa-apa”.
Rahasia ibu yang selama ia hidup tak terungkap setelah kepergiannya dan aku menjadi orang tua, kebenarannya malah aku dapati. Ibu tetap ingin aku dan adik adikku hidup seperti anak-anak lain, tetap makan ayam, tetapa makan daging, dam tetap makan layak. Benarlah aku dan saudara-saudaraku tumbuh sehat, tegap, dan ideal. Itu tak lain dari Cinta kasih ibu yang tiada berbatas.

Iklan
Komentar
  1. syaifur02 berkata:

    Serasa ikut sedih tapi kutahan setelah kubaca cerita yang hampir serupa dengan yang kualami, hanya saja bedanya saya nggak sampai ke Australi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s