Pengalaman Ber-wudhu: mulai dari menyelam di sungai sampai dengan memakai salju

Posted: September 22, 2016 in Fiqih, pemikiran, Tafsir, Trip
Tag:, , ,

Saya adalah penganut madhab Shafi’i, begitu pula keluarga saya dan rata-rata para guru saya. Penganut madhab Maliki mungkin hanya satu atau dua orang saja, termasuk penganut madhab Maliki yang berpengaruh terhadapku adalah Ustad Ihya’ Ulumuddin atau biasa dikenal dengan sebutan abi Ihya’ atau kiai Ihya’, pengasuh pesantren Pujon Malang yang dahulu rumahnya di dekat rumahku di Surabaya.

Sebagai penganut madhab Shafi’i, saya menjalani kehidupan ritual agama Islam (ibadah mahdlah) berdasarkan pada pendapat imam Shafi’i dan para ulama yang ikut pada manhaj berpikirnya. Saya menghabiskan masa kecil di tiga tempat; Surabaya, Bangkalan, dan Malang. Biasanya di ketiga tempat itu, saya berwudhu di kamar mandi memakai gayung. Di kamar mandi keluargaku sebagaimana kebanyakan kamar mandi orang-orang Indonesia, terdapat bak mandi berukuran besar, biasanya dibuat secara permanen dengan memakai batu bata dan semen tapi tak sedikit yang memakai bak plastik dan tong. Air sengaja dikumpulkan di bak mandi tersebut lalu cara mengambil airnya memakai gayung. Nah, saya biasanya menggunakan gayung ini untuk ber-wudhu.

Sewaktu orang tua mengirimku ke pesantren Bata-bata di sebuah desa di kabupaten Pamekasan, awal kali saya seperti masuk ke sebuah masa setengah abad yang lalu di mana orang-orang masih pakai sarung, lingkungannya cenderung tidak tertata, dan shock-nya saya harus tidur di lantai di sebuah kamar berukuran 3×4 yang diisi oleh sekitar 10 orang santri. Tapi shock culture itu berlalu dengan cepat, salah satu hal yang membuat saya betah di pesantren Bata-bata adalah sungai yang mengelilingi pesantren. Pada masa kami di Bata-bata, sungai adalah tempat favorit para santri melepas lelah. Sebelum dan sesudah sekolah kami akan pergi ke sungai untuk mandi atau bahkan berenang. Di sungai pula terkadang kami menangkap udang kecil untuk dimasak sebagai lauk. Akan tetapi saat itu di sungai pula banyak santri bang hajat, tapi itulah kehidupan kami di pesantren. Nah, pengalaman berwudhu yang paling mengasyikkan terjadi di sini (di pesantren Bata-bata), yaitu kita cukup menyelam mengusap wajah di dalam air dan anggota wudhu yang lain dan selesai. Tak perlu kita mengambil air gayung demi gayung cukup nyemplung dan selesai.

Pengalaman berlanjut saat saya tak lagi di pesantren. Pada suatu ketika saya dan kawan-kawan pergi ke Snowy Mountain (gunning bersalju) di Australia. Kebetulan saat ini saya tinggal di Canberra, sekitar 3 jam perjalanan menuju Snowy Mountain. Berangkat pada pagi hari, kami sampai di Snowy sekitar jam 10 pagi setelah menyewa peralatan gunung es di lereng gunung. Saat di salah satu puncak Snowy yang biasa dibuat selurutan, tibalah waktu duhur, dan saya celingak clinguk bingung tak tahu harus salat dimana dan ber-wudhu di mana. Akhirnya tibalah pada keputusan saya akan salat di atas salju dan saya akan berwudhu menggunakan salju. Pertanyaannya, saya wudhu atau tayamum. Jika berwudhu berarti saya harus mengusap semua anggota wudhu yang artinya saya harus melepas jaket tebal saya. Jelas ini dingin. Akan tetapi jika tayamum, es ini kan sama dengan air, sedang tayamum itu jika tidak ada air. Di tengah perdebatan batin seperti itu, saya memutuskan bahwa saya bertayamum dengan salju. Keuntungan memilih tayamum dengan salju dibanding berwudhu dengan salju adalah saya tak perlu melepas sepatu dan tak perlu mengusap rambut dengan salju. Cukup mengusap wajah dan kedua lengan tangan, selesai. Akhirnya saat itu saya salat dan bersujud di atas salju, dan dingin, keningku seperti tak mengalir darah. Karena keningku menyentuh langsung ke atas salju.

Hal yang menarik lain adalah seringkali kawan-kawan Muslim menggelar salat Jumat di Sport center kampus dan karena sport center tidak didesain untuk kegiatan keagamaan Islam maka ya toiletnya adalah toilet kering dan hanya ada wastafel. Saat kondisi seperti ini biasanya saya memilih untuk tidak membuka sepatu dan hanya mengusap sepatu dengan air luar dan selesai. Masalah perbedaan pandangan bahwa sepatu yang digunakan haruslah menutupi mata kaki dan lain sebagainya itu adalah tafsir. Biarken såja. Toh, setiap zaman mempunyai kebudayaan dan cara berpakaian yang berbeda-beda, termasuk dalam masalah bersepatu. wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s