Shock Culture 1: Toilet Duduk

Posted: Agustus 3, 2016 in Cangkruan, Sosial Kemasyarakatan, Uncategorized
Tag:, , ,

saya dibesarkan dalam lingkungan dengan toilet jongkok. Di rumah ibu di Surabaya, toilet yang kami gunakan adalah toilet duduk, di desaku, kami biasa berak di jamban, yaitu toilet jongkok tanpa air. Orang lain menyebutnya jumbleng. Untuk cebok kami para lelali harus memegang “burung” kami menuju tempat air. “Burung” kami harus kami pegang agar tidak terkena sarung yang kami pakai. Dalam keyakinan kami, jika “burung” kami yang basah karena selesai kencing menyentuh sarung, maka sarung tersebut akan menjadi najis dan tidak bisa digunakan salat.
Selain di dua tempat tersebut saya juga hidup lama di pesantren tradisional. Dahulu untuk berak, kami biasanya berak di sungai yang ada di timur pondok. Jika kemarau, kami harus berak di seberang sungai bahkan terkadang sampai mendekati bukit yang berjarak 300 meter dari sungai. Bil ikhtishar, saya dibesarkan dalam tradisi toilet jongkok dan cebok memakai air.

Lah, masalah dimulai saat saya ke Kanada dan sekarang tinggal di Australia. Madhab di sini toiletnya toilet duduk dan kering. Maksudnya tidak ada air untuk cebok, yang ada hanya tisu. Awal kali memakai toilet duduk ini jelas, saya tidak bisa berak. Terpaksalah saya kemudian berjongkok di atas toilet duduk tersebut dengan kekhawatiran dengan segala resikonya termasuk resiko jatuh karena toiletnya rusak atau patah, tapi apalah adaya jika tidak begitu, tentu saya tidak bisa berak. Sengaja di rumahku yang di Sidoarjo, saya buatkan toilet duduk dan toilet jongkok. Biasanya istriku memakai toilet duduk dan aku memilih toilet jongkok.

Belum lagi selesai dengan toilet duduk yang menghambat keluarnya eek tersebut. Di negara negara Barat kita juga dihadapkan dengan konsep toilet kering. Ceboknya pakai tisu. Lah, bagi saya cebok pakai tisu itu tidak terlalu bersih. Solusinya, biasanya setelah sebok pakai tisu untuk depan dan belakang, saya memilih pergi ke sower tempat mandi, mengambil gaya doggy dan membasuh anus dan “burung”ku.

sekarang memang relatif tidak ada masalah dengan toilet duduk, tapi jujur, butuh waktu berbulan-bulan untuk dapat berak dengan posisi demikian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s