Shock Culture 2: Makanan

Posted: Agustus 4, 2016 in Cangkruan, Sosial Kemasyarakatan, Uncategorized
Tag:,

orang Indonesia rasanya belum makan kalau belum makan nasi. Nah, itu jadi tantangan utama orang Indonesia saat tinggal di luar negeri, tak terkecuali saya. Cuma saya beruntung saat kecil dulu ibu berkata, “makan nasi itu di luar negeri jadi barang istimewa”. Ibu paham karena ia pernah tinggal di Mekkah selama 2 tahun. Saya tak pernah membayangkan jika ternyata nasi memang barang istimewa di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia. Akan tetapi nama terakhir disebut nasi lebih mudah didapat walau harganya 4 kali lipat dibanding harga di Indonesia. 

Selain pola makan nasi yang harus dikurangi dengan memakan makanan alternatif seperti rot, sayuran, dan buah-buahan. Ada dua hal lagi yang menjadi tantangan terutama bagi mereka yang Muslim yaitu Babi dan makanan halal. Saya menemukan dalam kondisi seperti ini Muslim Indonesia akan terbagi pada tiga sikap. Pertama, sangat berhati-hati sekali sampai menyelidiki apakah minyaknya mengandung babi, semua ingredient-nya, hingga cara penyembelihan hewan ternaknya. Hampir bisa dipastikan mereka yang berhaluan seperti ini akan kesulitan dan akan selalu was-was. Kelompok kedua, adalah mereka yang memperhatikan apakah sebuah makanan olahan atau daging mentah itu halal atau tidak alias disembelih sesuai dengan tuntunan Islam atau tidak. Nah, mereka ini biasanya akan lebih mudah mendapatkan makanan dan tidak terlalu was-was. Kelompok ketiga adalah mereka yang mengambil batas bawah, yang penting bukan hewan yang diharamkan seperti anjing dan babi. Orang-orang Eropa tidak doyan daging anjing tapi jika babi, mereka sangat doyan, seperti kita di Indonesia makan daging sapi. Kelompok ketiga ini lebih mudah lagi untuk survival di negeri-negeri non-Muslim.

Selain masalah pola makan dan halal haram, ada satu lagi yang sangat mengganggu lidah kita yaitu rasa. Enak bagi orang Eropa itu menurut kebanyakan orang Indonesia tidak enak termasuk bagi saya. Makanan mereka terlalu hambar jika dibandingkan makanan kita yang kaya dengan rempah-rempah. Ibaratnya, jika mereka ke Indonesia mereka akan menemukan surga makanan akan tetapi orang Indonesia ke luar negeri, makanan adalah salah satu tantangan yang harus ditaklukkan.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, saran saya ubah pola makan Anda yang awalnya nasi oriented menjadi multi oriented. Terutama ubahlah ke buah-buahan. Selain baik bagi tubuh Anda, percayalah rasa buah-buahan di luar negeri itu sama dengan di negara Indonesia. Rasa pisang ya begitu itu, rasa jeruk ya begitu itu, dan rasa-rasa yang lain. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s