Guru Kencing Berdiri (karena tidak bisa kencing jongkok)

Posted: September 29, 2016 in Fiqih, Kitabe Cak, pemikiran, Sosial Kemasyarakatan, Trip
Tag:, , , , , ,

Judul tulisan ini memang diilhami oleh kata bijak bestari di Indonesia “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Akan tetapi dalam tulisan kali ini saya hendak memakainya dalam kaitan saya sebagai pribadi dengan latar belakang seorang guru yang hidup di di kota-kota di Indonesia dan kota-kota lain di dunia, yang celakanya semua toilet kencingnya adalah didesain untuk kencing dengan berdiri. Curiculum vitae saya menyebutkan bahwa saya pernah menjadi guru karakter (di SAIMS), guru etika Islam (di SMP Jatiagung), dan guru (dosen) manajemen pendidikan Islam di STAI Al Fithrah.

Selain itu, sejak kecil, saya mengaji berbagai kitab kuning karangan ulama-ulama terdahulu yang hidup dengan kultur bersarung atau berjubah. Karya para ulama-ulama tersebut misalnya Imam Ghazali melalui Bidayatul Hidayah dan Ihya’ Ulumiddin-nya, Imam Shafi’i dengan Arrisalah dan al-Um-nya, Shaikh Nawawi dengan Sullam-nya, Sayyid Muhammad al-Maliki dengan Ibanat al-Ahkam-nya, dan berbagai ulama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena dari banyaknya. Mereka semua dibesarkan dan hidup dalam kultur sarung-an dan jubah-an. Mereka semuanya dalam kitab-kitab-nya mengajarkan jika kencing hendaklah jongkok, hendaklah bertumpu pada kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. Tak pernah satu pun saya temukan dalam kitab kuning yang mengajarkan dan menganjurkan kencing dengan cara berdiri. Tidak haram sih, Cuma makruh. Makruhnya itu karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat.

Lah, saya sendiri adalah santri yang dibesarkan dengan kultur sarungan, tiba-tiba harus hidup di kota Surabaya, Jakarta, Amsterdam, Halifax, Canberra, dan Sydney yang budayanya adalah memakai celana dan toilet untuk kencingnya adalah toilet berdiri. Berbeda dengan budaya bersarung yang jika untuk kencing harus diangkat sarungnya agar tidak terkena kencing maka desain celana memberikan kita keleluasaan kencing tanpa harus mencopot celana, hanya harus membuka resleting saja dan dekatkan dengan objek tempat kencing, selesia dan tutup resleting, selesai. Budaya celana sendiri adalah budaya yang berasal dari negeri-negeri empat musim. Karena di negeri-negeri ini tak mungkin kita memakai sarung. Bisa kedinginan paha, pantat, dan kemaluan kita. Akan tetapi berkat kolonialisme dan globalisme yang terus terjadi. Budaya ini diadopsi oleh negeri-negeri dengan musim tropis seperti Indonesia, India, Brazil, Afrika Selatan dan lain sebagainya.

Saat pepatah berkata “Guru kencing berdiri murid kencing berlari” bisa jadi setting sosial-nya adalah memakai sarung. Sebagai budaya bawaannya, kecing yang baik untuk kaum lelaki dan perempuan adalah dengan jongkok. Pada masa itu kecing berdiri dianggap sebagai sesuatu yag kurang sopan. Bahkan bagi orang yang bertanggung jawab secara moral, kencing berdiri adalah aib. Sehingga pesan yang ingin disampaikan kalau gurunya membuat aib maka muridnya akan membuat aib yang lebih besar. Hal ini mirip dalam kaidah orang pesantren Hasanatul Abrar Sayyi’atul Muqarrabin” yang artinya, “baik bagi awam buruknya para orang-orang terpilih.

Akan tetapi, perkembangan zaman berkata lain, benturan budaya yang terjadi saat kolonialisme terjadi di mana-mana terutama di negara-negara Asia, termasuk di Indonesia. Ditambah bahwa para bangsawan kerajaan yang kemudian menerima nilai-nilai yang dibawa oleh penjajah dan penjajah juga membawa budaya berbusana termasuk di antaranya adalah budaya bercelana. Budaya bercelana mulai dikenal di Indonesia. Umat Islam di Indonesia awal kalinya menolak. Bahkan pernah suatu kali Nahdlatul Ulama mengharamkan memakai celana karena dianggap sebagai menyerupai orang kafir. Akan tetapi pasca kolonialisme datanglah globalisme dimana sekat-sekat teritori sebuah bangsa semakin menipis. Sial-nya lagi, Barat mengambil posisi dominan sehingga budaya itu kemudian tersebar dengan cepat bersamaan dengan teknologi dan budaya yang juga tersebar di berbagai belahan bumi. Akhirnya mau tidak mau, kita dihadapkan pada budaya kota yang memang meniru Barat. Nah, orang seperti saya ternyata mempunyai takdir tersendiri karena bukan hanya tinggal di kota-kota di Asia tapi juga di kota-kota Barat itu sendiri. Dimana budaya bercelana tidak bisa dielakkan karena faktor musim. Jadilah kemudian saya juga harus beradaptasi dengan budaya mereka yaitu kencing berdiri.

Apakah persoalan selesai? Ternyata belum. Karena budaya Barat yang menggunakan konsep toilet kering maka tak ada air untuk membasuh kemaluan kita. Tentu, sebagai santri saya risih terhadap hal ini. Tidak mungkin bagi saya sehabis kencing kemudian saya memasukkan kemaluan yang masih basah dengan sisa air kencing ke dalam celana. Bisa-bisa najis lah celana saya dan saya tidak dapat memakainya untuk bersembahyang. Akan tetapi setelah beberapa hari berpikir, saya memutuskan bahwa saya akan kencing di toilet tempat buang air besar. Di sana walau menggunakan konsep toilet kering setidaknya ada tisu (toilet paper, demikian mereka menyebutnya) yang bisa saya gunakan layaknya batu dalam sistem membersihkan najis yang saya pelajari di kitab kuning. Jadilah hingga hari ini jika mau kencing terpaksa saya kencing berdiri di toilet duduk yang digunakan untuk berak lalu setelah selesai mengelapnya minimal 3 kali dengan tisu yang ada di samping kiri atau kanan toilet. Dan setelah itu abrulah saya tutup resleting saya dan kemudian membasuh tangan di wastafel. Setidaknya hanya inilah ynag bisa saya lakukan sebagai hamba Tuhan yang percaya tuntunan al-Qur’an dan tradisi Nabi. Wallahu a’lam.

Iklan
Komentar
  1. thony berkata:

    Kalau kencing dengan pantat bertumpu pada kedua tumit yang berjinjit dengan tumpuan jari kaki apakah itu termasuk jongkok & bagaimana hukumnya ? Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s