Islam Turki= Islam NU: Mengenal Komunitas Islam Turki di Sydney

Posted: September 9, 2016 in Cangkruan, Sosial Kemasyarakatan, Trip
Tag:, , , ,

Jumat 9 September 2016 saya menginjakkan kaki di masjid Turki Auburn Callipoli Sydney. Melihat masjid dengan banyak kubahnya dari kejauhan, saya langsung bilang ke kawan berkebangsaan Inggris bernama Steward bahwa itu adalah masjid berasitektur Turki. Steward bilang dia tak tahu tapi mungkin saja. Saya bilang ke dia bahwa saya sangat yakin. Dan benarlah bahwa sesampai tibanya di sana, masjid itu adalah masjid Turki. Seorang berperawakan sedang dan berusia sekitar 50 tahun menghampiriku dan kawan-kawan, ia memperkenalkan diri dengan nama Orgun, rambutnya telah memutih dan berjenggot putih rapi. Dia telah tinggal di Australia sejak tahun 1980-an diajak oleh orang tuanya yang hijrah ke Australia. Orgun menjelaskan panjang lebar tentang keberadaan komunitas Islam di Sydney, bagaimana kesulitan mereka melaksanakan salat berjamaah pada awal kali kedatangannya di Australia, para imigran Turki kemudian sumbangan untuk membangun masjid, para perempuan Turki kemudian juga menyumbang banggel atau gelang-gelang emas mereka untuk pembangunan masjid. Si Orgun bahkan mempraktikkan dengan gerakan tangannya seakan melepas gelang kemudian ditaruh di sebuah tempat untuk dipakai sebagai pembangunan masjid. Dia juga bercerita bagaimana marmer dan batu pualam didatangkan langsung dari Turki.

Di tengah penjelasan panjang lebarnya, kebiasaan buruk saya muncul, tidak memperhatikan omongan dan lebih memilih memfoto-foto bangunan masjid. Husnia, gadis Afganistan yang menjadi guide dalam ekspedisi kali ini menegurku dan berharap aku mendengarkan penjelasan pak tua Orgun. Saya pun langsung meminta maaf pada perempuan mahasiswi doktoral tersebut, lalu menaruh kamera dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Hingga tiba saatnya si Orgun bertanya apakah ada pertanyaan buatnya, saya langsung bertanya, “Orgu, ente tadi kan bilang salat jenazah juga dilaksanakan di lingkungan masjid ini, Lah, menguburnya bagaimana? Mereka kumpulkah dengan kuburan non-Muslim atau ada pekuburan khusus?”. Orgun menjawab, “iya, ada pekuburan khusus buat orang Islam saat ini. Dulu sih kita masih berbaur dengan pekuburan lain tapi sekarang di Sydney kami sudah punya pekuburan tersendiri buat orang Islam yang meninggal”. Saya bertanya lagi, “Kalau orang meninggal komunitas Islam Turki ngadakan ritual pasca-kematian tidak?”. Orgun menjawab, “Iya, kami biasanya berkumpul di tempat orang yang meninggal. Biasanya sampai 7 hari, tapi kadang juga kami mengadakannya di 40 hari dan 100 hari”. Dalam hati saya berkata, “wah ini mirip dengan Islam di Indonesia wabil khusus tradisi orang NU”. Saya yang memang gak bisa diam, masih lanjut bertanya, “berapa biaya menguburkan orang di sini?”. Dia berkata bahwa menguburkan orang di Sydney mahal. Kalau yang murah dikremasi. Kalau di sini untuk dapat dikuburkan perlu 10.000 dollar (sekitar 100 juta)”. Secara reflek saya berkimg_0971ata, “Wow! Expensive!”. Si Orgun menyahuti, “Iya, mahal”. Secara berncanda saya berkata, “Wah saya tidak bisa mati di sini ini?!” Ia menjawab, “Kalau ada saudara Muslim yang meninggal dan tidak punya uang. Sedang kami tahu bahwa ia Muslim, kami akan sumbangan. Karena jika ia tidak dikuburkan maka kami umat Islam di sini semuanya akan berdosa”. Perkataan Orgun ini langsung mengingatkanku pada hadis 101 yang dulu saya pelajari di pesantren, bahwa hak orang Islam atas orang Islam lainnya itu ada enam, dan salah satu di antaranya adalah jika seorang Muslim meninggal maka ia berhak untuk dikuburkan. Orgun kemudian menambahkan biasanya kami akan ada semacam asuransi penguburan yang dibayar setiap tahun sekitar 500 atau 1000 (saya lupa angka persisnya). Jika ada salah satu yang meninggal maka semua keperluan pemakamannya akan ditanggung oleh masjid.

Selesai berbicara dengan Orgun, aku dan kawan-kawan diajak ngopi ke kedai kopi Turki oleh Husnia (Ngopi adalah salah satu hal yang paling aku sukai. Setiap bepergian ke tempat baru biasanya saya akan cari orang jualan kopi). Turkish Coffee tentu menjadi pilihanku karena aku tahu itulah kopi khas mereka. Di sana kami berbincang-bincang banyak tentag komunitas Islam di Sydney. Selesai ngopi saya dan kawan-kawan pergi salat Jum’at kembali ke masjid Turki tadi.img_1000

Memasuki masjid setelah berwudhu di tepat wudhu yang indah itu, aKu perhatikan lamat-lamat langit-langit masjid, di sana tertera tulisan Alllah, Muhammad, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali dalam tulisan Arab. Wah ini sama persis dengan masjid-masjid di Indonesia ini. Tapi ada dua nama lagi yang saya perhatikan tak ada di masjid-masjid di Indonesia yaitu nama Hasan dan Husain yang berjajar dengan nama-nama tadi.  Nama Hasan dan Husain ini menarik bagi saya karena di Indonesia tidak ada. Saya tanya ke Orgun, “di Turki memang biasa ditulis nama Hasan Husain ya?” Ia menjawab, “ Ya banyak yang menuliskan nama Hasan Husain sebagai tanda penghormatan kami”.img_0989

Ku dengar suara khutbah berkumandang, tapi setelah aku duduk aku baru tahu itu adalah pre-khutbah. Isinya juga ceramah Cuma dilakukan sambil duduk dan orang-orang duduk melingkar. Ketakjubanku berlanjut, saat aku tahu bahwa adzan-nya dua kali, sama dengan NU dan baca shalawatnya pakai sayyidina. Urutan khutbahnya juga sama dengan yang biasa warga NU kerjakan. Hal ini tentu saja membuatku merasa pulang kampung ke Indonesia walaupun isi khutbahnya saya tidak paham karena disampaikan dalam bahasa Turki (walaupun saya pernah ikut kursus bahasa Turki di UIN Jakarta). Perjalanan ke masjid Turki ini akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa Islam di Indonesia lebih mirip Islam di Turki dibanding Islam di Arab Saudi. Kemiripan itu adalah pada adanya tradisi-tradisi yang sama seperti adzan dua kali, baca sayyidina untuk menyebut Nabi Muhammad saw,  bacaan al Qur’an-nya juga mirip orang Indonesia begitu juga adzannya, ada tahlil setelah kematian, bermadhab, dan tradisi-tradisi lainnya. Bersyukurlah saya mengetahui bahwa Islam ala tradisional Islam Indonesia itu tidak hanya ada di Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya tapi juga di Turki, sebuah wilayah mayoritas Islam yang berada di perbatasan Eropa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s